Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hujan Mulai Turun di Sumsel, BMKG Ingatkan Musim Kemarau Belum Berakhir
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto (Dok: BMKG)
  • BMKG menegaskan Sumatera Selatan masih berada dalam musim kemarau, meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah pada awal September 2026.
  • Peluang hujan pada 1–6 September diperkirakan bersifat lokal dan tidak merata, dengan curah hujan September umumnya rendah serta cenderung bawah normal.
  • Perkembangan awan konvektif sangat dinamis mengikuti kondisi atmosfer; tren cuaca September diperkirakan serupa Agustus dan belum menandakan perubahan musim menyeluruh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah Sumatra Selatan pada awal September belum menjadi tanda musim kemarau berakhir. BMKG memprediksi peluang hujan masih terjadi secara lokal dan tidak merata.

Pada periode 1–6 September 2026, pertumbuhan awan hujan berpeluang muncul di sejumlah wilayah Sumsel. Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh daerah akan mengalami hujan secara merata setiap harinya.

"Secara umum peluang pertumbuhan awan hujan di Sumsel kemungkinan tidak merata di seluruh wilayah," ungkap Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, kepada IDN Times, Selasa (1/9/2026).

1. Hujan masih bersifat lokal di Sumsel

ilustrasi hujan lebat akibat topan (unsplash.com/abingol)

Siswanto menilai, Sumsel masih berada dalam periode musim kemarau. Selain itu, prediksi curah hujan September secara umum berada pada kategori rendah dan cenderung di bawah normal.

"Karena itu, hujan yang muncul di sejumlah daerah diperkirakan lebih bersifat lokal atau sporadis. Kondisi cuaca antardaerah pun dapat berbeda, tergantung perkembangan atmosfer di masing-masing wilayah," jelasnya.

2. Perkembangan awan konvektif terjadi dinamis

Ilustrasi hujan di jendela (pexels.com/Chris F)

Siswanto menjelaskan bahwa potensi awan hujan tidak bisa dilihat hanya dari kondisi satu hari. Perkembangannya sangat dinamis dan dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang dapat berubah dengan cepat.

"Perkembangan awan konvektif sangat dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer," ujarnya.

3. Kemarau masih akan berlangsung hingga September

Ilustrasi hujan (Unsplash.com/Alvin Leopold)

Untuk tren cuaca selama September, Siswanto memperkirakan kondisinya tidak akan jauh berbeda dibandingkan Agustus. Potensi hujan tetap ada, tetapi belum menunjukkan perubahan pola musim secara menyeluruh.

Karena itu, hujan yang terjadi di sejumlah wilayah belum dapat dijadikan patokan bahwa musim kemarau di Sumsel telah berakhir.

Curated For You

Editorial Team

Related Article