Punya Kedekatan dengan Prabowo Diuntungkan di Pilkada Sumsel

- Pemimpin baru Pemprov Sumsel harus menjembatani kerja sama antara pusat dan daerah.
- Sinergi politik yang lebih nyata dibutuhkan dalam Pilgub Sumsel untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat.
- Kedekatan dengan pemerintah pusat memberikan keuntungan dalam akses program dan bantuan, namun juga memerlukan pendekatan kreatif dalam menghadapi lawan.
Palembang, IDN Times - Pengamat politik Sumsel Bagindo Togar mengatakan, pemimpin baru Pemprov Sumsel harus segera melakukan akselarasi dalam menekan angka kemiskinan dan pemerataan ekonomi. Langkah tersebut bisa dilakukan bila pemimpinnya mampu menjembatani kerja sama antara pusat dan daerah.
"Keterbatasan akses terhadap program pemerintah menjadi hambatan bagi provinsi untuk berkembang. Masalah komunikasi yang kurang baik antara daerah dan pusat, serta perbedaan urusan politik, menjadi faktor penghambat," ungkap Bagindo, Senin (28/10/2024).
1. Pasangan Matahati dinilai miliki kedekatan dengan pusat

Dalam konteks Pilgub Sumsel dibutuhkan sinergi yang lebih nyata. Akses kedekatan politik menjadi penentu berbagai program strategis serta peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat dapat terjamin.
Kondisi politik akhir-akhir ini turut menguntungkan pasangan Mawardi Yahaya-RA Anita Noeringhati (Matahati) didukung KIM plus. Menurutnya, pemimpin yang memiliki kedekatan dengan pemerintah pusat lah yang dapat menentukan arah pembangunan ke depan.
"Dalam konteks kerja sama dengan pemerintah pusat, pasangan ini akan lebih mudah meraih berbagai program dan bantuan yang dibutuhkan," jelas dia.
2. Perlu keterwakilan untuk didengar

Berbeda dengan calon lain dalam Pilgub Sumsel, seperti Herman Deru dari Partai Nasdem dan Eddy Santana Putra dari PDI Perjuangan, yang tidak memiliki perwakilan menteri dalam kabinet Prabowo. Hal ini berpotensi menghambat akses mereka terhadap berbagai program dan bantuan yang diperlukan untuk pembangunan daerah.
"Dalam konteks pilkada mereka didukung oleh mayoritas partai yang telah berkolaborasi dalam pemerintahan Prabowo dan memiliki kursi di kabinet Merah Putih," jelas dia.
3. Kedekatan dengan pusat juga bisa jadi bumerang

Meski memiliki keuntungan, kedekatan dengan pusat juga bisa menjadi bumerang. Pasangan Matahati tetap memerlukan pendekatan kreatif dan masif untuk menghadapi petahana Herman Deru-Cik Ujang (HDCU) dan Eddy Santana Putra-Rizky Aprilia (E-RA).
"Golkar adalah mesin politik yang kuat, dan kombinasi dengan Gerindra memberikan modal besar bagi pasangan Matahati. Mereka perlu memaksimalkan momentum dan tetap kreatif untuk meraih simpati masyarakat," jelas dia.


















