Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Antara Gendang dan Sinyal: Cara Seniman Gamelan Palembang Berkarya dengan Tri

Antara Gendang dan Sinyal: Cara Seniman Gamelan Palembang Berkarya dengan Tri
Niko Rahman Saputra, seniman gamelan dari Palembang. (Dok.Pribadi)
Intinya Sih
  • Niko Rahman Saputra, seniman gamelan asal Palembang, menekuni karawitan sejak SD dan kini aktif tampil bersama Sanggar Seni Pujakesuma di berbagai acara budaya dan hajatan.
  • Internet menjadi sarana penting bagi Niko untuk mencari referensi, mengembangkan aransemen, serta menjaga komunikasi kerja; ia setia menggunakan Tri sejak 2013 karena jaringan stabil dan nomor dikenal luas.
  • Meskipun pendapatan sebagai nayaga bersifat musiman, Niko tetap bertahan di dunia gamelan sambil berharap dukungan pemerintah meningkat agar seni tradisional ini terus lestari di Palembang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Palembang, IDN Times - Di tangan Niko Rahman Saputra (27), gendang, gong, dan kempul bukan sekadar alat musik, melainkan cara hidup yang ia tekuni sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. 

Kini, di tengah tantangan melestarikan seni gamelan di Palembang, smartphone dan koneksi internet turut menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian nayaga muda yang tergabung dalam Sanggar Seni Pujakesuma ini.

Belajar gamelan sejak SD, berawal dari ikut-ikutan nonton

Niko bersama rekan-rekannya tengah berlatih.
Niko bersama rekan-rekannya tengah berlatih. (Dok. Sanggar Seni Pujakesuma Palembang)

Niko pertama kali bersentuhan dengan dunia seni tradisional bukan karena paksaan, melainkan karena lingkungan tempatnya tumbuh. Warga Kelurahan Sukodadi, Kecamatan Sukarami, ini besar di tengah keluarga dan komunitas yang memang akrab dengan seni pertunjukan. 

Di kampung halamannya dulu, ada paguyuban jaranan atau kuda lumping dan karawitan yang kerap menggelar latihan dan pertunjukan.

"Awalnya seneng ikut nonton, terus akhirnya diajak belajar langsung, akhirnya ikut daripada nonton aja," kenang Niko.

Sejak kelas 4 SD pada 2009, Niko resmi menjadi bagian dari komunitas nayaga, dengan gong dan kempul sebagai alat musik pertama yang ia pelajari.

Setahun belajar, langsung diajak manggung sunatan

Niko bersama Sanggar Seni Pujakesuma saat nanggap di sebuah acara.
Niko bersama Sanggar Seni Pujakesuma saat nanggap di sebuah acara. (Dok. Sanggar Seni Pujakesuma Palembang)

Tidak butuh waktu lama bagi Niko untuk naik panggung sungguhan. Sekitar setahun setelah mulai belajar, tepatnya pada 2010, ia sudah diajak ikut tanggapan perdananya di kawasan KM 12 Palembang, mengisi acara sunatan. Pengalaman pertama itu menjadi pintu bagi Niko untuk semakin dalam menekuni dunia karawitan hingga hari ini.

Kini Niko menguasai berbagai alat musik gamelan, mulai dari gendang, gong, kempul, saron, hingga demung. Bersama Sanggar Seni Pujakesuma di Griya Damai Indah, Jalan Wijaya Kesuma Blok Z Nomor 4, Kenten Laut, Palembang, ia rutin tampil di berbagai jenis acara, mulai dari sunatan, pernikahan, peresmian toko, syukuran akikah, hingga festival budaya dan event pemerintah.

Untuk penampilan komplit pernikahan adat Jawa, satu rombongan bisa terdiri dari 15 hingga 20 orang, dengan formasi lengkap mencakup gendang, kempul, saron, demung, ketuk, sinden, kendang ketimpung, dan organ. Bila ditambah reog dan jaranan untuk rangkaian prosesi seperti arak-arakan temu manten, jumlah personel bisa mencapai 50 orang lebih.

Internet jadi jembatan antara tradisi dan kreasi baru

Ilustrasi membeli paket Tri di aplikasi Bima+.
Ilustrasi membeli paket Tri di aplikasi Bima+ (IDN Times/Hafidz Trijatnika)

Salah satu perubahan terbesar yang Niko rasakan dalam dunia seni gamelan adalah kemudahan mengakses referensi. Dulu, koreografi dan aransemen harus dibuat dari nol berdasarkan kemampuan masing-masing seniman. Sekarang, Niko bisa dengan cepat mencari lagu-lagu terbaru, ragam gerak tari terkini, hingga mengamati penampilan pelaku seni lain dari berbagai daerah sebagai inspirasi.

