Transaksi Pengguna QRIS Sokong Penetrasi Ekonomi Digital di Sumsel

- Palembang mendominasi pengguna QRIS di Sumsel dengan 63%.
- Sumsel menjadi provinsi kedua tertinggi di Sumatra dalam pemakaian QRIS.
- BI Sumsel mengadakan jelajah QRIS untuk meningkatkan penetrasi ekonomi digital ke daerah pelosok.
Palembang, IDN Times - Bank Indonesia Sumatra Selatan (BI Sumsel) gencar mengenalkan ekonomi digital di seluruh wilayah Indonesia menggunakan sistem cashless atau non tunai dengan metode Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Sejak peluncuran QRIS oleh Bank Indonesia pada 2019 lalu, kini penyerapan digitalisasi ekonomi terlihat dalam tren positif. Terbukti dari aktivitas transaksi cashless mengalami peningkatan di Sumsel khususnya dari Palembang yang mendominansi pengguna QRIS di angka 63 persen.
1. Transaksi QRIS di Sumsel tertinggi di Sumatra

Kepala BI Sumsel Ricky P Gozali mengatakan, aktivitas keuangan digital bisa mendorong penetrasi ekonomi wilayah. Transaksi digitalisasi juga dapat menyokong pertumbuhan niaga stabil dalam tren positif. Terbukti, Sumsel menjadi provinsi tertinggi kedua di Sumatra yang aktif pemakaian QRIS.
"Transaksi QRIS di Sumsel rangking pertama se-Sumatra, pemakaian QRIS sampai 844 ribu merchant atau nomor dua terbanyak di Sumatra," ujarnya usai membuka Festival Jajanan QRIS di Palembang Indah Mall, Jumat (16/8/2024).
2. BI jamin keamanan pemakaian QRIS

Pergerakan ekonomi digital di Sumsel ditarget menyerap ke seluruh daerah termasuk ke pelosok wilayah dengan inovasi Jelajah QRIS, pengenalan sistem pembayaran nontunai oleh generasi muda. Terbaru, BI Sumsel mengadakan jelajah QRIS serentak agenda nasional.
"Pengguna QRIS yang tinggi menunjukkan tingginya awarnees masyarakat terhadap tingginya kemananan transaksi secara cashless," timpal dia.
3. BI Sumsel gencarkan sosialisasi QRIS di pelosok

Ricky menjelaskan, meski QRIS berperan dalam pertumbuhan ekonomi, penyerapan sistem nontunai di pedesaan belum sepenuhnya merata. Hal ini karena masyarakat di sana kurang melek transaksi cashless seperti di Palembang. Maka itu edukasi non tunai di di daerah perlu edukasi dan sosialisasi lagi.
"QRIS masalahnya tidak hanya di HP, tapi kesiapan infrastruktur dan pengetahuan masyarakat terhadap QRIS, makanya kita sosialisasikan supaya masyarakat mencoba," timpal dia.



















