Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi banjir di wilayah perkotaan, dampak dari perubahan pola hujan
ilustrasi banjir di wilayah perkotaan, dampak dari perubahan pola hujan (pexels.com/Dibakar Roy)

Intinya sih...

  • Banjir melanda 6 kecamatan di OKI, termasuk Air Sugihan, Lempuing, dan Pedamaran.

  • Masyarakat diminta waspada terhadap potensi banjir susulan dan puncak musim penghujan Januari-Februari 2026.

  • Pihak berwenang akan melakukan perbaikan pintu air yang rusak serta normalisasi sungai untuk mengatasi banjir jangka menengah dan panjang.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ogan Komering Ilir, IDN Times - Banjir yang melanda wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) kian meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat ada enam kecamatan yang terendam seperti, Air Sugihan, Lempuing, Lempuing Jaya, Mesuji, Kayu Agung dan Pedamaran.

"Khusus di Kayu Agung banjir terjadi di kelurahan Jua-jua dan Kedaton. Sedangkan di Pedamaran banjir terjadi di enam desa, yakni Menang Raya, Cinta Jaya, Pedamaran II, Pedamaran III, Pedamaran IV, dan Pedamaran V," ungkap Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, Minggu (18/1/2026).

1. Masyarakat diimbau waspada saat puncak musim hujan

ilustrasi banjir (pexels.com/Dibakar Roy)

Menurut Sudirman, masyarakat harus waspada mengingat potensi banjir susulan yang dapat terjadi dan meluas ke beberapa daerah. Kewaspadaan ini dilakukan lantaran saat ini wilayah OKI merupakan daerah dengan potensi bencana hidrometereologi.

"Saat ini masih puncak penghujan, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi bencana yang terjadi," jelas dia.

2. Bupati OKI minta masyarakat tetap waspada

Sekretaris DPD Demokrat Sumsel, Muchendi Mahzareki (Dok: istimewa)

Senada, Bupati OKI Muchendi Mahzareki mengingatkan masyarakat untuk waspada terkait potensi puncak musim penghujan yang akan terjadi sepanjang Januari-Februari 2026. Muchendi menilai, kondisi sungai dan rawa di OKI berpotensi meluap dan menyebabkan banjir.

“Meski air mulai surut, tetap waspada. Antisipasi dan mitigasi harus dilakukan bersama-sama. Gotong royong, warga bantu warga, dan kita berdoa agar cuaca ekstrem ini segera normal kembali,” jelas dia.

3. Pendangkalan sungai dan kerusakan pintu air juga jadi penyebab banjir

Sekretaris DPD Demokrat Sumsel, Muchendi Mahzareki (Dok: istimewa)

Muchendi menyebutkan, pihaknya telah meninjau langsung kerusakan pintu air serta pendangkalan sungai yang memperparah genangan. Tercatat, empat pintu air mengalami kemacetan sehingga tidak dapat mengalirkan air ke sungai. Usai pengecekan lapangan, Bupati Muchendi memastikan perbaikan akan segera dilakukan terhadap empat titik pintu air yang rusak tersebut.

"Tadi kita cek bersama, ada empat titik yang perlu diperbaiki. Untuk jalur 27 dan 29 akan ditangani PT BAP, sisanya oleh pemda," jelas dia.

Selain perbaikan pintu air, Muchendi menegaskan normalisasi kanal dan sungai menjadi solusi jangka menengah dan panjang untuk mengatasi persoalan banjir.

"Kita perlu normalisasi sungai. Di sini ada perusahaan, dan ini juga akan kita laporkan ke Balai Besar serta pihak terkait. Penanganan banjir harus dilakukan secara kolaboratif, tidak hanya mengandalkan APBD," jelas dia.

Editorial Team