Minim Regenerasi Pohon dan Perawatan Picu Duku Komering Kian Langka

- Kebanyakan pohon duku merupakan pohon tua atau warisan nenek moyang, sulit menemukan pohon baru karena minim regenerasi yang dilakukan masyarakat.
- Sifat jamur di tanaman akan menularkan ke daun atau batang yang sehat sehingga berimbas pada penyerbukan buah, butuh fungisida dosis tinggi untuk mengatasinya.
- Duku Komering terkenal dengan kulit tipis dan rasanya manis, memiliki biji kecil, bahkan beberapa tanpa biji, dan tahan lama dibandingkan dengan duku dari daerah lain.
Ogan Komering Ulu, IDN Times - Sebagai salah satu sentra penghasil buah duku, sebagian besar pohon di kebun duku Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumsel, tahun ini justru tidak berbuah. Masyarakat di OKU dan sekitarnya malah tak mencicipi buah duku dari daerah sendiri dan malah membeli dari provinsi tetangga.
Tercatat sejak tahun 2014 dilaporkan banyak tanaman duku yang mati di OKU dan Muratara, dan saat ini telah menyebar di hampir semua kabupaten yang menjadi sentra tanaman duku seperti OKU Selatan, OKU Timur, Muara Enim, dan Musi Rawas.
1. Kebanyakan pohon duku saat ini merupakan pohon tua atau warisan nenek moyang

Dian Ronaldhi, salah satu Penyuluh Kementerian Pertanian (Kementan) di Desa Singapura, Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten OKU, mengatakan kebanyakan pohon duku saat ini merupakan pohon tua atau warisan nenek moyang. Sulit menemukan pohon baru karena regenerasi pohon yang minim dilakukan masyarakat.
"Biasanya banyak pohon duku ini di lahan kuburan, warisan nenek moyang. Lahan di sekitar kuburan itu kan berkurang kadar suburnya karena banyak makam di semen. Jadi turut berpengaruh ke tanaman di atasnya," ujarnya saat dihubungi IDN Times, Minggu (15/2/2026).
Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan pohon duku sedikit berbuah. Bisa dari penyerbukan yang gagal karena cuaca, pemupukan yang kurang, lahan sempit, dan perawatan pohon duku yang sering diabaikan.
"Tahun sebelumnya kebanjiran, jadi banyak batang pohon busuk. Belum lagi cuaca labil, kadang hujan dan kadang panas. Kebanyakan pohon duku itu bibit lama, sangat jarang ada yang tanam baru," ungkapnya.
2. Sifat jamur di tanaman akan menularkan ke daun atau batang yang sehat

Terkait keluhan warga di Desa Singapura mengenai daun duku berjamur, Dian menyebutkan kondisinya sudah sangat parah karena dibiarkan. Sifat jamur di tanaman itu akan menularkan ke daun atau batang yang sehat sehingga berimbas pada penyerbukan buah.
"Jamur itu awalnya sedikit. Kalau kasusnya sudah seperti ini, masih bisa dipangkas bagian yang ada penyakit. Tapi kalau sudah menyebar, butuh fungisida dosis tinggi," ungkapnya.
Untuk di Desa Singapura sendiri, Dian mengakui belum terbentuk kelompok petani duku. Sehingga pihaknya kesulitan memberikan edukasi terkait tanaman duku. Sejauh ini di desa tersebut kelompok tani yang terbentuk baru untuk tanaman padi, kopi, hortikultura, dan karet.
"Kami penyuluh ada kapasitas juga untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Terkadang kita dihadapkan pada tuntutan warga yang meminta solusi atas masalah perkebunan mereka. Namun masalahnya, warga kadang berpikir mengapa harus beli fungisida, mending beli beras. Itu kesulitannya," jelasnya.
3. Duku Komering terkenal dengan kulit tipis dan rasanya manis

Diketahui duku asal Sumsel cukup terkenal dan jika sudah musim panen, maka ratusan peti dikirim menyeberang melalui Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Jika di luar Sumsel orang menyebutnya duku Palembang, maka warga Sumsel menyebutnya Duku Komering.
Karakter duku Komering terkenal dengan kulit tipis dan berwarna kuning cerah, rasa manis, daging buah tebal dan berair. Tak hanya itu, Duku Komering memiliki biji kecil, bahkan beberapa tanpa biji, dan tahan lama dibandingkan dengan duku dari daerah lain.
Hampir semua masyarakat yang menetap di sekitar Sungai Komering, baik di wilayah Kabupaten OKU, OKU Timur, OKU Selatan, maupun di Kabupaten OKI, menanam pohon duku di kebunnya. Tidak sedikit yang menanam belasan hingga puluhan pohon. Selain dari sejumlah wilayah di sepanjang Sungai Komering, di Sumsel duku juga dihasilkan dari sejumlah lokasi seperti Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Namun, duku yang dihasilkan dari Muara Enim dan Muba sedikit memiliki rasa yang cenderung asam.


















