Jejak Panjang Bumbu Hikmah Fajar, dari Pasar Cinde ke Mancanegara

- Bumbu Hikmah Fajar bertahan setengah abad menjual bumbu dapur dari Palembang
- Keinginan bertanformasi sesuai kondisi jaman dimulai Bumbu Hikmah Fajar sejak 2016 silam
- Dengan meningkatnya omset penjualan secara daring dan luring, Bumbu Hikmah Fajar sudah mempunyai tiga cabang di Palembang
Palembang, IDN Times - Berawal dari lapak kecil di Pasar Cinde Palembang, Bumbu Hikmah Fajar kini menembus pasar internasional. Dirintis almarhum H. Askar dan Uni Cinde, usaha bumbu masak ini tumbuh melalui proses panjang, jatuh bangun, hingga berhasil menjual ratusan kemasan per hari dan diminati konsumen di Amerika Serikat serta Australia.
Pada awalnya, H. Askar dan Uni Cinde hanya berjualan kelapa parut. Namun, usaha tersebut berjalan cukup lambat. Melihat pedagang lain di sekitar lapak yang menjual bumbu dan cabai giling, muncul ide untuk mencoba peruntungan baru. Dari keuntungan kecil yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, keduanya akhirnya mampu membeli mesin penggiling cabai.
Langkah itu menjadi titik awal berkembangnya usaha keluarga tersebut. Tidak hanya menjual kelapa parut dan cabai giling, H. Askar dan Uni Cinde mulai meracik serta menjual bumbu masak siap pakai. Berasal dari Bukittinggi, Sumatra Barat, keduanya memiliki bekal pengetahuan dasar dalam meracik bumbu masakan khas Minang.
1. Bertahan setengah abad menjual bumbu dapur dari Palembang

Berjualan sejak medio 1975, Askar dan Uni Cinde berhasil memasarkan bumbu dapur jualannya lebih dari setengah abad. Di tangan generasi kedua, bumbu dapur Hikmah Fajar makin melebarkan sayapnya menuju pasar nasional dan internasional.
Sebagai pemasok bumbu dapur untuk rumah makan Pagi Sore, Hikmah Fajar kini memperluas jangkauannya dengan menjual bumbu dapur secara online. Tujuannya, agar bumbu dapur yang ada dapat dinikmati oleh lebih banyak masyarakat dan mudah didapat.
"Kita mulai merambah pasar online dengan berjualan di Shopee sejak 2023 silam. Awalnya kita hanya berfokus pada produksi saja, belum merambah penjualan online," ungkap Generasi kedua Hikmah Fajar, Novia Ariani, Rabu (21/1/2026).
Novia bercerita, awalnya bumbu dapur yang diracik Hikmah Fajar dijual secara online oleh para reseller. Namun, nasib buruk sempat menimpa dirinya saat seorang reseller menipu dirinya. Saat penjualan secara online sedang menunjukkan hasil yang baik, reseller tersebut justru menghilang.
"Berawal ditipu reseller, akhirnya saya memutuskan untuk menjual sendiri produk Hikmah Fajar secara online. Secara autodidak saya belajar cara berjualan online di platform Shopee, awalnya dari cari informasi di media sosial (YouTube) terlebih dahulu," jelas dia.
2. Mampu jual bumbu dapur hingga ke Kalimantan dan Sulawesi berkat pasar online

Dari kisah penipuan itu, perlahan Novia bersama suaminya mulai bangkit dan berkembang memasarkan bumbu dapur secara daring. Novia pun tak menyangka bumbu dapur yang dijual dirinya bisa menarik minat pembeli luas di Indonesia.
"Tak hanya Jakarta, bumbu dapur kita juga diminati orang-orang di Kalimantan hingga Sulawesi," jelas dia.
Dalam satu hari, Novia mencatat penjualan online dapat terjual hingga 200-300 kemasan perhari. Tak hanya bumbu rendang, bumbu opor, bumbu ayam goreng, malbi, pindang, hingga tekwan yang diracik dari Hikmah Fajar mendapat minat yang lebih luas.
"Saat ini dengan adanya penjualan online, saya dapat menjual 200-300 kemasan per hari. Jika digabung dengan penjualan offline bisa tembus 500 kemasan per hari. Penjualan online membantu menjangkau penjualan lebih luas," ungkap dia.
3. Mulai lakukan inovasi dan transformasi

