Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
20 Ribu Orang Teridentifikasi Gabung Kelompok LGBT di Sumsel
Kantor Gubernur Sumsel (IDN TImes/Rangga Erfizal)
  • Dinas PPPA Sumsel memetakan hampir 20 ribu orang tergabung dalam kelompok LGBT melalui grup daring, dan menilai angka sebenarnya bisa lebih besar.
  • Pemerintah fokus memperkuat pencegahan lewat edukasi dan pendampingan bagi anak, remaja, serta usia produktif dengan pendekatan kesehatan, psikologis, dan keagamaan.
  • Masyarakat diimbau tidak memberi stigma negatif karena pengucilan membuat mereka sulit dijangkau; keluarga diminta jadi garda terdepan lewat komunikasi dan dukungan mental.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Sumatra Selatan mengungkapkan jumlah orang yang masuk dalam lingkar kelompok LGBT di provinsi itu diperkirakan mencapai hampir 20 ribu orang. Jumlah itu diperoleh pemerintah melalui pemetaan yang dilakukan di grup percakapan daring dan diperkirakan dapat mencapai angka yang lebih besar.

"Dengan perkembangan teknologi, mereka memanfaatkan simbol-simbol dan kelompok-kelompok yang menyamarkan identitas. Ini merupakan persoalan yang harus kita tangani bersama-sama dengan seluruh unsur, termasuk media yang juga memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat," ungkap Kadis PPPA Sumsel, M Zaki Aslam, Jumat (26/5/2026).

1. Pemprov Sumsel fokus pada pencegahan

Ilustrasi bendera LGBT (magnific.com/rawpixel.com)

Zaki menilai kondisi tersebut menjadi peringatan agar upaya pencegahan diperkuat, terutama bagi anak-anak, remaja, dan kelompok usia produktif. Ia mengatakan pemerintah bersama berbagai pihak perlu meningkatkan edukasi dan pendampingan kepada keluarga serta generasi muda melalui pendekatan kesehatan, psikologis, dan keagamaan.

"Karena itu, pencegahan difokuskan pada anak-anak, remaja, lingkungan keluarga, dan usia-usia produktif hingga sekitar 40 tahun," katanya.

2. Minta jangan ada stigma untuk kaum LGBT

Stigma & diskriminasi terhadap LGBTQ+ di ruang publik mempersempit kebebasan dan peluang butuh pendidikan inklusif, kebijakan pelindung, dan media yang bertanggung jawab. #HakAsasi #Inklusi #StopDiskriminasi

Di sisi lain, Zaki mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma negatif terhadap orang-orang yang telah teridentifikasi. Menurutnya, pengucilan justru berpotensi membuat mereka semakin tertutup dan sulit dijangkau.

"Jangan sampai karena mendapatkan stigma buruk, mereka kemudian menyendiri dan membentuk komunitas yang semakin sulit dijangkau. Mereka tetap manusia dan saudara kita yang harus disayangi," jelasnya.

3. Keluarga memiliki peran mencegah penyebaran LGBT

ilustrasi bendera LGBTQ (pexels.com/Gotta Be Worth It)

Ia menilai keluarga memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam memberikan pendampingan. Pendekatan yang mengedepankan komunikasi, kesehatan mental, dan nilai-nilai yang dianut keluarga dinilai lebih efektif dibandingkan pengucilan dari lingkungan sosial.

"Yang paling utama adalah pendampingan, kita tidak boleh mengasingkan mereka. Tetapi harus memberikan pendekatan yang baik, baik dari sisi kesehatan fisik, kesehatan mental, maupun pendekatan keagamaan. Mudah-mudahan dengan perlakuan dan pendekatan yang baik, mereka dapat kembali ke jalan yang benar," jelasnya.

Editorial Team

Related Article