Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
15 Daerah Sumsel Masuk Zona Merah Karhutla, Ini Wilayah Paling Rawan
Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
  • Sebanyak 15 dari 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan masuk zona merah karhutla, dengan total 2.676 kejadian hingga 10 September 2026; Pagar Alam dan Empat Lawang masih di bawah 30 kasus.
  • OKI mencatat karhutla terbanyak dengan 459 kejadian, disusul Musi Banyuasin 333 dan Ogan Ilir 294; Banyuasin serta Muara Enim juga melaporkan angka tinggi.
  • Puncak musim kemarau meningkatkan risiko api meluas. Kualitas udara Palembang berstatus sangat tidak sehat, terutama dini hari hingga pagi, di tengah kabut asap yang belum membaik beberapa pekan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjadi ancaman di hampir seluruh wilayah Sumatera Selatan. Dari 17 kabupaten/kota, sebanyak 15 daerah kini masuk kategori zona merah karhutla.

Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel hingga 10 September 2026, tercatat 2.676 kejadian karhutla di berbagai wilayah.

“Untuk di Sumsel ada 2.676 kejadian karhutla. Ada 15 daerah yang masuk kategori zona merah karhutla. Hanya Pagar Alam dan Empat Lawang yang belum masuk karena kejadiannya di bawah 30 kasus,” ungkap Kabid BPBD Sumsel Sudirman, Senin (14/8/2026).

1. OKI catat kejadian karhutla terbanyak

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

Dari belasan daerah yang masuk zona merah, Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan jumlah kejadian paling tinggi. BPBD mencatat terdapat 459 kejadian karhutla di daerah tersebut.

Posisi berikutnya ditempati Musi Banyuasin (Muba) dengan 333 kejadian, kemudian Ogan Ilir sebanyak 294 kejadian. Banyuasin dan Muara Enim masing-masing mencatat 273 dan 244 kejadian.

Jumlah kejadian juga cukup tinggi di sejumlah wilayah lainnya. Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) mencatat 181 kejadian, Prabumulih 168 kejadian, dan Ogan Komering Ulu (OKU) sebanyak 103 kejadian.

Sementara itu, Musi Rawas Utara (Muratara) tercatat 83 kejadian, OKU Timur 79 kejadian, Musi Rawas 75 kejadian, serta Lahat 70 kejadian.

Dua wilayah lainnya, yakni OKU Selatan dan Lubuklinggau, masing-masing mencatat 35 kejadian karhutla.

“Jika dirinci berdasarkan jumlah kejadian, OKI menjadi daerah dengan kasus karhutla terbanyak di Sumsel dengan 459 kejadian. Angka tersebut disusul Muba dengan 333 kejadian dan Ogan Ilir dengan 294 kejadian,” ungkapnya.

2. Puncak kemarau masih berlangsung

Proses penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Sumatra Selatan dalam upaya pemadaman (Dok: Manggala Agni)

Tingginya kejadian karhutla menjadi perhatian karena Sumsel masih berada pada periode puncak musim kemarau. Kondisi tersebut membuat potensi kebakaran perlu diantisipasi, terutama di daerah yang telah memiliki frekuensi kejadian tinggi.

Sudirman meminta masyarakat tidak lengah terhadap potensi karhutla. Kondisi vegetasi yang mengering selama musim kemarau dapat membuat api lebih mudah muncul dan meluas.

“Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah yang telah masuk kategori zona merah,” ujarnya.

3. Begini kondisi ISPU Sumsel

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

Diberitakan sebelumnya, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatra Selatan, Wandayantolis, masih konsisten memantau kualitas udara di Palembang, terutama di kawasan sekitar Musi 2, Kertapati, Alang-Alang Lebar dan Gandus. Daerah tersebut rutin dipantau karena menjadi titik terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Kualitas udara di Palembang masih berada pada level merah atau kategori sangat tidak sehat,” jelasnya.

Wandayantolis mengatakan, kualitas udara paling tidak sehat berlangsung pada waktu dini hari sejak tengah malam. Namun, pada pagi hari, kualitas udara berangsur membaik dan asap akibat karhutla mulai mereda.

“Kabut dari tengah malam hingga pagi belum menunjukkan perbaikan dalam beberapa pekan terakhir,” kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article