Mabang Handak, Upacara Adat dari Ogan Komering Ilir

OKI, IDN Times - Upacara adat dari Ogan Komering Ilir yang khas salah satunya yaitu Mabang Handak. Upacara ini biasa dilakukan pada saat menyelenggarakan proses pernikahan.
Selain itu, upacara adat ini juga merupakan salah satu warisan budaya yang ditinggalkan oleh nenek moyang zaman dahulu.
Ingin tahu kelengkapan penjelasan dari upacara adat yang satu ini? Simak ulasan dibawah secara saksama ya.
1. Asal usul upacara mabang handak

Upacara adat dari Ogan Komering Ilir yang satu ini merupakan sebuah tarian yang diciptakan oleh Almarhum Elly Intokia pada tahun 1961. Namun, pada saat itu, tarian ini masih ditunjukkan dengan gerakan yang sangat baku.
Seiring dengan perkembangan zaman, tarian ini dikembangkan oleh generasi baru untuk menciptakan gerakan yang lebih menarik serta membawa makna yang lebih dalam. Tarian pada upacara adat yang satu ini, terinspirasi dari adanya suatu kebiasaan yang dilakukan oleh sekelompok gadi di daerah Kayu Agung.
Kebiasaan tersebut dilakukan pada saat menunggu musim menjelang kemarau. Biasanya para gadis desa tersebut menunggu pergantian musim sembari menenun yang ditemani oleh sekawan burung putih yang mengitar di angkasa.
Mabang Handak sendiri pada dasarnya mempunyai arti sebagai burung putih.
Selain itu, keberadaan burung putih ini selalu mengitari gadis desa tersebut tepat di atas tempat duduknya. Dengan demikian, hal ini diyakini bahwa akan adanya jodoh orang terhormat yang akan menikahinya dengan prosesi pernikahan yang dilakukan secara besar-besaran.
2. Cara melaksanakan upacara adat

Pada dasarnya di daerah Sumatera Selatan, khususnya di Kayu Agung Kabupaten Ogan Komering Ilir ini terdapat empat tingkatan pada prosesi pernikahan. Di antaranya yaitu setinong-tinong, pinang dibelah, sepinong-pinong dan mabang handak.
Tentunya, keempat upacara adat ini dilakukan dengan tata cara yang berbeda-beda.
Pada tingkatan pertama, setinong-tinong ini dilakukan secara adat yang sangat kental. Jika pada sepinong-pinong dalam melaksanakannya dilakukan secara lebih sederhana. Biasanya upacara adat ini dilakukan dengan hanya menyuguhkan hidangan makanan.
Selain itu, jika pada pinang dibelah, pelaksanaannya hanya dilakukan dengan menggunakan tradisi adat yang pokok saja. Hal ini dilakukan hanya untuk memenuhi syarat untuk bisa menyelenggarakan prosesi pernikahan.
Di samping itu, pada mabang handak, tata cara pelaksanaannya dilakukan dengan diadakannya tarian khas yang menampilkan sembilan gadis desa. Bahkan, upacara adat yang satu ini diselenggarakan dengan memakai pesta yang besar dengan dilengkapi serangkaian adat yang lebih lengkap,
3. Eksistensi tari mabang handak

Menurut sejarahnya, kegiatan upacara adat ini selalu dilakukan sebagai salah satu upacara prosesi pernikahan. Namun, seiring perkembangan zaman, terjadinya perkembangan yang terjadi di setiap tahunnya.
Tarian adat yang ada pada upacara ini, biasa ditampilkan pada pertunjukkan rakyat seperti halnya pesta kenegaraan dan festival yang lainnya.
4. Makna filosofis

Pada dasarnya, tarian ini dilakukan sembilan penari yang dilakukan oleh para gadis desa. Diambilnya jumlah penari tersebut, menggambarkan bahwa terdapat sembilan gadis yang sedang mengungkapkan perasaannya.
Dengan kata lain untuk menunggu kehadiran burung putih yang mengitari di angkasa. Tentu saja, hal ini dilakukan untuk memberikan keberuntungan yang sama seperti halnya dengan sejarah yang dipercaya sebelumnya.
5. Langkah melestarikan budaya

Untuk ikut serta dalam melestarikan upacara adat dari Ogan Komering Ilir ini, tentunya dapat dilakukan dengan cara mudah. Kamu cukup mengenal sejarah serta mengaplikasikan kegiatan ini di dalam kehidupan.
Selain itu, tidak melupakan sejarah upacara adat ini juga menjadi salah satu cara untuk melestarikan budaya.
Nah, itulah beberapa penjelasan singkat terkait dengan upacara adat dari Ogan Komering Ilir yang sangat khas. Melestarikan budaya yang satu ini, selalu dijaga dengan baik oleh masyarakat Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan.
Pasalnya, masyarakat sekitar meyakini bahwa upacara adat ini harus selalu dilestarikan agar kebudayaan sejarah tidak sampai tergerus oleh perkembangan zaman.


