Lewat pendekatan ATM: amati, tiru, modifikasi, ditambah dengan koneksi internet yang cukup, Niko dapat mengikuti perkembangan seni gamelan dan tari dari berbagai penjuru tanpa harus keluar jauh dari Palembang. 

Kebutuhan internet ini pula yang mendorongnya mengonsumsi paket data yang cukup besar setiap bulannya, bukan hanya untuk referensi seni, tetapi juga untuk komunikasi dan hiburan sehari-hari.

Dari era SMS Rp1, Niko tetap setia dengan Tri

Sanggar Seni Pujakesuma Palembang
Sanggar Seni Pujakesuma Palembang (Dok. Pribadi)

Niko mulai menggunakan Tri sejak 2013, di masa ketika operator ini dikenal lewat promosi SMS dengan harga Rp1. Sejak saat itu, ia tidak pernah sekalipun berganti nomor. Alasannya sederhana namun kuat: nomor tersebut sudah dikenal banyak orang dan menjadi satu-satunya kontak yang digunakan untuk menerima tawaran manggung.

"Pakai Tri dari 2013. Sejak zaman SMS 1 rupiah, dak pernah ganti. Karena nomernya sudah banyak orang tahu, sayang kalau diganti," kata Niko.

Untuk kebutuhan sehari-hari, Niko mengaku menghabiskan paket data 150 GB seharga Rp150.000 per bulan, dan kuota itu nyaris selalu habis terpakai untuk berbagai aktivitas digital, dari mencari referensi gamelan, nonton hiburan, hingga berkomunikasi dengan klien dan rekan sesama seniman. 

Hal ini sejalan dengan keterangan resmi Tri. Menurut Agus Sulistio, EVP Head of Circle Sumatra IOH, aktivitas digital pelanggan di Palembang memang berpusat pada konsumsi konten, komunikasi, dan hiburan melalui platform seperti TikTok, YouTube, Instagram, serta WhatsApp dan Facebook.

Tri sendiri saat ini telah menjangkau hampir 100 persen populasi Kota Palembang, dengan dukungan jaringan Indosat 5G di sekitar 75 persen wilayah kota. 

Agus pun mengatakan, Tri berkomitmen untuk semakin dekat dengan keseharian masyarakat Palembang, termasuk pelaku UMKM dan komunitas kreatif lokal seperti para seniman, dengan memastikan layanan yang dihadirkan tetap relevan dengan kebutuhan digital mereka.

Bagi Niko, kesetiaan pada Tri bukan semata soal harga. Jaringan yang stabil dan bisa diandalkan menjadi faktor yang tak kalah penting, terutama saat ia harus cepat merespons tawaran manggung atau mengunduh referensi seni di tengah kesibukan persiapan pertunjukan.

Musim ramai dan sepi, gamelan di Palembang tetap menghidupi

Pertunjukan reog Sanggar Seni Pujakesuma Palembang.
Pertunjukan reog Sanggar Seni Pujakesuma Palembang. (Dok. Sanggar Seni Pujakesuma Palembang)

Sebagai nayaga, Niko sudah terbiasa dengan ritme kerja yang tidak selalu menentu. Permintaan manggung bersifat musiman: ramai menjelang Agustus dan perayaan 1 Suro, saat libur sekolah, maupun ketika musim pemilihan kepala daerah tiba. Pada periode puncak, sanggar bisa tampil tiga hingga empat kali dalam seminggu. Di luar musim ramai, setiap minggu setidaknya ada satu jadwal manggung.

Soal pendapatan, Niko mengakui acara kampanye adalah yang paling besar dari segi skala maupun bayaran. Jangkauan penampilannya pun tidak terbatas di Palembang saja, karena ia pernah membawa seninya hingga ke Lampung. Meski penuh ketidakpastian, Niko menegaskan profesi ini masih bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, Niko tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi seni gamelan di Palembang. Menurutnya, perhatian pemerintah terhadap pelestarian seni ini masih belum optimal, termasuk minimnya workshop pelatihan dan sulitnya mencari sponsor. Ia berharap ke depan ada lebih banyak dukungan nyata agar gamelan bisa terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Hafidz Trijatnika
EditorHafidz Trijatnika

Latest News Sumatera Selatan

See More