Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Sawit Turun, Forum Sawit Sumsel Minta Petani Tetap Rawat Tanaman
ilustrasi perkebunan kelapa sawit (pexels.com/Pok Rie)
  • Harga sawit di Sumsel turun akibat stok melimpah dari Indonesia dan Malaysia, persaingan minyak nabati lain, serta pelemahan harga minyak dunia.
  • Forum Sawit Sumsel mengimbau petani tetap fokus menjaga produktivitas kebun dan tidak mengurangi perawatan meski harga sedang tertekan.
  • Petani didorong memperkuat kelembagaan melalui koperasi agar posisi tawar meningkat, sementara prospek industri sawit dinilai masih positif berkat permintaan biodiesel domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Penurunan harga kelapa sawit mulai dikeluhkan petani di sejumlah daerah di Sumatra Selatan (Sumsel). Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran petani terkait kemungkinan harga kembali turun dalam beberapa waktu ke depan.

Ketua Forum Sawit Sumsel, Rudi Arpian mengatakan, penurunan harga sawit saat dipengaruhi kondisi pasar global, bukan karena komoditas sawit kehilangan permintaan.

"Yang terjadi saat ini lebih kepada penyesuaian pasar setelah sebelumnya harga sawit berada di level tinggi," ungkap Rudi Arpian kepada IDN Times, Sabtu (30/5/2026).

1. Ini penyebab penurunan harga sawit

Perkebunan kelapa sawit yang berada di kawasan Ibukota Nusantara, Sabtu (28/3/2026). (IDN Times/Sri Wibisono)

Rudi mengungkapkan, hingga kini permintaan minyak sawit dunia masih cukup tinggi karena digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti minyak goreng, bahan makanan, kosmetik, sabun hingga bahan bakar nabati atau biodiesel. Namun, salah satu yang menyebabkan penurunan harga ialah peningkatan produksi sawit di Indonesia dan Malaysia sehingga pasokan di pasar global bertambah.

Selain itu, harga minyak dunia yang melemah ikut menekan harga crude palm oil (CPO). Kondisi ekonomi global yang belum stabil juga membuat sejumlah negara menahan pembelian atau mengurangi stok.

"Persaingan dengan minyak nabati lain seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari juga memengaruhi harga sawit dunia," jelasnya.

2. Minta petani tetap rawat sawit meski harga turun

ilustrasi kebun kelapa sawit (pexels.com/Tom Fisk)

Meski harga mengalami tekanan, Rudi meminta petani tidak panik dan tetap fokus menjaga produktivitas kebun. Menurutnya, langkah paling penting saat ini adalah memastikan kebun tetap dirawat dengan baik agar produksi tetap stabil.

Ia mengingatkan petani agar tidak sembarangan mengurangi pemupukan karena berdampak terhadap hasil produksi dalam jangka panjang. "Petani harus mulai lebih efisien dalam biaya operasional, tetapi jangan sampai mengorbankan perawatan kebun," bebernya.

3. Harga sawit fluktuatif di pasaran

ilustrasi orang memanen sawit (pinterest.com/alisya nadila putri)

Selain itu, ia mendorong petani memperkuat kelembagaan melalui koperasi atau kelompok tani agar posisi tawar dalam pemasaran tandan buah segar (TBS) menjadi lebih kuat.

Rudi menilai industri sawit masih memiliki prospek yang cukup baik. Permintaan biodiesel dalam negeri yang masih tinggi dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat menopang pasar sawit nasional.

"Harga sawit memang selalu mengalami siklus naik dan turun. Yang terpenting petani mampu bertahan, mengelola kebun dengan baik dan tidak mengambil keputusan karena kepanikan," jelasnya.

Editorial Team

Related Article