Bayi Harimau di Kebun Binatang Bukittinggi Mati, Kekurangan Nutrisi?

- Induk harimau mengalami stres dan kelelahan pascamelahirkan
- Anak harimau memburuk karena cuaca panas dan kering, tidak mendapatkan asupan nutrisi
- BKSDA Sumbar melakukan evakuasi, anak harimau meninggal akibat dehidrasi dan kurangnya nutrisi
Padang, IDN Times - Seekor bayi harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) dikabarkan mati di Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi pada Selasa (1/7) kemarin.
"Memang kami mendapatkan kabar soal kematian salah satu bayi harimau sumatra di TMSB Kinantan kemarin," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, Hartono, Rabu (2/7/2025).
Menurutnya, anak harimau sumatra yang dikabarkan mati tersebut berjenis kelamin jantan dari indukan yang bernama Yani, baru lahir pada akhir Juni lalu.
1. Kematian bayi harimau di TMSB Kinantan

Hartono mengungkapkan, sejak melahirkan anaknya, induk harimau yang diberi nama Yani tersebut terlihat sangat kelelahan dan mengalami stres.
"Memang pascamelahirkan tersebut sang induk tidak mau menyusui anaknya dan hal itu terjadi beberapa kali," katanya.
Menurutnya, pada siang hari setelah melahirkan, Yani kembali mau menyusui anaknya tersebut dan kejadian serupa kembali terjadi pada 29 Juni 2025 lalu.
"Saat itu Yani kembali tidak mau menyusui anaknya dan dokter melihat Yani mengalami stres," katanya.
2. Keadaan anak harimau memburuk

Menurut Hartono, saat itu keadaan anak harimau tersebut memburuk karena keadaan cuaca yang cukup panas dan kering. Tetapi, Yani kembali mau menyusui anaknya setelah keadaan memburuk tersebut.
"Hal yang sama kembali terjadi kemarin. Yani kembali gelisah dan tidak mau menyusui anaknya sehingga keadaan anaknya itu semakin memburuk," katanya.
Menurutnya, saat itu anak harimau tersebut sudah lemah dan sudah terbaring di dalam kandang karena tidak mendapatkan asupan nutrisi dari sang induk.
3. Lakukan evakuasi dan pertolongan

BKSDA Sumbar mengklaim tim dokter dan pihak TMSB Kinantan langsung melakukan tindakan terhadap bayi harimau tersebut.
"Tim dokter melakukan evakuasi dan memberikan pertolongan terhadap anak Yani. Akhirnya anak Yani tidak terselamatkan dan menghembuskan napas terakhir pada hari Selasa pagi tanggal 1 Juli 2025," katanya.
Setelah kematian bayi harimau tersebut, tim dokter melakukan nekropsi terhadap anak Yani. Berdasarkan hasil nekropsi yang dilakukan, tidak ditemukan adanya kelainan pada organ-organ tubuh anak Yani.
"Tim menyimpulkan bahwa kematian anak Yani disebabkan karena dehidrasi dan kurangnya asupan nutrisi dari induknya Yani," katanya.