Palembang, IDN Times - Kenaikan biaya operasional akibat sulitnya memperoleh bahan bakar minyak (BBM), membuat pengemudi speedboat di Dermaga Pasar 16 Ilir, Palembang mulai menyesuaikan tarif angkutan pelayaran di Sumsel. Keterbatasan pasokan membuat pengemudi angkutan sungai harus membeli BBM dari pengecer dengan harga yang jauh lebih tinggi dibanding harga normal.
"Mau gak mau terpaksa naik, karena harga BBM yang meningkat dan sulit didapat. Akhirnya kita pengemudi harus membeli secara eceran dan lebih mahal," ungkap salah satu sopir angkutan sungai, Danang, Sabtu (27/6/2026).
Pertalite Sulit Didapatkan, Tarif Angkutan Sungai di Palembang Naik

1. Kenaikan tarif dipengaruhi harga BBM non subsidi
Danang menyebutkan, keputusan menaikan tarif ini dilakukan tak lama setelah pemerintah menaikan BBM non subsidi. Kondisi tersebut berdampak pada kelangkaan pertalite yang menjadi salah satu bahan bakar kapal.
"Kalau saya beli BBM itu melalui pertamini yang dijual dipinggir sungai Musi. Sebelumnya Rp12 ribu per liter sekarang Rp15 ribu per liter," jelasnya.
2. Kenaikan harga dipengaruhi rute perjalanan
Danang menjelaskan, besaran tarif speedboat disesuaikan dengan jarak tempuh dan wilayah tujuan. Untuk rute menuju wilayah Banyuasin, seperti Jalur 1 hingga Jalur 30, Makarti Jaya, Karang Agung, Air Salek, dan Muara Telang, tarif perjalanan dipatok mulai Rp80 ribu.
Sementara perjalanan menuju wilayah Musi Banyuasin dan sekitarnya, termasuk Jalur Sembilang dan Muara Kelang, dikenakan tarif mulai Rp200 ribu. Adapun tarif untuk rute menuju wilayah pesisir Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) berkisar antara Rp250 ribu-Rp300 ribu.
"Semakin jauh rute yang ditempuh maka harganya juga lebih besar," jelasnya.
3. Pengemudi terpaksa beli eceran dengan harga Rp15 ribu per liter /
Sementara pengemudi speedboat rute Palembang–Banyuasin, Sakin, mengatakan tarif perjalanan ditentukan berdasarkan jarak tempuh menuju lokasi tujuan.
"Kalau ke Jalur 1 tarifnya Rp80 ribu. Kalau tujuannya lebih jauh, tentu tarifnya juga lebih mahal," ujarnya.
Menurut Sakin, persoalan utama bukan pada kenaikan harga resmi BBM bersubsidi, melainkan sulitnya memperoleh Pertalite dan Solar sehingga pengemudi terpaksa membeli BBM eceran dengan harga yang lebih tinggi.
"Kalau membeli menggunakan drum harus memiliki izin dan prosesnya cukup rumit. Mau tidak mau kami membeli BBM eceran dengan harga sekitar Rp15 ribu per liter," katanya.