Keinginan bertranformasi sesuai kondisi jaman dimulai Bumbu Hikmah Fajar sejak 2016 silam. Penjualan bumbu dapur yang awalnya dilakukan secara konservatif di pasar mulai dikemas dengan inovasi untuk menghadirkan kemasan baru yang memiliki kekhasan tersendiri.
"Bersamaan dengan transformasi itu, mutu dan kualitas produk pun terus ditingkatkan.Dengan komitmen menjaga kualitas dan cita rasa, Bumbu Hikmah Fajar diharapkan mampu terus berkembang dan bersaing, tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga menembus pasar internasional," jelas dia.
Pada awalnya, proses pengemasan masih dilakukan secara manual. Hal ini sempat membuat calon konsumen ragu untuk membeli. Dibutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk mengedukasi masyarakat agar percaya terhadap kualitas dan keamanan produk kemasan yang mereka jual.
"Seiring waktu, penjualan pun semakin meluas, terutama melalui online dan Shopee," jelas dia.
4. Jual bumbu dapur hingga ke Amerika dan Australia

Langkah tersebut ternyata mampu membuat Bumbu Hikmah Fajar makin di kenal banyak orang. Jika selama ini, mereka hanya menjual bumbu dapur kepada masyarakat yang datang ke toko, dan rumah makan Pagi Sore, kini permintaan akan bumbu dapur mereka, datang dari konsumen yang tinggal di Amerika Seriktat dan Australia.
"Produk bumbu ini juga telah menembus pasar internasional. Jangkauan terjauh bahkan hingga Amerika Serikat melalui seorang agen yang juga membuka rumah makan di sana. Agen tersebut tertarik karena kualitas bumbu yang dinilai cocok dengan selera konsumen. Selain Amerika, banyak konsumen membeli produk ini sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke Australia," jelas dia.
Menurutnya, konsumen tertarik dengan beragam bumbu dapur yang diproduksi dari dapur Bumbu Hikmah. Tak hanya masakan minang, sejumlah bumbu dapur umum untuk masakan khas Indonesia menjadi daya tarik tersendiri untuk dibawa bahkan untuk sekedar oleh-oleh.
"Beberapa varian bumbu yang paling diminati antara lain rendang, opor, ayam goreng, sambal goreng buncis, dan sop. Produk-produk ini juga menjadi yang paling sering dibawa ke Amerika," jelas dia.
5. Mampu bertansformasi secara luring dan daring

Dengan meningkatnya omset penjualan secara daring dan luring, Bumbu Hikmah Fajar sudah mempunyai tiga cabang di Palembang diantaranya di Pasar Cinde, Pasar Perumnas dan Pasar Lemabang. Ekspansi bisnis bumbu dapur ini juga dilakukan dengan menargetkan pasar ritel yang ada di Palembang.
"Fokus utama kita saat ini memantau ketersediaan stok barang. Dalam satu kali proses memasak, produksi bisa mencapai 200–300 kemasan bumbu, dengan total bahan baku hingga 50 kilogram untuk jenis tertentu, seperti bumbu rendang," jelas dia.
Kini mendekati bulan ramadan, Hikmah Fajar mulai melakukan persiapan untuk menyiapkan bumbu dapur lantaran selalu ada peningkatan jelang ramadan dan hari besar keagamaan.
"Jelang puasa terutama dua minggu sebelum biasanya penjualan mulai meningkat hingga alami kenaikan rata-rata sekitar 30 persen. Saat akan lebaran kembali meningkat tajam bahkan bisa menaikkan omset hingga 10-30 kali lipat dibanding hari biasa, terlebih saat ini sudah ada penjualan online," ungkap dia.
Dari dapur sederhana di Pasar Cinde, Bumbu Hikmah Fajar kini membawa cita rasa lokal Minang dan Palembang ke berbagai penjuru dunia. Perjalanan panjang lintas generasi itu menjadi bukti bahwa usaha kecil dengan konsistensi dan inovasi mampu bersaing di pasar global.


















