PLTS Bikin Masjid Agung Palembang Hemat Listrik Rp12 Juta per Tahun

- Masjid Agung Palembang menggunakan PLTS dengan kapasitas 18,2–18,6 kWp dan baterai 30 kWh, menghemat listrik hingga Rp12-24 juta per tahun.
- Pemkot Palembang berencana memasang PLTS di 5 masjid tua lainnya untuk efisiensi anggaran dan pengurangan pembayaran listrik ke PLN.
- Pemasangan PLTS di Masjid Agung Palembang merupakan komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan sejalan visi dan misi Pemkot Palembang.
Palembang, IDN Times - Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo Palembang kini memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pemanfaatan energi ramah lingkungan tersebut mampu menekan biaya listrik masjid hingga Rp12 juta per tahun.
Pemasangan panel surya dilakukan di area balkon masjid melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Perumda Tirta Musi. Program ini diresmikan langsung oleh Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, pada Senin (19/1/2026).
1. Pemasangan PLTS dilanjutkan ke 4-5 masjid tua lain di Palembang

Dewa mengatakan, PLTS di Masjid Agung memiliki kapasitas sekitar 18,2–18,6 kilo Watt Peak (kWp) dan dilengkapi baterai berkapasitas 30 kilo Watt Hour (kWh). Dengan kapasitas tersebut, masjid masih bisa beroperasi meski terjadi pemadaman listrik dari PLN selama durasi 3-8 jam.
“Pemanfaatan PLTS memberi efisiensi anggaran masjid hingga enam bulan ke depan dan diperkirakan menghemat Rp12-24 juta, terutama dari penggunaan listrik untuk pendingin ruangan, lampu, dan fasilitas lainnya,” kata dia.
Menurutnya, pemasangan PLTS di Masjid Agung Palembang merupakan langkah awal dan tidak akan berhenti di satu lokasi saja. Ke depan, pemkot berencana mengembangkan pemanfaatan energi terbarukan itu di 5 masjid dan musala lain, khususnya bangunan ibadah yang memiliki nilai historis dan telah berusia ratusan tahun.
"Akan kita lanjutkan ke empat hingga lima masjid tua di Palembang yang usianya lebih dari 200 tahun. Selain revitalisasi fisik, akan dikembangkan juga PLTS dengan menggandeng berbagai pihak melalui forum TJSL Kota Palembang,” jelasnya.
2. Usia pemanfaatan PLTS bisa mencapai 25-30 tahun

Dewa menegaskan, perhatian Pemkot Palembang tidak hanya difokuskan pada perbaikan fisik bangunan masjid, tetapi juga pada upaya memakmurkan masjid. Sebab, pemkot memiliki tanggung jawab sekitar 40 persen terhadap pemeliharaan Masjid Agung, sementara Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan sebesar 60 persen.
Sementara, untuk biaya di PLTS Masjid Agung Palembang, anggaran menelan sekitar Rp300 juta. Dengan penggunaan energi surya tersebut, penghematan listrik saat ini mencapai sekitar Rp1,3 juta per bulan, terutama pada kondisi cuaca yang masih didominasi hujan. Sedangkan, pada bulan-bulan dengan intensitas matahari lebih tinggi, pengurangan pembayaran listrik ke PLN diperkirakan akan makin besar.
“Usia pemanfaatan PLTS ini bisa mencapai 25-30 tahun, sehingga sangat menguntungkan dalam jangka panjang," jelas dia.
3. PLTS di Masjid Agung beroperasi sejak 28 November 2025

Plt Direktur Utama PDAM Tirta Musi, Azharudin, menambahkan, pemasangan PLTS di Masjid Agung Palembang merupakan komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan sejalan visi dan misi Pemkot Palembang.
“Kami berharap fasilitas ini dapat dimanfaatkan dan dirawat baik, sehingga manfaatnya bisa dirasakan optimal oleh masyarakat luas,” ujarnya.
Sementara itu, kata Ketua Yayasan Masjid Agung Palembang, Abdul Rozak, manfaat PLTS sudah dirasakan sejak operasional pada 28 November 2025. Menurutnya, pengeluaran listrik masjid mengalami penurunan yang cukup signifikan.
“Biasanya kami membayar listrik sekitar Rp18 juta per bulan, sekarang turun menjadi sekitar Rp13 juta. Memang ini juga hasil kombinasi dengan upaya penghematan lain, tetapi kontribusi PLTS sangat terasa,” jelas Abduk Rozak.
Ia menambahkan, manfaat terbesar PLTS dirasakan saat terjadi pemadaman listrik. Ketika aliran listrik dari PLN terputus, sistem secara otomatis beralih ke PLTS sehingga seluruh aktivitas ibadah dan kegiatan di masjid tetap berjalan normal.


















