Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi merantau di kota metropolitan (pexels.com/code mnml)
  • Merantau bagi masyarakat Minangkabau menjadi proses pendewasaan dan pembuktian diri, terutama bagi laki-laki, agar kelak berguna serta dapat berkontribusi bagi kampung halaman.

  • Dorongan ekonomi dan pendidikan membuat banyak orang Minang pergi mencari penghidupan, memperbaiki taraf hidup keluarga, serta menimba ilmu di kota besar dan pusat pendidikan.

  • Sistem matrilineal, nilai keagamaan, sejarah konflik politik, dan kebutuhan aktualisasi diri turut membentuk tradisi merantau sebagai ikhtiar menghadapi keterbatasan serta ketidakpastian.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Tradisi merantau masyarakat Minangkabau didorong pembuktian diri, ekonomi, pendidikan, sistem matrilineal, keimanan, faktor politik dalam sejarah, dan pencarian identitas serta aktualisasi diri.
  • Who?
    Masyarakat Minangkabau, terutama laki-laki Minang, banyak merantau untuk mencari penghidupan, ilmu, pengalaman, dan kemandirian; perempuan Minang juga dapat merantau untuk memperluas aktualisasi diri.
  • Where?
    Perantauan berlangsung di wilayah lain, termasuk kota besar dan pusat pendidikan, di luar kampung halaman masyarakat Minangkabau.
  • When?
    Tradisi ini berlangsung dalam kehidupan masyarakat Minangkabau; migrasi terkait politik tercatat terjadi pada masa peristiwa PRRI.
  • Why?
    Merantau dilakukan untuk memperbaiki nasib, menuntut ilmu, membuktikan kemampuan, memenuhi kebutuhan keluarga, mencari keamanan saat konflik, serta menghadapi keterbatasan peran dan penguasaan harta pusaka.
  • How?
    Para perantau meninggalkan kampung untuk bekerja, merintis usaha, belajar, atau mencari keamanan. Sebagian yang berhasil kembali membangun kampung atau mengajak sanak saudara merintis kehidupan baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Suku Minangkabau sangat lekat dengan tradisi merantau. Istilah merantau sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dimaknai sebagai kegiatan pergi ke negeri atau wilayah lain untuk mencari penghidupan, ilmu, dan pengalaman baru.

Bukan sekadar berpindah tempat, bagi orang Minang, merantau adalah sebuah proses pendewasaan diri agar kelak berguna bagi kampung halaman. Mengutip pantun adat yang populer: "Karantau bujang dahulu, di rumah paguno balun", seorang pemuda dianggap belum berguna jika hanya tinggal di kampung dan belum merantau menguji nasib.

Berikut adalah 7 alasan mengapa banyak orang Minang merantau. Simak sampai selesai, ya!

1. Alasan pribadi untuk pembuktian diri

ilustrasi merantau (freepik.com/freepik)

Seorang laki-laki Minangkabau memiliki dorongan kuat untuk merantau demi membuktikan kapasitas dirinya. Sebelum merantau dan menguji peruntungan di tanah orang, mereka merasa belum sepenuhnya menjadi sosok yang paguno (berguna) di kampung halaman.

Setelah sukses di perantauan, biasanya mereka akan kembali untuk membangun kampung atau bahkan membawa sanak saudara untuk merintis kesuksesan bersama.

2. Alasan ekonomi dan perbaikan nasib

ilustrasi merantau (pexels.com/Kenneth Surillo)

Faktor ekonomi menjadi salah satu faktor kenapa tradisi merantau lekat dengan suku Minang. Keinginan kuat untuk mengubah nasib serta memperbaiki taraf hidup keluarga besar di kampung halaman mendorong banyak pemuda Minang untuk berani mengambil risiko.

Banyak perantau sukses yang dulunya memulai langkah dari bawah sebagai pekerja atau perintis, bermodal ketekunan hingga akhirnya berhasil membangun kehidupan yang mapan.

3. Alasan pendidikan dan pencarian ilmu

ilustrasi merantau (pexels.com/Sharefaith)

Menuntut ilmu adalah sebuah keharusan dalam falsafah hidup masyarakat Minangkabau untuk menjadi pribadi yang berakal dan bermartabat. Adagium lokal menyebutkan “nak pandai rajin baguru” (jika ingin pandai, rajin-rajinlah berguru).

Kehausan akan pengetahuan inilah yang membuat banyak masyarakat Minang merantau ke berbagai pusat pendidikan dan kota besar demi menimba ilmu setinggi-tingginya.

4. Alasan budaya dan sistem matrilineal

ilustrasi merantau (pexels.com/veerasak Piyawatanakul)

Sistem kekerabatan matrilineal di Minangkabau mengatur bahwa hak penguasaan harta pusaka dipegang oleh pihak perempuan. Akibatnya, kaum laki-laki tidak memiliki hak milik atas harta pusaka tersebut.

Kondisi ini menuntut para pria untuk mandiri, keluar dari zona nyaman, dan merantau agar mampu menyediakan sandang, pangan, serta papan bagi keluarga kecil mereka kelak.

5. Alasan religi dan keimanan

ilustrasi merantau (pexels.com/Alexandr Podvalny)

Dari sudut pandang ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas masyarakat Minang, merantau juga sejalan dengan anjuran agama untuk mencari karunia Allah SWT di muka bumi.

Sebagaimana pesan untuk menuntut ilmu serta ayat Alquran yang mendorong manusia untuk menjadikan bumi sebagai lapangan usaha, merantau dipandang sebagai bentuk ikhtiar yang bernilai ibadah.

6. Alasan politik dalam sejarah

ilustrasi merantau (pexels.com/Анна Чулкова)

Dalam catatan sejarah, faktor politik juga pernah menjadi pemicu migrasi besar-besaran masyarakat Minangkabau. Contoh nyata terjadi pada masa peristiwa PRRI, di mana sebagian masyarakat memilih meninggalkan kampung halaman demi mencari keamanan dan menghindari konflik politik yang memanas pada masa itu.

7. Perspektif Psikologis

ilustrasi merantau (pexels.com/Danielle Reese)

Ditinjau dari ilmu psikologi, khususnya teori eksistensialisme Rollo May, tradisi merantau dapat dibaca sebagai respons atas kecemasan eksistensial manusia. Bagi laki-laki Minang, keterbatasan penguasaan harta akibat sistem matrilineal dapat memicu kecemasan akan peran sosial mereka. Sementara bagi perempuan Minang, peran domestik yang tradisional terkadang membatasi ruang aktualisasi diri.

Melalui perantauan, baik laki-laki maupun perempuan Minangkabau berani menghadapi ketidakpastian demi meruntuhkan batasan tersebut. Merantau bukan lagi sesuatu yang dihindari, melainkan sebuah bentuk keberanian untuk bertumbuh, merengkuh kebebasan, serta menemukan makna dan identitas diri yang seutuhnya.

Itulah beberapa alasan kenapa orang Minang banyak yang merantau dan meninggalkan kampung halamannya. Bagaimana menurutmu?

Curated For You

Editorial Team

Related Article