Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengenal Peran Tunggu Tubang Pangan, Tradisi Suku Semende Sumsel

Mengenal Peran Tunggu Tubang Pangan, Tradisi Suku Semende Sumsel
Intinya Sih
  • Tunggu Tubang adalah jabatan anak perempuan tertua di Suku Semende, Sumatra Selatan
  • Peran Tunggu Tubang dalam menjaga, mengurus, dan mengelola peninggalan puyang
  • Konsep Tunggu Tubang sebagai model ketahanan pangan berkelanjutan dan pengetahuan lokal untuk mitigasi perubahan iklim
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Muara Enim, IDN Times - Tunggu Tubang adalah istilah yang disematkan untuk anak tertua perempuan di sana di Suku Semende, Muara Enim, Sumatra Selatan (Sumsel). Penyematan itu lantaran jabatan dan tanggung jawab anak perempuan tertua di Suku Semende, Muara Enim, Sumatra Selatan (Sumsel) menjadi ujung tombak masa depan keluarga. 

"Tunggu Tubang merupakan bagian penting sistem pemerintahan adat keluarga masyarakat Suku Semende dan sudah berjalan turun temurun," ujar Budayawan Sumsel Taufik Wijaya dalam keterangan rilis diterima, Sabtu (18/1/2024).

1. Tunggu Tubang berhak mengelola peninggalan atau legacy puyang (nenek moyang) Suku Semende

Peran Tunggu Tubang kata Taufik, bertanggung jawab menjaga, mengurus dan mengelola peninggalan atau legacy puyang (nenek moyang). Seperti melestarikan warisan rumah, sawah, dan tebat (tambak/kolam) yang tak boleh diperjual belikan.

"Selain Tunggu Tubang, dalam sistem pemerintahan Suku Semende, dikenal juga Payung Jurai atau Meraje yang merupakan turunan anak laki-laki tertua dalam Jurai (keluarga)," kata Taufik saat jadi pembicara Lokakarya Tunggu Tubang Tak Akan Tumbang: Kedaulatan Pangan Berkelanjutan yang digelar Komunitas Ghompok Kolektif.

Payung Jurai memiliki wewenang menegur, menasehati, atau memperingatkan Tunggu Tubang jika melakukan kesalahan atau melanggar ketentuan adat. Bahkan, Tunggu Tubang dapat diganti melalui keputusan atau rapat besar para Meraje.

"Dinamika peran Tunggu Tubang dan Payung Jurai inilah yang mungkin telah menciptakan keseimbangan sosial dan budaya masyararakat Suku Semende selama ratusan tahun,” jelas Taufik.

2. Tunggu Tubang bertanggung jawab menjaga lanskap pangan di Semende

Melalui sistem pemerintahan adat inilah kata Taufik menjadi bukti kecerdasan para puyang masyarakat Suku Semende. Merujuk peran jabatan Tunggu Tubang, konsep itu bermuara pada kedaulatan spirit mother earth pada sosok Tunggu Tubang.

Dari peran nyata Tunggu Tubang yang bertanggung jawab untuk menjaga lanskap pangan (hutan, mata air, sawah, hingga tebat) imbuhnya, bisa menjadi model atau strategi ketahanan pangan berkelanjutan. Apalagi diperkirakan, bumi ini akan mengalami puncak perubahan iklim pada Tahun 2030.

"Dengan populasi manusia yang semakin meningkat hingga 8.025 miliar jiwa dan ditambah suhu bumi sudah mencapai 1,3 derajat, maka kita perlu menggali berbagai pengetahuan lokal untuk mitigasi perubahan iklim," kata Taufik.

Makna Tunggu Tubang secara sederhana juga menjadi lumbung pengetahuan dan aktor penting dalam proses transformasi pengetahuan pengelolaan lanskap pangan arif kepada generasi muda Semende.

“Contoh kecilnya, mereka melakukan penanaman padi sekali setahun. Semuanya hampir tak pernah gagal (panen) dan diserang hama. Karena pada masa tanam, burung melakukan migrasi," jelas Taufik.

3. Tunggu Tubang berperan terhadap potensi kelestarian pangan berkelanjutan di Suku Semende

Konsep dan pengetahuan itulah katanya, yang bisa ditiru dari peran Tunggu Tubang. Pengetahuan yang diajarkan oleh adat pemerintah Suku Semende ini juga sudah diajarkan sejak kecil oleh orangtua para Tunggu Tubang.

Mereka memberi nalar dan pemahaman menjaga lahan persawahan dan kebun dengan kolerasi mempertahankan hutan dan sungai sebagai mitigasi perubahan iklim.

"Sebab, selama ini saya belum pernah mendengar di Semende krisis pangan, dan ini merupakan bukti pentingnya peran Tunggu Tubang yang membawa spirit ibu bumi dan mampu menghidupi semua makhluk hidup,” kata Taufik.

Tugas Tunggu Tubang yang besar, mendorong Komunitas Ghompok Kolektif mengadakan Lokakarya Tunggu Tubang Tak Akan Tumbang: Kedaulatan Pangan Berkelanjutan yang kemudian direncanakan untuk perilisan buku sekaligus film dokumenter terkait kehidupan Tunggu Tumbang Suku Semende.

Pembuatan buku dan film dokumenter ini nantinya akan didukung oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) melalui Dana Indonesiana dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tahun 2025

Ketua Ghompok Kolektif Muhammad Tohir, berharap garapan Tunggu Tubang Tak Akan Tumbang: Kedaulatan Pangan Berkelanjutan bisa segera teralisasi dan memberi manfaat setelah rilis.

4. Peran Tunggu Tubang mulai meluntur faktor memilih menuntut ilmu ke luar Suku Semende

Namun secara realita kata Akademisi Eni Murdiati dari UIN Raden Fatah Palembang, peran Tunggu Tubang saat ini perlahan memudar. Kondisi itu karena para Tunggu Tubang banyak ditemukan sudah tak berada di desa. Keadaan tersebut disebabkan Tunggu Tubang pergi keluar untuk menuntut ilmu.

Ahmad Rizki Prabu dari Ghompok Kolektif menambahkan, dalam rencana rilis film dokumenter sekaligus foto garapan Tunggu Tubang Tak Akan Tumbang: Kedaulatan Pangan Berkelanjutan, komunitas Ghompok Kolektif telah melakukan riset lapangan ke sejumlah desa di wilayah Semende.

"Ke Desa Muara Tenang, Desa Palak Tanah, dan Desa Kota Agung. Ada banyak pola adaptasi atau inovasi yang dilakukan oleh sejumlah Tunggu Tubang salah satunya adalah menamam sayuran, kacang-kacangan, atau kopi. Semua itu merupakan bentuk inovasi atau adaptasi Tunggu Tubang dalam mempertahankan ketahanan pangan keluarga,”jelas Rizki.

Kemudian lanjutnya, sejumlah Tunggu Tubang di Desa Muara Tenang juga ada yang menjadi guru, namun tetap mengurus kebun atau sawah mereka, dan hal ini jadi menarik ditelusuri lebih dalam, dengan harapan bisa menjadi pengetahuan publik.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Feny Maulia Agustin
Martin Tobing
Feny Maulia Agustin
EditorFeny Maulia Agustin
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More