Palembang, IDN Times - Kulit singkong itu awalnya hanya onggokan limbah dari pengolahan di Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Sumatera Selatan. Setelah umbinya dikupas, bagian yang kasar dan kecokelatan tersebut biasanya dibuang atau dimanfaatkan sebagai pakan hewan.
Namun, kulit yang mulanya dianggap tak berguna tersebut kini menempuh perjalanan berbeda. Di tangan Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi, limbah singkong dikeringkan, digiling menjadi bubuk, lalu diuji untuk menjadi salah satu bahan alat pemadam api ringan (APAR) skala rumah tangga. Dari limbah, kulit singkong terlebih dahulu dikumpulkan dan dicuci. Setelah itu, kulit dikeringkan di dalam oven selama beberapa jam sebelum digiling hingga berubah menjadi bubuk.
Bubuk inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam percobaan pembuatan APAR. Kandungan potasium sitrat pada bubuk kulit singkong dicampurkan dengan dry chemical powder. Bukan menjadi makanan, melainkan menjadi bahan utama untuk pengembangan APAR untuk skala rumah tangga.
Inovasi tersebut kini dikembangkan oleh Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang bersama Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jambi (Unja). Gagasannya bermula pada 2025 ketika mereka mencari cara agar pengolahan singkong tidak hanya menghasilkan produk pangan, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan.
"Fokus kami di Jambi Merang ini, selain ekonomi masyarakat, juga ke lingkungan. Ternyata selama ini kulit singkong belum dikelola dengan baik, cuma dibuang atau jadi pakan hewan," kata CDO Pertamina Jambi Merang, Cut Mutia.
Dari persoalan limbah tersebut, muncul gagasan untuk mencoba memanfaatkan kulit singkong dalam pengembangan bahan pemadam api.
