Festival Bidar Tradisional Semarakkan HUT RI di Sungai Musi, Catat Tanggalnya

- Festival Perahu Bidar Tradisional akan memeriahkan HUT ke-81 RI di Palembang pada 17 Agustus 2026 dan direkomendasikan sebagai agenda wisata Indonesia.
- Bidar telah digunakan sejak masa Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam sebagai patroli serta transportasi Sungai Musi, sebelum berkembang menjadi perlombaan kemerdekaan.
- Lomba bidar tercatat sejak 1933, memakai tiga jenis perahu, dan kini menjadi ikon budaya maritim serta daya tarik wisata Palembang.
Palembang, IDN Times - Festival Perahu Bidar Tradisional kembali menjadi salah satu agenda yang memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Palembang. Event budaya yang akan digelar pada 15–17 Agustus 2026 mendatang ini juga masuk dalam kalender event yang direkomendasikan bagi wisatawan untuk dikunjungi di Indonesia.
Di balik kemeriahannya, tradisi bidar menyimpan sejarah panjang dan sejumlah fakta menarik yang mungkin belum banyak diketahui. Berikut rangkuman IDN Times mengenai tradisi Bidar Tradisional di Palembang.
1. Berawal dari perahu yang digunakan sejak masa Sriwijaya

Perahu bidar dipercaya telah dikenal oleh masyarakat Palembang sejak masa Kerajaan Sriwijaya dan terus digunakan pada era Kesultanan Palembang Darussalam. Awalnya, bidar berfungsi sebagai perahu patroli sekaligus alat transportasi yang menyusuri Sungai Musi.
Seiring perkembangan zaman, fungsi tersebut berubah. Bidar kemudian lebih dikenal sebagai perahu perlombaan yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Palembang, terutama saat perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia.
2. Ada legenda Dayang Merindu di balik tradisinya

Selain memiliki nilai sejarah, tradisi bidar juga lekat dengan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.
Legenda tersebut mengisahkan perlombaan bidar antara dua pangeran Palembang dengan seorang pemuda dari wilayah Uluan untuk memperebutkan hati seorang gadis bernama Dayang Merindu. Pertandingan berlangsung sengit hingga kedua pemuda dikisahkan meninggal dunia karena kelelahan.
Dayang Merindu kemudian mengakhiri hidupnya lantaran tidak sanggup menanggung kesedihan. Meski demikian, kisah tersebut merupakan cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat dan berbeda dengan catatan sejarah mengenai perlombaan bidar.
3. Perlombaan bidar sudah dikenal sejak masa kolonial

Dikutip dari akun Instagram @Festivalperahubidar, catatan sejarah, perlombaan perahu di Sungai Musi telah digelar pada masa kolonial Belanda sebagai bagian dari perayaan di tepian sungai.
Sementara itu, dokumentasi mengenai perlombaan perahu bidar di Palembang tercatat pada 24 April 1933. Sejak saat itu, lomba bidar terus berkembang hingga menjadi agenda budaya yang rutin digelar setiap tahun menjelang peringatan HUT RI.
4. Terdapat tiga jenis perahu bidar

Perlombaan bidar saat ini menggunakan tiga jenis perahu dengan karakteristik berbeda, yakni bidar tradisional, bidar mini, dan bidar prestasi.
Bidar tradisional menjadi perahu terbesar dengan panjang sekitar 29 meter, lebar 1,5 meter, dan tinggi sekitar 80 sentimeter. Satu perahu diisi oleh 57 orang yang terdiri atas 55 pendayung, seorang juragan yang mengendalikan arah perahu, serta seorang tukang timba air.
Sementara itu, bidar mini memiliki panjang sekitar 7–9 meter dengan awak sebanyak 7 hingga 11 orang. Jenis ini umumnya digunakan untuk pembinaan atlet muda maupun perlombaan antarpelajar dan antarkomunitas.
Adapun bidar prestasi memiliki panjang sekitar 12,7 meter dengan 24 awak yang terdiri atas 22 pendayung, seorang juragan, dan seorang tukang timba air. Bobotnya yang lebih ringan membuat jenis ini lebih lincah sehingga sering digunakan pada kompetisi modern.
5. Menjadi ikon budaya sekaligus daya tarik wisata Palembang

Festival Bidar bukan hanya menjadi ajang olahraga tradisional, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Palembang yang kehidupannya sejak dahulu tidak terlepas dari Sungai Musi.
Setiap penyelenggaraan, festival ini menarik perhatian masyarakat lokal maupun wisatawan yang ingin menyaksikan langsung perlombaan perahu tradisional. Kehadirannya menjadi bukti bahwa budaya maritim Palembang tetap bertahan di tengah perkembangan zaman, sekaligus menjadi salah satu daya tarik wisata yang selalu mewarnai peringatan Hari Kemerdekaan di Kota Pempek.

















