Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cerita Guru Ngaji Bukittinggi, Berhasil Naik Haji dan Sentuh Kakbah
Busnela, guru mengaji yang naik haji dan menyentuh ka'bah (Foto: Kemenhaj Sumbar)
  • Busnela, guru mengaji asal Bukittinggi, akhirnya menunaikan ibadah haji setelah menunggu sejak 2014, menjadikannya jawaban atas doa masa kecilnya untuk bisa ke Tanah Suci.
  • Ia berhasil menyentuh Ka'bah dan berdoa di Multazam dengan penuh haru, memanfaatkan kemampuan bahasa Arabnya untuk beribadah secara mandiri dan membantu jemaah lain.
  • Busnela menilai kesabaran dan ketenangan sebagai kunci kelancaran berhaji serta mengapresiasi pelayanan haji Indonesia 2026 yang dinilainya memuaskan bagi para jemaah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Padang, IDN Times - Kamis, 11 Juni 2026, ratusan jemaah haji mulai turun dari pesawat yang ditumpanginya. Satu per satu dari mereka mulai menapakkan kaki di tanah Minangkabau usai menempuh perjalanan dari Tanah Suci Makkah.

Seorang perempuan paruh baya tampak sangat bahagia setelah menjalankan ibadah haji. Matanya berkaca-kaca. Air matanya tak terbendung dan akhirnya tumpah. Namanya Busnela. Seorang perempuan yang berprofesi sebagai guru mengaji yang berasal dari sebuah kampung kecil di Guguak Tabek Sarojo, Kecamatan IV Koto, Bukittinggi.

Ketika berbicara tentang pengalaman berhaji, suara perempuan yang sehari-hari mengajar Alquran dan tahfiz itu beberapa kali bergetar.

1. Jawaban doa masa kecil

Jemaah Haji embarkasi Padang menaiki pesawat untuk melakukan perjalanan Haji 2026 (Foto: Kemenhaj Sumbar)

Baginya, perjalanan sebagai jemaah haji Bukittinggi tahun ini bukan sekadar menunaikan rukun Islam kelima, tetapi juga jawaban atas doa yang telah dipanjatkan sejak masa kecil.

“Saya terharu. Rasa ini enggak mau pulang. Mau di situ rasanya. Saya bilang, ‘Ya Allah, berilah aku rezeki kapan lagi ke sini, ya Allah’,” katanya sambil menahan tangis.

Busnela bukan sosok yang asing dengan dunia pendidikan Islam. Ia pernah menempuh pendidikan di LIPIA Jakarta, cabang dari Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Su'ud Arab Saudi. Kemampuannya berbahasa Arab menjadi bekal berharga selama menjalani ibadah haji.

“Saya kebetulan bisa bahasa Arab. Saya kuliah dulu di LIPIA Jakarta. Jadi, apa pun urusan yang saya kerjakan sendiri, alhamdulillah tak ada kesulitan. Saya jemaah yang mandiri, di mana pun sendiri. Alhamdulillah, saya sehat, tak ada sakit,” katanya.

Di tengah jutaan manusia yang datang dari berbagai negara, kemampuan berbahasa Arab membuatnya lebih mudah berkomunikasi dengan petugas keamanan maupun masyarakat setempat. Namun, menurutnya, kemudahan yang ia rasakan bukan semata-mata karena bahasa.

“Pokoknya kita kalau untuk ke Makkah ini hati kita dibersihkan,” tuturnya.

2. Menyentuh Kakbah

Jemaah Haji embarkasi Padang menaiki pesawat untuk melakukan perjalanan Haji 2026 (Foto: Kemenhaj Sumbar)

Momen paling membekas baginya terjadi saat berada di sekitar Kakbah dan Multazam. Di tempat yang diyakini sebagai salah satu lokasi mustajab untuk berdoa itu, Busnela mengaku tak kuasa menahan haru.

Ia berhasil menyentuh Ka'bah setelah melakukan tawaf seorang diri. Di tengah kepadatan jamaah, ia memilih bergerak secara mandiri dibandingkan dengan mengikuti rombongan besar.

“Alhamdulillah bisa pegang Ka'bah. Kalau mencium agak kesulitan. Saya pergi sendiri bisa pergi ke Ka'bah,” ujarnya.

Air matanya kembali mengalir ketika mengenang salat di dekat Multazam. Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika doa-doa yang selama ini hanya dipanjatkan dari kampung kecilnya di Bukittinggi akhirnya terucap langsung di depan Baitullah.

“Saya dari dulu ingin sekali ke Makkah, dari kecil suka mengantarkan orang ke Makkah. Ya Allah, saya mengantar orang ke Makkah. Kapan saya ini diantar ke orang lain ya? Saya kan cuma guru mengaji, ngajar Alquran dengan ngajar tahfiz,” katanya.

Selama berada di Madinah, Busnela juga kerap membantu jamaah lain, terutama saat memasuki Raudhah. Kemampuan bahasa Arab yang dimilikinya membuat ia beberapa kali menjadi tempat bertanya jamaah lain yang mengalami kesulitan.

“ Oh iya, ada saya bantu jemaah waktu mau ke Raudah,” katanya.

3. Kunci kelancaran ibadah haji

Busnela, guru mengaji yang naik haji dan menyentuh ka'bah (Foto: Kemenhaj Sumbar)

Menurut Busnela, salah satu kunci kelancaran selama berhaji adalah kesabaran dan ketenangan. Ia mengaku selalu berusaha menghindari kerumunan besar dan memilih mengikuti aturan yang berlaku.

Di luar pengalaman spiritual, ia juga memberikan apresiasi terhadap pelayanan penyelenggaraan haji Indonesia 2026 yang menurutnya berjalan baik.

“Kalau pelayannya alhamdulillah. Pokoknya alhamdulillah memuaskan. Seperti sekarang kan Kemenhaj perdana. Alhamdulillah, memuaskan jemaah,” ujarnya.

Busnela merupakan bagian dari Kloter PDG 7 Debarkasi Padang yang mendarat di Bandara Internasional Minangkabau pada Kamis.

Bagi Busnela, perjalanan ini menjadi bukti bahwa harapan yang dipelihara puluhan tahun dapat menemukan jalannya sendiri.

Setelah menunggu sejak mendaftar pada 2014, ia akhirnya berdiri di hadapan Ka'bah, menyentuh kiswah yang selama ini hanya dilihat dari kejauhan, dan pulang dengan hati yang penuh syukur.

“Pokoknya, kemudahan enggak ada kesulitan yang saya rasakan. Alhamdulillah itulah,” katanya.

Kisah jemaah haji Bukittinggi ini menjadi potret sederhana tentang keteguhan seorang guru mengaji yang mengabdikan hidupnya untuk Al-Qur'an.

Dari kampung kecil di lereng Bukittinggi hingga berdiri di depan Ka'bah, Busnela percaya bahwa setiap kemudahan yang ia rasakan adalah pertolongan Allah yang datang pada waktu terbaik.

Editorial Team

Related Article