Daun Jamuran Hingga Batang Tak Berbuah, Duku Komering di Ambang Punah

- Warga mendapati daun pohon yang berwarna kuning dan muncul bercak kecokelatan
- Biasanya rentang masa panen antara bulan Desember hingga April
- Banyak petani yang menggantungkan hidupnya dari duku yang selama ini sering diekspor sampai ke luar negeri
Ogan Komering Ulu, IDN Times - Haryanti, warga Desa Singapura, Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) ini terus gelisah terhadap nasib perkebunan buah duku miliknya. Seharusnya, saat ini ia dan beberapa petani duku lainnya mendapat berkah dan rezeki melimpah dari panen raya duku di kampung mereka.
Namun, apa daya, sejak 5 tahun terakhir pohon buah tropis dengan nama Latin Lansium domesticum tak menampakkan hasil. Jangankan buah, daun dari pohon saja layu kering dan batang pohon perlahan mati.
Bukan tanpa sebab, Haryanti mengaku sudah 5 tahun ini pohon duku miliknya dan warga lain seluas beberapa hektar di kebun tak berbuah. Kejanggalan ini bermula saat mereka mendapati daun pohon yang berwarna kuning dan muncul bercak kecokelatan. Mereka mencurigai hal tersebut akibat serangan jamur atau hama. Karena hal itulah, daun kering dan bunga dan buah tak muncul.
1. Tabur garam dan kapur ke pohon tak kunjung membuahkan hasil

Haryanti bersama warga lain berusaha mencari tahu penyebab jamur apa yang menyebabkan daun pohon duku mengering tanpa ampun. Bahkan mereka sampai menghadap Dinas Pertanian Kabupaten OKU untuk menyampaikan keluhan tersebut.
"Sudah sering kami ke Dinas Pertanian mengadukan hal ini. Dan mereka menyarankan untuk memberi garam atau kapur, agar hama tersebut hilang," ujarnya saat dihubungi IDN Times, Minggu (15/2/2026).
Warga kemudian mendapat anjuran dari Dinas Pertanian untuk memberi garam dan kapur ke pohon duku untuk mengusir jamur di pohon. Namun, solusi tersebut tak membuahkan hasil. Segala upaya dilakukan petani agar pohon duku kembali subur, tapi garam dan kapur masih tak ampuh.
"Disuruh kasih garam, sudah kami lakukan. Berkarung-karung, malah sudah habis garam, tapi masih jamuran. Kapur juga sudah sering dikasih tetap tak mempan," ujarnya.
2. Warga khawatir duku Komering punah jika tak segera diatasi

Warga pun nelangsa melihat satu per satu pohon duku mati karena serangan jamur pada daun ini. Bahkan Haryanti berkali-kali menyebutkan, bukan tak mungkin duku Komering yang terkenal manis legit ini menjadi punah.
"Sudah bertahun-tahun kondisinya seperti ini. Pacak punah duku ni. Namun, kami masih bertahan dengan tidak menebang pohon duku. Kami masih berharap kondisi ini segera diatasi dan duku kembali melimpah," terang Haryanti
Menurutnya, buah yang dipanen sekali dalam setahun ini merupakan hasil pertanian yang menguntungkan selain durian. Biasanya, rentang masa panen antara bulan Desember hingga April. Jika lagi musim, harga rata-rata bisa Rp2-5 ribu per kilogramnya.
"Dulu harga Rp5 ribu saja sudah kemahalan. Banjir duku di tempat kami. Sekarang susah nyari duku. Kami pernah beli duku di Baturaja, rupanya itu kiriman dari Bengkulu. Rasanya asam dan biji besar-besar. Beda sekali dengan duku Komering biasanya," ungkapnya.
3. Duku Komering diekspor sampai ke luar Sumatra

Pihaknya berharap, pemerintah bisa bergerak cepat mengatasi langkanya komoditas buah musiman unggulan dari OKU Raya ini. Sebab banyak petani yang menggantungkan hidupnya dari duku yang selama ini sering diekspor ke luar negeri.
"Dulu kalau sudah musim duku, kami senang bukan main. Berkarung-karung duku kami kirim ke Palembang, Pulau Jawa, bahkan luar negeri. Sekarang jangankan mau ngirim, kami orang yang punya kebun saja tak bisa mencicipi duku sendiri," ucapnya.
Hal serupa juga diungkapkan Lena, warga Baturaja, Kabupaten OKU. Biasanya, jika sudah musim durian dan petai, duku juga turut membanjiri pasar. Bahkan saking murahnya, banyak penjual membandrol harga obral agar duku cepat laku dan tidak rusak.
"Susah nyari yang jual duku sekarang. Kalaupun ada, kiriman dari luar. Padahal di dusun banyak batang duku, tapi tak berbuah," ujarnya.
Lena mencontohkan, salah satu daerah penghasil duku yakni Desa Lubuk Leban, Kecamatan Sosoh Buay Rayap kabupaten OKU. Di sana ada saudaranya yang juga punya kebun duku dan tahun ini tidak berkembang.
"Di sana banjir, jadi pohon duku terendam dan mati. Mulanya daunnya menguning lalu meranting (tinggal dahan). Akhirnya pohonnya mati total," ucapnya.
4. Hanya cukup untuk makan sendiri, hasil panen tak bisa dijual

Menurutnya, seluruh wilayah di sana memang banyak kebun duku mulai dari talang dusun sampai ke lebak dusun. Hanya sedikit pohon duku yang bertahan hidup saat musim hujan dan banjir saat ini.
"Kalaupun berbuah, sedikit dan cukup untuk makan dewek (sendiri). Jangankan mau dijual, untuk makan sendiri juga sedikit. Banyak petani yang pasrah karena pohon duku meranting. Kalau sudah demikian, terpaksa tanam baru karena pohon yang meranting tak bisa berbuah lagi," jelas Lena.
Sebagai masyarakat OKU yang bangga akan Sentra Duku Komering, ia berharap permasalahan ini segera mendapat perhatian serius dari pemerintah. Karena Duku Komering sudah jadi identitas dan andalan masyarakat selama ini. Pemerintah harus merangkul kelompok petani duku yang saat ini masih berjuang merawat kebunnya di tengah gangguan cuaca dan hama.
"Kata orang dusun, tahun ini duku idak bekembang. Padahal biasanya saking banyaknya duku sampai langaian (jatuh). Duku langaian ini manis, tapi tidak awet dan harus cepat dimakan. Biasanya duku langaian ini karena pohonnya berbuah lebat, dan tak keburu dipanjat untuk dipanen," ungkapnya.
Namun saat ini, jangankan duku langaian. Duku yang dipanjat dan dipetik dari atas pohon langsung justru susah didapat. Lena dan warga OKU lainnya kini masih menggantungkan harapan agar kebun duku kembali berbuah lebat dan duku Komering nan manis kembali terhidang di atas meja makan.

















