Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pernyataan sikap Koalisi Pers Sumsel terkait kekerasan jurnalis dan mahasiswa di Palembang (Dok: Koalisi Pers Sumsel)
  • Koalisi Pers Sumsel akan menggelar aksi massa pada 11 November 2026 karena menilai penanganan kekerasan terhadap jurnalis dan mahasiswa di Palembang berjalan lamban.

  • Koalisi mengajukan enam tuntutan, termasuk transparansi pemeriksaan internal Polda Sumsel serta pemeriksaan terhadap organisasi masyarakat yang berada di lokasi pengeroyokan.

  • Koalisi menyoroti dugaan pemukulan oleh oknum polisi dan meminta Dewan Pers bersama KKJ membentuk tim investigasi independen untuk mengusut kasus tersebut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Koalisi Pers Sumatra Selatan (Sumsel) berencana menggelar aksi massa lanjutan pada 11 November 2026. Aksi itu menindaklanjuti lambannya proses penanganan kekerasan jurnalis dan mahasiswa di Palembang.

Kasus pengeroyokan saat tugas jurnalistik di depan Mapolda Sumsel dinilai tak serius ditangani aparat kepolisian. Koordinator Koalisi Pers Sumsel, Ardhy Fitriansyah menilai, belum ada keterbukaan yang cukup dari Kapolda Sumsel, Irjen Pol Rony Samtana untuk menyelesaikan kasus ini.

Dalam pernyataan sikapnya, koalisi pers menyatakan enam tuntutan diantaranya mengenai keterbukaan, hingga menuntut Dewan Pers untuk turun melakukan invesitigasi independen.

"Kami meinta tranparansi dalam pemeriksaan internal. Mengimbau dan meminta transparansi atas hasil pemeriksaan terhadap Dirintel Polda Sumsel," jelas Ardhy, Selasa (3/11/2026).

1. Minta hasil pemeriksaan ormas di TKP dibuka

Demonstrasi koalisi pers di Sumsel menyikapi kasus kekerasan terhadap dua jurnalis di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

Tak hanya transparansi pemeriksaan, koalis pers juga meminta para pihak yang terlibat di lokasi kejadian diperiksa. Tak hanya polisi, organisasi masyarakat yang diduga memicu bentrokan harus turut dimintai keterangan sehingga kasus pengeroyokan yang ada dapat jelas.

"Kami juga menuntut untuk dua organisasi yang berada di lokasi kejadian (TKP) saat peristiwa berlangsung," jelasnya.

2. Soroti keterlibatan diduga polisi

Pertemuan koalisi pers Sumsel dan Kompolnas RI (IDN Times/Rangga Erfizal)

Koalisi turut mempertanyakan keseriusan Polda Sumsel dalam menangani kasus pengeroyokan dua jurnalis dan mahasiswa di depan markas kepolisian tersebut.

Mereka menilai, penanganan perkara terkesan berlarut-larut karena belum adanya konferensi pers resmi terkait penangkapan para pelaku.

Selain itu, Koalisi Pers Sumsel juga mengkritik penanganan kasus pemukulan terhadap salah satu korban yang diduga dilakukan anggota kepolisian. Mereka menilai perkara tersebut perlu mendapat perhatian serius karena melibatkan anggota internal Polda Sumsel.

"Pengusutan kasus pemukulan terhadap salah satu korban yang dilakukan oleh oknum polisi juga dinilai tidak serius dilakukan oleh polisi," jelasnya.

3. Minta Dewan Pers bentuk tim investigasi independen

Demonstrasi koalisi pers di Sumsel menyikapi kasus kekerasan terhadap dua jurnalis di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

Koalisi Pers Sumsel juga meminta Dewan Pers dan Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) segera membentuk tim investigasi independen untuk mengusut kasus pemukulan terhadap dua jurnalis di Palembang.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan peristiwa yang menimpa para korban dapat ditelusuri secara independen.

Sebagai bentuk tindak lanjut atas tuntutan tersebut, Koalisi Pers Sumsel memastikan akan menggelar aksi massa pada 11 November 2026. Aksi itu rencananya melibatkan jurnalis dari berbagai daerah di Sumsel.

Curated For You

Editorial Team

Related Article