Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Pilu Korban Bus ALS: Satu Keluarga Asal Lampung Tewas di TKP
Keluarga korban asal Lampung tragedi Bus ALS (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
  • Kecelakaan maut antara bus ALS dan truk tangki BBM di Musi Rawas Utara menewaskan 16 orang, termasuk satu keluarga asal Lampung yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak kecil.

  • Hambali, ayah korban, datang ke Palembang untuk menunggu hasil identifikasi keluarganya di RS Bhayangkara setelah mengetahui anak, menantu, dan cucunya menjadi korban kecelakaan tersebut.

  • Sebelum tragedi terjadi, keluarga muda itu berencana merantau ke Pekanbaru untuk menggarap lahan sawit dan membangun rumah impian mereka, namun takdir berkata lain.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
4 Mei 2026

Aldi, Rani, dan Bella berangkat dari Lampung menuju Pekanbaru menggunakan bus ALS untuk merantau dan menggarap lahan kebun sawit keluarga.

6 Mei 2026

Terjadi kecelakaan maut antara bus ALS dan truk tangki BBM di Jalinsum Kecamatan Karang Jaya, Musi Rawas Utara. Sebanyak 16 orang tewas terbakar termasuk satu keluarga asal Lampung.

7 Mei 2026

Hambali tiba di Palembang pukul 7 pagi untuk menunggu proses identifikasi jenazah keluarganya di RS Bhayangkara Moh. Hasan.

kini

Keluarga korban masih menunggu hasil identifikasi Polda Sumsel. Hambali tampak terpukul atas kehilangan anak, menantu, dan cucunya dalam tragedi tersebut.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kecelakaan maut antara bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki BBM di Musi Rawas Utara menyebabkan 16 orang tewas, termasuk satu keluarga asal Lampung yang menjadi korban.
  • Who?
    Korban terdiri dari Aldi (27), Rani (24), dan Bella (2) asal Way Kanan, Lampung. Hambali, ayah Aldi, serta Kamdi, paman Rani, datang ke Palembang untuk menunggu proses identifikasi jenazah oleh Polda Sumsel.
  • Where?
    Kecelakaan terjadi di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara. Proses identifikasi korban berlangsung di RS Bhayangkara Moh. Hasan Palembang.
  • When?
    Peristiwa kecelakaan terjadi pada Rabu, 6 Mei 2026. Keluarga korban tiba di Palembang pada Kamis pagi, 7 Mei 2026 untuk menunggu kabar hasil identifikasi.
  • Why?
    Kecelakaan diduga terjadi akibat tabrakan antara bus ALS dan truk tangki minyak hingga menyebabkan kebakaran hebat. Penyebab pasti masih menunggu hasil penyelidikan aparat kepolisian setempat.
  • How?
    Bus ALS yang membawa penumpang dari Lampung menuju Pekanbaru bertabrakan dengan truk tang
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada bus besar tabrakan sama truk minyak di jalan. Busnya terbakar dan banyak orang meninggal. Ada satu keluarga dari Lampung, namanya Aldi, Rani, dan Bella, juga ikut di bus itu. Keluarganya sedih sekali dan sekarang menunggu kabar di rumah sakit Palembang karena tubuh mereka masih diperiksa polisi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Isapan rokok yang tak henti dari tangan yang bergetar menunjukkan kegelisahan Hambali. Pria berusia 56 tahun itu merupakan keluarga korban kecelakaan maut Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki BBM di Musi Rawas Utara, Rabu (6/5/2026).

Hambali tampak mengenakan kaus hitam dan duduk termenung di posko darurat RS Bhayangkara Moh. Hasan Palembang. Ia menunggu kepastian nasib keluarganya yang masih dalam proses identifikasi oleh tim forensik Polda Sumatra Selatan.

"Baru sampai sini (Palembang) jam 7 pagi tadi diantar saudara naik travel," ujarnya, Kamis (7/5/2026).

1. Satu keluarga korban tewas Bus ALS berangkat dari Lampung 4 Mei 2026

Kondisi bus ALS terbakar di Muratara. (Dok. IDN Times)

Sejak mendapatkan kabar kecelakaan maut bus ALS yang terbakar di Jalinsum Kecamatan Karang Jaya, Musi Rawas Utara, Hambali langsung berangkat menuju ke Palembang dari Way Kanan, Lampung. Sebab, anak, menantu dan cucunya merupakan penumpang dalam tragedi bus ALS. Mereka adalah Aldi (27), Rani (24) dan Bella (2). Mereka berangkat dari Lampung pada 4 Mei 2026.

"Ada cucu dan anak saya di bus tersebut," kata dia sambil menarik napas panjang.

2. Sang anak pergi untuk mencari rezeki

identifikasi jenazah korban bus ALS di Muratara (Dok. Polda Sumsel)

Sembari berkali-kali menghisap tembakau, tatapan mata Hambali tampak tak karuan. Ia pun sesekali tertunduk sambil menggelengkan kepala. Sorot matanya kosong meski menatap layar ponsel.

“Tidak tahu lagi hati saya ini seperti apa. Cucu, anak saya ada dalam bus," ceritanya lagi.

Dia menyampaikan, Aldi hendak berangkat ke Pekanbaru, Riau, untuk menggarap lahan kebun sawit milik keluarganya. Ia pun membawa anak istrinya ke tanah rantau untuk mengubah nasib. Namun, niat itu kandas setelah tragedi kecelakaan bus ALS yang menghantam truk tangki minyak hingga 16 orang tewas terbakar.

“Anak saya itu (Aldi) kerja di Way Kanan serabutan, mau dapat penghasilan lebih jadi berangkat ke Pekanbaru untuk menggarap lahan kebun sawit milik keluarga,” jelas dia.

Sebelum berangkat menaiki bus ALS, Aldi sebetulnya sempat ketinggalan bus. Karena jadwal pada saat itu hanya ada satu bus, ia kemudian langsung berangkat menggunakan bus ALS.

“Sebetulnya berat melepas anak saya mau merantau, tapi terjadi seperti ini akhirnya," kata dia dengan mata berkaca.

3. Harapan satu keluarga bangun rumah kandas karena tragedi Bus ALS

identifikasi jenazah korban bus ALS di Muratara (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Sementara, kata Kamdi (45), paman dari Rani mengatakan, keponakannya itu punya mimpi membangun rumah sendiri untuk keluarga mereka. Karena niat baiknya, Kamdi pun sempat patungan bersama keluarga lain untuk membeli semen dan pasir untuk mencetak batako.

“Karena saya tukang bangunan, saya belikan pasir dan semen untuk cetak batako. Aldi sempat mencetak batako itu 200 buah," cerita Kamdi.

Belum sempat rumah dibangun, Aldi pun mengutarakan rencananya kepada Kamdi untuk merantau ke Pekanbaru menggarap lahan sawit keluarga. Meski sedikit berat, Kamdi akhirnya merestui rencana mereka untuk berangkat.

Namun, takdir berkata lain. Mimpi memiliki rumah di tanah rantau yang diidamkan Aldi pun kandas. Mereka satu keluarga tewas terbakar dalam kecelakaan maut. Saat ini, pihak keluarga masih menunggu hasil identifikasi Polda Sumsel

“Rencananya Rani sama anaknya mau dimakamkan satu liang, suaminya di pisah,” kata Kamdi.

Editorial Team