Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hujan Guyur Muba, BMKG Sebut Hujan Terbentuk Secara Alami
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto (Dok: BMKG)
  • BMKG menyatakan hujan di Babat Toman dan Sanga Desa, Musi Banyuasin, pada 31 Agustus 2026 terbentuk secara alami tanpa pengaruh Operasi Modifikasi Cuaca.
  • Sumatra Selatan masih memasuki musim kemarau; peluang awan hujan dan hujan lokal tidak merata, sementara curah hujan September diperkirakan rendah hingga bawah normal.
  • Operasi Modifikasi Cuaca berlangsung 31 Agustus–4 September 2026, namun hujan lokal yang muncul tidak menandakan musim kemarau di Sumsel telah berakhir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Hujan mengguyur sejumlah wilayah di Sumatra Selatan (Sumsel) di tengah pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hujan tersebut diketahui terjadi di wilayah Babat Toman dan Sanga Desa, Musi Banyuasin, Senin (31/8/2026).

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengatakan hujan yang turun di sejumlah wilayah tersebut terjadi secara alami dan tidak dipengaruhi oleh pelaksanaan OMC.

"Beberapa wilayah diguyur hujan di Sumsel. Itu murni hujan terjadi tanpa ada pengaruh OMC," ungkap Siswanto kepada IDN Times.

1. Pertumbuhan awan hujan terjadi tidak merata

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto (Dok: BMKG)

Menurutnya, kemunculan hujan lokal tersebut tidak berarti seluruh wilayah Sumsel memiliki kondisi cuaca yang sama. Peluang pertumbuhan awan hujan pada awal September masih berbeda-beda di setiap daerah.

"Secara umum, peluang pertumbuhan awan hujan di Sumsel kemungkinan tidak merata di seluruh wilayah," ujarnya.

2. Sumsel masih berada pada fase kemarau

Ilustrasi kekeringan (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

Siswanto menjelaskan bahwa Sumsel masih berada dalam periode musim kemarau. Kondisi tersebut membuat hujan yang muncul cenderung terjadi pada wilayah atau titik tertentu, bukan merata di satu provinsi.

"Mengingat Sumsel masih berada dalam periode musim kemarau dan prediksi curah hujan September secara umum berada pada kategori rendah serta cenderung di bawah normal," katanya.

Menurutnya, pertumbuhan awan hujan juga sangat bergantung pada perkembangan kondisi atmosfer. Karena itu, kemunculan awan dan hujan dapat berubah dari waktu ke waktu.

"Perkembangan awan konvektif sangat dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer," ujarnya.

3. OMC dilanjutkan sampai 4 September

ilustrasi kekeringan (pexels.com/pixabay)

Sementara itu, OMC akan terus menindaklanjuti potensi awan hujan di Sumsel. Meski operasi tersebut sedang berjalan, tidak semua hujan yang terjadi selama periode tersebut dapat dikaitkan dengan OMC.

Siswanto mengatakan peluang pertumbuhan awan hujan pada periode 1–6 September tetap perlu dipantau. Sebab, potensi awan hujan masih terbuka meski sifatnya lokal dan sporadis.

"OMC akan dilaksanakan kembali pada periode 31 Agustus-4 September 2026," jelasnya.

Untuk kondisi cuaca September, Siswanto menyebut trennya kemungkinan tidak jauh berbeda dengan Agustus. Sumsel masih berada dalam periode kemarau dengan kondisi curah hujan yang diperkirakan rendah.

Hujan yang turun di Babat Toman maupun wilayah lainnya pun belum dapat dijadikan penanda bahwa musim kemarau di Sumsel telah berakhir.

Curated For You

Editorial Team

Related Article