Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tren Hotspot Menurun, Pemerintah Waspadai Potensi Karhutla September
Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
  • Penanganan karhutla nasional menunjukkan tren membaik: titik panas turun di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Sumsel; Riau tercatat nihil hotspot, sementara Jambi satu titik.
  • Pemerintah menekankan lahan gambut tetap rentan mengeluarkan asap dan memicu api kembali, sehingga pendinginan serta pembasahan berulang terus dilakukan bersama berbagai pihak.
  • Hotspot satelit harus diverifikasi karena tidak selalu berarti kebakaran. Pemerintah menargetkan pemadaman sepanjang September dan memanfaatkan peluang hujan 1–6 September melalui operasi modifikasi cuaca.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Pemerintah menyebut penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara nasional mulai menunjukkan perkembangan positif. Meski jumlah hotspot atau titik panas di sejumlah wilayah mengalami penurunan, pemerintah menegaskan kondisi belum sepenuhnya aman sehingga upaya pemadaman dan pencegahan masih terus dilakukan.

"Secara nasional, saya ingin melaporkan kepada masyarakat Indonesia bahwa kita belum aman dari Karhutla, namun secara tren menurun, membaik," ungkap Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Palembang, Senin (31/8/2026).

1. Titik panas alami penurunan

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (IDN Times/Rangga Erfizal)

Raja menyebut, Kalimantan Tengah yang dua hari sebelumnya mencatat hingga 1.116 titik panas. Setelah dilakukan penanganan bersama, jumlah tersebut berhasil ditekan menjadi sekitar 300 titik panas.

Kondisi serupa terjadi di Kalimantan Barat. Jumlah titik panas yang sebelumnya mencapai sekitar 800 titik kini turun menjadi 400 titik. Sementara itu, Riau tercatat tidak memiliki hotspot dan Jambi hanya memiliki satu titik.

"Di Sumsel, misalnya, jumlah titik panas turun dari 39 menjadi 37 titik saja," jelasnya.

Namun, Raja Juli mengingatkan bahwa penurunan hotspot tidak berarti persoalan karhutla telah selesai. Terlebih, sebagian wilayah yang terbakar merupakan lahan gambut yang memiliki karakter berbeda dengan lahan mineral.

"Hotspot ini bukan berarti tidak ada asap karena nature-nya gambut, meski tidak ada api, masih ada asapnya," ujarnya.

2. Gambut rentan terbakar meski sudah dipadamkan

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (IDN Times/Rangga Erfizal)

Menurutnya, lahan gambut yang telah terbakar tetap harus mendapatkan pendinginan dan pembasahan secara intensif. Jika tidak dilakukan berulang, bara atau titik panas yang masih tersisa dapat kembali memicu kebakaran.

"Apabila tidak dilakukan pendinginan atau pembasahan intensif yang berkali-kali berpotensi menjadi fire spot kembali," katanya.

Karena itu, pemerintah memastikan penanganan karhutla tetap dilanjutkan dengan melibatkan berbagai pihak. Masyarakat juga diminta ikut berperan dalam mencegah munculnya titik kebakaran baru, terlebih Indonesia saat ini menghadapi kondisi El Nino yang cukup berat.

3. Hotspot tak selalu berarti kebakaran

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto (IDN Times/Rangga Erfizal)

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menjelaskan, data hotspot yang diperoleh melalui pemantauan satelit tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah titik kebakaran di lapangan.

"Titik hotspot dipotret dari satelit, hotspot ada 1.000. Belum tentu ada kebakaran di bawah. Kompor masak aja masuk dalam hotspot," kata Suharyanto.

Karena itu, setiap titik yang terpantau perlu diverifikasi untuk memastikan apakah benar terdapat kebakaran. Pemeriksaan dilakukan menggunakan berbagai sarana, termasuk helikopter dan drone.

Di Sumsel, misalnya, dari 37 hotspot dengan kekuatan tinggi yang terpantau sebelumnya, setelah dilakukan pengecekan, hanya ditemukan 11 fire spot.

"37 hotspot berkekuatan tinggi setelah dicek hanya ada 11 fire spot. 11 kebakaran itu harus dipadamkan," ujarnya.

4. September masih berpotensi kebakaran

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto (IDN Times/Rangga Erfizal)

Suharyanto mengatakan pemerintah menargetkan titik-titik kebakaran tersebut dapat segera dipadamkan. Selain pemadaman langsung di lapangan, pemerintah juga menyiapkan strategi untuk memanfaatkan peluang hujan pada awal September.

Berdasarkan informasi BMKG, terdapat peluang munculnya bibit hujan pada 1-6 September 2026. Kondisi tersebut akan dimanfaatkan pemerintah melalui operasi modifikasi cuaca (OMC).

"Target kami secepat mungkin, dari BMKG, di awal September ini 1-6 ada bibit hujan. Jadi memang yang paling efektif dan efisien adalah operasi OMC dan bisa turun hujan dengan deras," katanya.

Pemerintah pun memperkirakan penanganan karhutla masih akan menjadi pekerjaan yang harus dikejar sepanjang September, sembari menunggu kondisi cuaca yang lebih mendukung untuk membantu pemadaman.

"Di bulan September ini kita masih akan berjibaku untuk memadamkan," ujar Suharyanto.

Curated For You

Editorial Team

Related Article