Banjir Masih Terjadi di Palembang, Bukti Tata Ruang Makin Semrawut

Palembang, IDN Times - Sejumlah titik rawan banjir di Palembang kembali digenangi air setinggi mata kaki sampai betis orang dewasa. Kawasan Simpang Polda, Angkatan 66, dan Kenten, menjadi lokasi paling sering terjadi banjir ketika curah hujan sedang atau lebat.
"Banjir yang masih terjadi akibat hujan deras menjadi fakta Pemkot Palembang belum memperbaiki tata ruang kota yang makin semrawut," ujar Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumsel, Yuliusman, Jumat (9/12/2022).
1. Pemkot Palembang tak memerhatikan keseimbangan daya dukung dan daya tampung

Menurutnya, banjir yang terjadi di Palembang menjadi bukti nyata pemerintah daerah tidak memerhatikan keseimbangan, khususnya antara daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
"Padahal Walhi Sumsel sudah berkali-kali mengingatkan persoalan banjir ini dengan Wali Kota Palembang, bahkan melalui gugatan PTUN. Tapi hingga saat ini Harnojoyo sebagai tergugat belum menjalankan putusan pengadilan," jelas dia.
2. Banjir terjadi akibat volume air tinggi dan intensitas hujan sangat lebat

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Palembang, intensitas curah hujan yang turun sejak Kamis (8/12/2022) malam mencapai 70,4 mm.
"Kategori hujan semalam masuk kategori sangat lebat, sehingga rawan terjadi banjir dan genangan air dengan volume cukup tinggi," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Iriansyah.
3. Kolam retensi dan penampungan air di Palembang harus diperbanyak

Selain curah hujan tinggi, banjir di Palembang sulit surut karena daya tampung anak-anak sungai dan saluran drainase terjadi sedimentasi.
"Akibat sedimentasi di anak-anak sungai, maka banyak lumpur dan sampah disertai pasang surut sungai. Sedangkan rawa untuk serapan banyak tidak berfungsi," katanya.
Iriansyah menyebut, upaya awal penanggulangan banjir di Palembang saat ini adalah tanggap darurat ketika hujan turun, seperti mengevaluasi lokasi rawan banjir bersama tim gabungan.
"Kemudian yang harusnya dilakukan dengan memperbanyak kolam-kolam retensi penampungan air," timpal dia.
4. Salahkan masyarakat membuang sampah sembarangan

Sementara kata Petugas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Palembang Syahrial, banjir yang terjadi bukan saja diakibatkan daya tampung air rendah, melainkan tumpukan sampah dari masyarakat.
"Banjir di Simpang Polda ini kami lihat banyak sampah menumpuk di saluran, sehingga genangan air lama menyerap dari jalanan. Banjir ini karena saluran sempit, penampungan air tidak ada, sedangkan sampah botol sangat banyak," jelas Syahrial.
Padahal kata dia, Pemkot Palembang telah maksimal mengupayakan masalah banjir dengan menurunkan petugas gabungan sebanyak 38 orang, dan memompa genangan air di jalan.
"Sejak semalam tim siaga banjir sudah berusaha menyurutkan air," katanya



















