Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Filosofi Kue Delapan Jam dan Maksuba, Kuliner Khas Palembang Penuh Makna

Filosofi Kue Delapan Jam dan Maksuba, Kuliner Khas Palembang Penuh Makna
Kue basah khas Palembang, kue delapan jam dan kue maksuba di Palembang Harum (IDN Times/Dokumen Pribadi)
Intinya Sih
  • Kue delapan jam dan maksuba adalah kuliner khas Palembang yang diwariskan sejak masa Kesultanan, menyimpan nilai sejarah serta filosofi kehidupan masyarakat setempat.
  • Melalui kemasan inovatif, Mardho Tilla mengenalkan kembali kisah dan makna kedua kue ini agar pembeli memahami budaya di balik cita rasanya.
  • Kue delapan jam melambangkan keseimbangan dan kesabaran, sedangkan maksuba dahulu menjadi tolok ukur keterampilan perempuan Palembang sebelum menikah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Palembang, IDN Times - Kue delapan jam dan maksuba merupakan dua kue basah khas Palembang yang sudah dikenal sejak masa Kesultanan Palembang. Di balik rasanya yang legit dan manis, kedua kue tradisional ini menyimpan nilai sejarah sekaligus filosofi kehidupan masyarakat Palembang pada masa lalu.

Owner toko oleh-oleh khas Palembang, Palembang Harum, Mardho Tilla, mengatakan pihaknya mencoba mengenalkan kembali sejarah dua kue tersebut kepada konsumen melalui inovasi kemasan produk.

Menurutnya, pada setiap kotak kemasan disertakan cerita singkat mengenai sejarah kue delapan jam dan maksuba agar pembeli tidak hanya menikmati rasanya, tetapi juga memahami nilai budaya di baliknya.

“Supaya pembeli tahu sejarahnya, kami menampilkan cerita dan ilustrasi di kemasan. Ada dua warna, merah untuk kue delapan jam dan kuning untuk maksuba,” ujarnya.

1. Filosofi keseimbangan didup dari kue delapan jam

Kue delapan jam, kue basah khas Palembang di Palembang Harum
Kue delapan jam, kue basah khas Palembang di Palembang Harum (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Mardho menjelaskan, kue delapan jam memiliki filosofi tentang keseimbangan dalam kehidupan manusia. Hal itu tercermin dari proses memasaknya yang harus tepat selama delapan jam, tidak boleh kurang maupun lebih.

Ia mengatakan filosofi tersebut menggambarkan pembagian waktu ideal dalam kehidupan sehari-hari, yakni delapan jam untuk bekerja, delapan jam untuk beristirahat, dan delapan jam untuk beribadah.

Cerita tersebut, lanjut dia, dirangkum dari berbagai diskusi dengan sejarawan Palembang, termasuk Amin yang dikenal meneliti sejarah kuliner kota tersebut.

“Di kemasan juga kami tampilkan ilustrasi cara membuat kue delapan jam menggunakan oven tradisional atau gendok yang memakai kayu bakar,” jelasnya.

Ciri khas kue delapan jam yang matang sempurna adalah teksturnya yang padat dengan warna cokelat tua. Jika dimasak kurang dari delapan jam, warnanya cenderung lebih kuning dan rasa legitnya tidak maksimal.

2. Proses memasak ajarkan kesabaran

Sejarah kue basah khas Palembang kue delapan jam
Sejarah kue basah khas Palembang kue delapan jam (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Selain filosofi keseimbangan hidup, proses pembuatan kue delapan jam juga mengandung nilai kesabaran. Pasalnya, proses memasaknya memerlukan waktu lama mulai dari persiapan bahan hingga menunggu kue matang sempurna.

“Prosesnya panjang, jadi secara tidak langsung mengajarkan kesabaran,” kata Mardho.

Pada masa lalu, kue delapan jam bahkan hanya disajikan untuk kalangan bangsawan di lingkungan Kesultanan Palembang. Namun kini, kue tersebut sudah menjadi hidangan umum yang sering hadir dalam berbagai acara penting masyarakat Palembang.

3. Maksuba pernah jadi tolak ukur perempuan Palembang

Ilustrasi pembuatan kue khas Palembang di Palembang Harum
Ilustrasi pembuatan kue khas Palembang di Palembang Harum (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Berbeda dengan kue delapan jam, kue maksuba memiliki cerita unik dalam tradisi masyarakat Palembang. Pada masa Kesultanan Palembang, kemampuan membuat kue maksuba pernah menjadi tolok ukur keterampilan perempuan sebelum menikah.

Ketika seorang perempuan dilamar, keluarga calon mempelai pria biasanya mengirimkan bahan mentah untuk membuat maksuba. Jika sang perempuan mampu membuatnya dengan baik, hal itu dianggap sebagai tanda kesiapan menjadi seorang istri.

“Dulu maksuba menjadi cara menilai apakah perempuan itu pandai memasak atau tidak,” ujarnya.

Kue maksuba sendiri memiliki tekstur padat dan rasa manis legit karena terbuat dari campuran telur, susu, dan gula. Proses pembuatannya dilakukan berlapis sehingga menghasilkan garis-garis gelap khas di bagian tengah kue.

Saat ini, maksuba masih menjadi hidangan istimewa yang sering disajikan saat hari raya Idul Fitri maupun acara keluarga besar di Palembang. Bahkan, kue tradisional tersebut juga menjadi salah satu kuliner favorit wisatawan yang berkunjung ke kota tersebut.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Feny Maulia Agustin
Hafidz Trijatnika
3+
Feny Maulia Agustin
EditorFeny Maulia Agustin
Follow Us

Latest Food Sumatera Selatan

See More