Debit Sungai Turun, Sumsel Siaga Hadapi Kekeringan dan Karhutla

Pemerintah Sumsel mengantisipasi kekeringan setelah debit sejumlah sungai menurun, terutama untuk menjaga kebutuhan warga yang bergantung pada air sungai dan produktivitas intake PDAM.
BMKG memperkirakan hujan alami baru turun awal November 2026, sehingga kondisi kering berlanjut beberapa pekan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Pemerintah telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca 58 kali saat ada bibit awan, sambil menyiagakan Satgas Karhutla dan Dansatgas Udara selama 24 jam.
Palembang, IDN Times - Pemerintah Sumatra Selatan (Sumsel) mulai mengantisipasi dampak kekeringan yang terjadi di wilayah Sumsel beberapa waktu terakhir.
Gubernur Sumsel, Herman Deru mengatakan, penurunan debit sungai mulai terlihat di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena masih ada masyarakat yang mengandalkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Saya lihat sungai-sungai kita banyak sekali debitnya turun. Kalau PDAM, itu harus kita carikan solusi bagaimana intake-nya agar tetap produktif. Masyarakat yang hidupnya menggantungkan pada air sungai harus kita perhatikan," jelas Deru, Selasa (22/9/2026).
1. November baru diperkirakan akan hujan

Ilustrasi Hujan Deras. (IDN Times/Anjani Asra) Deru menyebut, kondisi tersebut berkaitan dengan periode kering yang masih berlangsung di Sumsel. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan alami diperkirakan baru kembali turun pada awal November 2026.
Artinya, pemerintah masih harus menghadapi kemungkinan berlangsungnya kondisi kering dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi lahan yang semakin kering juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko terjadinya karhutla.
"Menurut BMKG diperkirakan baru bisa mendapatkan hujan alami itu awal November," katanya.
2. OMC dilakukan saat bibit awan hujan ada

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI) Di tengah kondisi tersebut, pemerintah masih mengandalkan berbagai upaya untuk membantu menambah curah hujan, salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Deru menyebut OMC telah dilakukan sebanyak 58 kali. Pelaksanaannya menyesuaikan keberadaan bibit awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
"OMC sudah 58 kali kita lakukan. BNPB, saya sebagai gubernur menginstruksikan Satgas untuk melakukan OMC. Begitu ada informasi bibit hujan, tengah malam pun kita lakukan," katanya.
Menurutnya, pelaksanaan OMC merupakan bagian dari upaya pemerintah menghadapi kondisi kering sekaligus mengurangi risiko karhutla di Sumsel.
Ia mengatakan, operasi tersebut juga memiliki risiko bagi personel yang terlibat karena harus menjalankan misi menggunakan pesawat.
"Ini mempertaruhkan nyawa pilot dan kru untuk menebar garam sebagai pemancing awan berbibit hujan. Ini adalah bagian dari ikhtiar kita," jelasnya.
3. Satgas karhutla tetap siaga 24 jam

Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi Selain upaya mendatangkan hujan, kesiapsiagaan menghadapi kebakaran juga terus dilakukan. Herman Deru memastikan Dansatgas Udara telah diperintahkan untuk menjaga kesiapan selama 24 jam.
Langkah tersebut dilakukan agar laporan mengenai kebakaran dapat segera ditindaklanjuti sebelum api meluas.
"Kita tidak main-main. Tetapi ingat juga ada peran manusia, namun faktor alam sangat tinggi memengaruhi terkait hotspot dan fire spot," kata Deru.


















