Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Empat Daerah di Sumsel Terancam Kotak Kosong di Pilkada 2024
Pengamat politik Sumsel, Bagindo Togar (Dok: Bagindo Togar)
  • Empat daerah di Sumatra Selatan terancam menghadapi kotak kosong dalam Pilkada 2024 karena partai politik ramai-ramai mengusung calon petahana dan keluarga mantan kepala daerah.
  • Kondisi kotak kosong dipengaruhi oleh popularitas, hasil survei, serta sistem politik yang lebih pragmatis dan didasari kepentingan daripada integritas.
  • Sikap transaksional parpol dinilai berbahaya bagi sistem demokrasi dan akan merugikan kader partai yang ditempa dalam pengkaderan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Empat daerah di Sumatra Selatan (Sumsel) terancam menghadapi kotak kosong dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 mendatang. Kondisi ini terjadi karena partai politik ramai-ramai mengusung calon petahana dan keluarga mantan kepala daerah.

Pengamat politik Sumsel, Bagindo Togar, mengaku prihatin dengan situasi ini. Menurutnya, ada dua sisi yang muncul dari isu kotak kosong. Pertama, sisi positif adalah parpol mendukung prestasi petahana. Kedua, sisi negatif mencederai sistem kompetisi dalam demokrasi dan melukai hati rakyat.

"Kalau kotak kosong karena prestasi kinerja, itu dibenarkan. Namun, kalau kotak kosong karena sistem transaksional parpol bukan karena prestasi, hal ini akan berakibat buruk pada masyarakat," ungkap Bagindo Togar kepada IDN Times, Kamis (8/8/2024).

1. Isi tas kalahkan integritas

Ilustrasi. Sejumlah Alat Peraga Kampaye (APK) milik dipaku di pohon. (ANTARA FOTO/Rahmad)

Empat daerah yang terancam menghadapi kotak kosong adalah Musi Banyuasin (Muba), Musi Rawas (Mura), Empat Lawang, dan Ogan Ilir (OI). Menurut Bagindo, kasus kotak kosong rawan terjadi karena peran kekuatan modal dan kepentingan elite politik di daerah.

Bagindo menjelaskan, popularitas dan hasil survei turut mempengaruhi kondisi kotak kosong. Politisi berlomba-lomba memoles citra diri untuk menarik simpati, bukan melalui gagasan yang ditawarkan ke masyarakat.

"Beberapa indikator yang dipakai saat ini dalam sistem politik di Indonesia adalah isi tas, elektabilitas, dan integritas. Ketiga ini menentukan, padahal integritas yang seharusnya menjadi patokan memilih kepala daerah, bukan isi tas," ujar Bagindo.

2. Kader parpol akan dirugikan dari sikap transaksional

ilustrasi pilkada (IDN Times/Esti Suryani)

Sikap partai politik yang cenderung menerima sistem transaksional ini dinilai berbahaya bagi sistem demokrasi. Kondisi ini perlahan mengubah sistem politik menjadi lebih pragmatis karena didasari kepentingan.

Bagindo menilai, sikap transaksional parpol akan merugikan kader partai yang ditempa dalam pengkaderan. Para kader yang disiapkan menjadi calon pemimpin dari parpol lama-lama akan bersikap pragmatis serupa dengan sikap parpol.

"Penggunaan modal dalam politik ini akan meminggirkan kader berpotensi. Masyarakat hanya akan ditawarkan calon pemimpin yang secara intelektual kurang," jelasnya.

3. Napikor dapat kursi untuk maju

Ilustrasi penyelenggara pemilu. (IDN Times/Sukma Shakti)

Kondisi ini memperlihatkan bahwa elite parpol terjebak pada sistem makelar politik. Bagindo mencontohkan ada seorang narapidana korupsi yang bebas melenggang dengan mengumpulkan hampir seluruh parpol yang ada.

"Sistem politik kita sudah terlalu binal dan brutal hingga napikor bisa mengkondisikan hampir seluruh parpol untuk maju," ujarnya.

4. Parpol harus menjamin politik yang sehat

ilustrasi pemilu (dok. IDN Times/ Agung Sedana)

Diketahui, tiga calon kepala daerah petahana di Sumsel diperkirakan akan menghadapi kotak kosong setelah parpol beramai-ramai memberikan kursinya untuk mendukung petahana seperti Joncik Muhammad-A Rifai di Empat Lawang, Panca Wijaya Akbar-Ardani di Ogan Ilir, serta Ratna-Suprayitno di Musi Rawas.

Sedangkan pasangan Lucyanti-Syafaruddin di Musi Banyuasin juga mendapat banyak dukungan parpol.

"Seharusnya parpol mendukung munculnya calon lain agar kompetisi menjadi lebih sehat,"

Editorial Team

Related Article