Gen Z Manfaatkan Momen Harga Emas Turun, Beli Perhiasan Gramasi Rendah

- Gen Z di Palembang ramai membeli perhiasan emas bergramasi rendah setelah harga emas turun konsisten sepanjang Maret 2026.
- Pedagang mencatat lonjakan pembelian emas hingga 68 persen, didorong oleh kelebihan THR dan minat investasi masyarakat pasca Lebaran.
- Harga emas perhiasan turun dari sekitar Rp17 juta menjadi Rp15 juta per suku akibat dampak geopolitik dan perang global yang memengaruhi pasar komoditas.
Palembang, IDN Times - Pedagang Toko Emas di Palembang, Awi, mengatakan, semenjak harga emas mengalami penurunan dalam sepekan terakhir, sejumlah generasi muda terutama Gen Z memanfaatkan momen untuk membeli perhiasan.
"Dari tanggal 24 Maret, rata-rata pembeli anak muda banyak yang Gen Z. Mereka beli kebanyakan perhiasan, cincin, gelang dan antingan ukuran (gram) rendah, seperempat suku (1 suku setara 6,7 gram)," ujar pemilik Toko Perhiasan Makmur Jaya Palembang tersebut, Senin (30/3/2026).
1. Harga emas turun secara konsisten sepanjang Maret 2026

Selain emas perhiasan kata Awi, sebagian pembeli juga memilih logam mulia untuk investasi jangka panjang. Sebab penurunan harga emas merupakan momen yang langka. Apalagi sejak Januari 2026, harga emas mengalami kenaikan signifikan.
"Baru Maret ini yang konsisten turun (harga emas) dari awal tahun kan naik terus," kata dia.
2. Animo pembeli emas naik hingga 68 persen

Awi menyampaikan bahwa, melihat data pembeli sejak libur Lebaran 2026 berakhir, rata-rata animo konsumsi masyarakat bertambah lebih dari 60 persen. Apalagi katanya, tunjangan hari raya mendorong warga untuk sengaja melakukan investasi dengan mengalihkan uang ke emas.
"Sekitar 65-68 persen (peningkatan pembeli). Kebanyakan beli dari kelebihan THR," jelasnya.
3. Harga emas pada Februari 2026 sempat sentuh Rp17 jutaan sesuku

Sementara berdasarkan pantauan IDN Times, harga emas perhiasan saat ini berkisar di angka Rp15 jutaan per suku atau setara 6,7 gram. Harga tersebut mengalami penurunan drastis jika dibandingkan dengan awal Februari 2026 yang hampir menyentuh Rp17 juta sesuku.
Dikutip dari pernyataan resmi DIREKTUR PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, penyebab harga emas anjlok dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dan perang global yang masih terjadi antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak Brent bakal mempengaruhi transportasi penerbangan, sehingga berdampak pada inflasi. Namun jelasnya, walau harga emas terkoreksi, komoditas tersebut tetap akan menjadi aset lindung nilai atau safe haven.
Dia menyebutkan koreksi harga emas akan terus terjadi selama perang di Iran masih berlangsung. Selain itu, lonjakan harga komoditas membuat sejumlah bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi. Bahkan, ada kekhawatiran bank sentral global akan menaikkan suku bunga.


















