Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ini 3 Alasan Kualitas Udara Palembang Membaik Usai Hujan Menurut BMKG
Kondisi kota Palembang pasca hujan mengguyur kota Senin dini hari-pagi hari (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Hujan di Palembang membantu menurunkan PM2.5 melalui deposisi basah, saat butiran air menangkap partikel pencemar dan mengurangi debu yang kembali terangkat.

  • Arah serta kecepatan angin, bersama kondisi atmosfer, memengaruhi jalur asap karhutla dan menentukan apakah polutan terperangkap dekat permukaan atau menyebar.

  • PM2.5 turun dari 216,2 µg/m³ menjadi 36,1 µg/m³ dalam empat jam, tetapi perbaikan udara belum menandakan sumber asap karhutla di Sumsel hilang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Konsentrasi PM2.5 di Palembang menurun setelah hujan, dari 216,2 µg/m³ pada pukul 00.00 WIB menjadi 36,1 µg/m³ pada pukul 04.00 WIB.
  • Who?
    Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang melakukan pemantauan, sementara Kepala Stasiun Meteorologi SMB II Palembang Siswanto menjelaskan faktor meteorologis yang memengaruhi kondisi udara.
  • Where?
    Perubahan kualitas udara tercatat di Kota Palembang, berdasarkan pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang.
  • When?
    Penurunan konsentrasi PM2.5 terjadi pada dini hari hingga pagi Senin, 26 Oktober 2026, dengan data pemantauan hingga pukul 08.00 WIB.
  • Why?
    Hujan membantu menangkap partikel pencemar melalui deposisi basah, sementara arah dan kecepatan angin serta kondisi atmosfer memengaruhi penyebaran dan konsentrasi asap.
  • How?
    Butiran hujan membawa sebagian PM2.5 ke permukaan dan membasahi tanah agar debu tidak mudah terangkat. Angin dapat mengubah jalur asap, sedangkan atmosfer menentukan penyebarannya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Kualitas udara di Kota Palembang menunjukkan perbaikan pada Senin (26/10/2026) dini hari setelah hujan mengguyur wilayah tersebut. Konsentrasi partikel halus PM2.5 yang sempat mencapai 216,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada tengah malam turun menjadi 36,1 µg/m³ dalam empat jam berikutnya.

Berdasarkan pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang, konsentrasi PM2.5 terus menurun sejak pukul 01.00 WIB hingga pagi hari dengan kualitas udara berada dalam kategori sedang.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, menjelaskan bahwa hujan menjadi salah satu faktor yang dapat membantu mengurangi partikel pencemar di udara. Meski demikian, perubahan kualitas udara juga dipengaruhi oleh kondisi angin dan keadaan atmosfer.

Berikut tiga hal yang membantu menjelaskan perbaikan kualitas udara di Palembang.

1. Hujan membantu mengurangi partikel asap di udara

Kondisi kota Palembang pasca hujan mengguyur kota Senin dini hari-pagi hari (IDN Times/Rangga Erfizal)

Hujan tidak hanya membasahi jalanan dan lingkungan, tetapi juga dapat membantu mengurangi partikel pencemar yang melayang di udara. Butiran air hujan menangkap sebagian partikel tersebut, kemudian membawanya turun ke permukaan bumi. Siswanto menjelaskan bahwa proses tersebut dikenal sebagai deposisi basah atau wet deposition. Mekanisme ini dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel halus, termasuk PM2.5 yang berasal dari asap.

"Secara meteorologis, hujan berperan dalam proses wet deposition atau deposisi basah, yaitu ketika butiran air hujan menangkap dan membawa sebagian partikel pencemar di atmosfer, termasuk PM2.5, turun ke permukaan bumi," jelasnya.

Menurut dia, hujan juga membuat permukaan tanah menjadi basah sehingga mengurangi kemungkinan debu kembali terangkat ke atmosfer.

"Pengaruh hujan terhadap kualitas udara bergantung pada intensitas, durasi, dan luas wilayah yang diguyur hujan serta jumlah polutan yang masih berada di atmosfer," bebernya.

2. Pergerakan angin turut memengaruhi penyebaran asap

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto (Dok: BMKG)

Selain hujan, pergerakan angin juga berpengaruh terhadap konsentrasi polutan di Palembang. Perubahan arah dan kecepatan angin dapat mengubah jalur penyebaran asap dari wilayah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Siswanto menambahkan, bahwa perubahan arah dan kecepatan angin dapat mengubah pergerakan asap dari wilayah sumber kebakaran. Sementara itu, kondisi atmosfer turut menentukan apakah asap terperangkap di dekat permukaan atau menyebar ke lapisan udara yang lebih tinggi.

3. Konsentrasi PM2.5 turun, tetapi asap karhutla belum tentu hilang

Kondisi kota Palembang pasca hujan mengguyur kota Senin dini hari-pagi hari (IDN Times/Rangga Erfizal)

Data Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang menunjukkan konsentrasi PM2.5 turun dari 216,2 µg/m³ pada pukul 00.00 WIB menjadi 111,8 µg/m³ pada pukul 01.00 WIB.

Angkanya kembali turun menjadi 96,1 µg/m³ pada pukul 02.00 WIB, kemudian 47,6 µg/m³ pada pukul 03.00 WIB dan 36,1 µg/m³ pada pukul 04.00 WIB. Pada pukul 08.00 WIB, konsentrasi tercatat sebesar 38 µg/m³ dengan kualitas udara kategori sedang.

Siswanto mengingatkan bahwa perbaikan kualitas udara perlu dilihat bersama faktor meteorologi lainnya. Hujan dapat membantu menurunkan konsentrasi partikel, tetapi dampaknya bergantung pada kondisi cuaca dan banyaknya polutan yang masih berada di udara.

"Penurunan PM2.5 di Palembang pada dini hari ini paling tepat dipahami sebagai indikasi perbaikan kondisi atmosfer yang kemungkinan didukung oleh hujan dan dinamika angin," ungkapnya.

Karena itu, membaiknya kualitas udara belum berarti sumber asap karhutla di Sumsel telah hilang. Konsentrasi PM2.5 masih dapat berubah mengikuti perkembangan cuaca dan pergerakan asap. Masyarakat tetap perlu memantau kualitas udara, terutama jika kabut asap kembali terlihat atau bau asap tercium di lingkungan tempat tinggal.

Curated For You

Editorial Team

Related Article