Harga Naik dan UHT Langka, Kedai Kopi di Palembang Kelimpungan

- Kelangkaan susu UHT dan fresh milk di Palembang membuat pelaku usaha kopi kesulitan mendapatkan bahan baku serta menghadapi kenaikan biaya operasional.
- Harga susu UHT naik dari kisaran Rp15–18 ribu menjadi Rp21–23 ribu per liter, memperberat beban produksi bagi kedai kopi lokal.
- Meski biaya meningkat, beberapa pemilik kedai memilih tidak menaikkan harga jual demi menjaga pelanggan dan kualitas rasa minuman.
Palembang, IDN Times - Kelangkaan susu UHT dan fresh milk yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai berdampak pada pelaku usaha kedai kopi di Palembang. Kondisi ini membuat biaya operasional meningkat dan pasokan bahan baku menjadi tidak menentu.
"Kelangkaan UHT ini sudah terjadi sejak dua bulan terakhir. Ini merata dirasakan oleh berbagai kedai kopi karena masalahnya sama, kelangkaan UHT," ungkap pemilik kedai Sangkar Coffee, Adyos Satrio Triwicaksono, kepada IDN Times, Rabu (8/4/2026).
1. Kebutuhan akan UHT meningkat dalam beberapa bulan terakhir

Adyos mengaku harus keliling mencari UHT dan fresh milk untuk kebutuhan kedai kopi miliknya. Berdasarkan informasi dari supplier dan agen, terbatasnya stok diduga karena banyak produk UHT dialihkan untuk kebutuhan tertentu.
"Dari supplier dan agen, katanya karena banyak UHT yang terserap untuk kebutuhan MBG," jelasnya.
2. Selain langka, harga susu UHT juga alami kenaikan

Dirinya menjelaskan, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha, terlebih situasi serupa baru pertama kali terjadi sejak dirinya membuka usaha pada 2019.
"Sejak kelangkaan ini, kami jadi lebih sulit. Ini juga baru pertama kali terjadi sejak saya buka coffee shop," jelasnya.
Tak hanya sulit didapat, harga susu UHT juga mengalami kenaikan cukup signifikan. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp15 ribu hingga Rp18 ribu per liter, kini melonjak menjadi Rp21 ribu hingga Rp23 ribu.
"Kita berharap harga ini dapat segera normal. Karena dengan kenaikan harga ini mempengaruhi usaha kita karena harga bahan baku juga mulai naik," jelasnya.
3. Sempat lakukan eksperimen

Adyos menambahkan, pihaknya belum menaikkan harga meski biaya produksi mengalami kenaikan. Hal tersebut dilakukan demi menjaga pelanggan, sekaligus tetap mempertahankan kualitas produk agar tidak mengecewakan konsumen.
"Kami sempat mencoba mengganti UHT dengan susu bubuk, tapi justru memengaruhi rasa dan tidak sesuai standar penyajian kami. Jadi sekarang tetap harus pakai UHT," bebernya.


















