Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Karhutla Mengintai, 5 Ancaman Kesehatan akibat Kualitas Udara Buruk
Ilustrasi sesak napas (pixabay.com/Al3xanderD)
  • Tahun 2025 Palembang catat peningkatan kasus ISPA Tertinggi di Sumsel

  • Kelompok rentan paling terdampak akibat Karhutla

  • Masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan musim kemarau tahun 2026 berpotensi menimbulkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi iklim tahun ini berpotensi lebih kering dibandingkan dengan normal, dan ada indikasi musim kemarau akan datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang.

Saat ini, sejumlah kawasan masuk dalam skala prioritas penanganan bencana karena berpotensi mengalami karhutla yang disebabkan oleh El Nino. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel juga sudah memetakan 12 kabupaten atau kota yang rawan karhutla karena kemarau diprediksi mulai akhir Mei hingga awal Juni 2026.

Karhutla di Sumsel merupakan ancaman tahunan serius yang melepaskan partikel debu dan gas beracun ke udara. Dampak kesehatan utamanya meliputi peningkatan tajam kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dengan ratusan ribu warga terdampak terutama saat kualitas udara memburuk setiap tahunnya.

1. Tahun 2025 Palembang catat peningkatan kasus ISPA Tertinggi di Sumsel

ilustrasi anak sesak napas (smartparents.sg)

Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel mencatat kasus ISPA di tahun 2025 sebanyak 331.064 orang. Jumlah kasus tertinggi tercatat di Palembang dengan 92.913 kasus, Banyuasin sebanyak 39.710 kasus, Muara Enim 32.996 kasus, Muba 32.745 kasus, dan OKI 26.064 kasus.

Daerah-daerah tersebut juga memiliki populasi terbesar dan aktivitas padat, yang turut memengaruhi angka kasus. Meski demikian, angka tersebut tetap perlu diwaspadai karena menunjukkan tren kenaikan saat perubahan musim.

2. Kelompok rentan paling terdampak akibat Karhutla

ilustrasi sesak napas (pixabay.com/Engin_Akyurt)

Berikut 5 ancaman penyakit yang rentan dialami masyarakat saat Karhutla:

  1. ISPA: Keluhan utama yang dilaporkan warga, seperti batuk, sesak napas, dan tenggorokan sakit.

  2. Asma dan Penyakit Pernapasan Kronis: Paparan asap karhutla sering memicu kambuhnya asma akut.

  3. Iritasi Mata dan Tenggorokan: Asap pekat menyebabkan perih pada mata dan tenggorokan.

  4. Risiko Penyakit Kardiovaskular: Partikel halus dari gambut dapat merusak kesehatan sistemik.

  5. Komorbid (penyakit penyerta): Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, dan orang dengan komorbid adalah yang paling terdampak.

3. Masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat

ilustrasi seseorang sesak napas (freepik.com/freepik)

Dalam mencegah penyakit tersebut, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, terutama sayur dan buah, cuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas dan sebelum makan, serta beristirahat yang cukup.

Kemudian, gunakan jaket atau payung saat keluar rumah agar tidak kedinginan ataupun kehujanan, serta kenakan masker ketika hendak beraktivitas di luar rumah dan tetap jaga etika batuk.

Apabila mengalami gejala seperti batuk, pilek, atau sesak napas, masyarakat diimbau untuk segera periksa ke fasilitas kesehatan agar tidak berkembang menjadi gangguan pernapasan berat. Dinkes Sumsel juga berencana memperkuat pemantauan penyakit berbasis lingkungan dengan melibatkan puskesmas di seluruh kabupaten atau kota, terutama saat potensi karhutla meningkat di penghujung musim kemarau.

Editorial Team