Sanggar Seni Pujakesuma Palembang (Dok. Pribadi)
Niko mulai menggunakan Tri sejak 2013, di masa ketika operator ini dikenal lewat promosi SMS dengan harga Rp1. Sejak saat itu, ia tidak pernah sekalipun berganti nomor. Alasannya sederhana namun kuat: nomor tersebut sudah dikenal banyak orang dan menjadi satu-satunya kontak yang digunakan untuk menerima tawaran manggung.
"Pakai Tri dari 2013. Sejak zaman SMS 1 rupiah, dak pernah ganti. Karena nomernya sudah banyak orang tahu, sayang kalau diganti," kata Niko.
Untuk kebutuhan sehari-hari, Niko mengaku menghabiskan paket data 150 GB seharga Rp150.000 per bulan, dan kuota itu nyaris selalu habis terpakai untuk berbagai aktivitas digital, dari mencari referensi gamelan, nonton hiburan, hingga berkomunikasi dengan klien dan rekan sesama seniman.
Hal ini sejalan dengan keterangan resmi Tri. Menurut Agus Sulistio, EVP Head of Circle Sumatra IOH, aktivitas digital pelanggan di Palembang memang berpusat pada konsumsi konten, komunikasi, dan hiburan melalui platform seperti TikTok, YouTube, Instagram, serta WhatsApp dan Facebook.
Tri sendiri saat ini telah menjangkau hampir 100 persen populasi Kota Palembang, dengan dukungan jaringan Indosat 5G di sekitar 75 persen wilayah kota.
Agus pun mengatakan, Tri berkomitmen untuk semakin dekat dengan keseharian masyarakat Palembang, termasuk pelaku UMKM dan komunitas kreatif lokal seperti para seniman, dengan memastikan layanan yang dihadirkan tetap relevan dengan kebutuhan digital mereka.
Bagi Niko, kesetiaan pada Tri bukan semata soal harga. Jaringan yang stabil dan bisa diandalkan menjadi faktor yang tak kalah penting, terutama saat ia harus cepat merespons tawaran manggung atau mengunduh referensi seni di tengah kesibukan persiapan pertunjukan.