Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sumsel Wacanakan Pesantren Bisa Pasok Bahan Pangan untuk MBG

Kota Palembang
2 min read
Sumsel Wacanakan Pesantren Bisa Pasok Bahan Pangan untuk MBG
Ilustrasi MBG. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
  • Sumatra Selatan mengusulkan pesantren memasok bahan pangan untuk program Makanan Bergizi Gratis melalui Gerakan Sumsel Mandiri Pangan.

  • Pesantren dinilai berpotensi meningkatkan pasokan pangan lewat dukungan pembiayaan, sarana, pelatihan, pendampingan, serta penyaluran komoditas ke SPPG dan offtaker.

  • Pemprov menekankan tata kelola, pendampingan, kemitraan, data sasaran, hilirisasi, dan pasar agar produksi masyarakat terserap serta bernilai tambah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times - Provinsi Sumatra Selatan berupaya memperkuat ketersediaan pangan dari berbagai sektor, termasuk dari sisi hulu dan hilir. Salah satu program yang sedang dicanangkan adalah Gerakan Sumatera Selatan Mandiri Pangan (GSMP).

Dalam proyek itu, diusulkan agar sejumlah industri potensial dapat berkontribusi terhadap pemenuhan pangan daerah dan peluang baru dalam keberhasilan GSMP adalah wacana pesantren yang bisa memasok bahan pangan untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

"Pesantren jadi salah satu langkah strategis untuk mendorong ekosistem produsen pangan," ujar Kepala BI Sumsel Bambang Pramono, Senin (21/9/2026).

  1. 1. Pesantren diusahakan menghasilkan komoditas yang bisa dipasok ke SPPG

    Potret Bambang Pramono, Kepala Bank Indonesia Sumatera Selatan, yang diabadikan oleh fotografer IDN Times.
    Kepala BI Sumsel Bambang Pramono (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

    Dia melihat bahwa pesantren memiliki potensi untuk memenuhi ketersediaan pangan daerah karena mempunyai sumber daya manusia dan lahan yang optimal. Pesantren, katanya, diharapkan bisa memperkuat kemandirian pangan sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan pasokan pangan.

    "Melalui dukungan pembiayaan, sarana dan prasarana, pelatihan, serta pendampingan, pesantren tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan mandiri, tapi juga menghasilkan komoditas yang dapat dipasok kepada SPPG dan offtaker lain sesuai potensi produksinya," jelas Bambang.

  2. 2. Pesantren juga diharapkan bisa membuka peluang ekonomi baru

    Ilustrasi bertema ekonomi sebagai visual pendukung pembahasan kondisi keuangan, bisnis, dan aktivitas pasar.
    ilustrasi ekonomi (freepik.com/wirestock)

    Lebih lanjut, dirinya menyampaikan, melalui pengembangan GSMP Goes to Pesantren, program tersebut dapat membuktikan dan berkontribusi terhadap implementasi Program Strategis Nasional Makan Bergizi Gratis (PSN-MBG). Sistemnya adalah dengan cara memperkuat rantai pasok pangan di sekitar SPPG.

    "Peningkatan produksi pesantren diharapkan dapat memperkuat ketersediaan pangan, mendukung pengendalian inflasi dari sisi pasokan, serta menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat," kata dia.

    Bambang menambahkan, selain GSMP dari pesantren, penerapan digitalisasi sistem pembayaran dan perluasan akses keuangan juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi transaksi, mempermudah akses pembiayaan, dan memperkuat pengelolaan usaha pesantren.

  3. 3. Penguatan mandiri pangan lahir dari ekosistem program keberlanjutan

    Potret Sekda Sumatera Selatan Edward Chandra dalam dokumentasi foto karya Rangga Erfizal untuk IDN Times.
    Sekda Sumsel Edward Chandra (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Sementara itu, kata Sekretaris Daerah Sumsel Edward Chandra, penguatan GSMP tidak semata-mata dilakukan melalui penambahan bantuan, tetapi harus disokong dan diperkuat lewat ekosistem yang mampu menopang keberlanjutan program.

    "Ada empat langkah utama yang jadi perhatian, yaitu memperkuat tata kelola, memperkuat pendampingan melalui PANDU-GSMP (Program Pendampingan Terpadu Gerakan Sumsel Mandiri Pangan), memperkuat kemitraan SINERGI GSMP serta memperkuat data sasaran," ujar Edward.

    Dia menambahkan, hal yang paling menentukan dalam keberlanjutan GSMP adalah hilirisasi dan pasar. Rantai GSMP harus dibangun secara utuh, mulai dari data, pendampingan, produksi, hilirisasi hingga pasar.

    "Harapannya, hasil produksi masyarakat tidak berhenti di tingkat produksi, tetapi memiliki kepastian untuk terserap dan memberikan nilai tambah,” jelasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More