Busnela, guru mengaji yang naik haji dan menyentuh ka'bah (Foto: Kemenhaj Sumbar)
Menurut Busnela, salah satu kunci kelancaran selama berhaji adalah kesabaran dan ketenangan. Ia mengaku selalu berusaha menghindari kerumunan besar dan memilih mengikuti aturan yang berlaku.
Di luar pengalaman spiritual, ia juga memberikan apresiasi terhadap pelayanan penyelenggaraan haji Indonesia 2026 yang menurutnya berjalan baik.
“Kalau pelayannya alhamdulillah. Pokoknya alhamdulillah memuaskan. Seperti sekarang kan Kemenhaj perdana. Alhamdulillah, memuaskan jemaah,” ujarnya.
Busnela merupakan bagian dari Kloter PDG 7 Debarkasi Padang yang mendarat di Bandara Internasional Minangkabau pada Kamis.
Bagi Busnela, perjalanan ini menjadi bukti bahwa harapan yang dipelihara puluhan tahun dapat menemukan jalannya sendiri.
Setelah menunggu sejak mendaftar pada 2014, ia akhirnya berdiri di hadapan Ka'bah, menyentuh kiswah yang selama ini hanya dilihat dari kejauhan, dan pulang dengan hati yang penuh syukur.
“Pokoknya, kemudahan enggak ada kesulitan yang saya rasakan. Alhamdulillah itulah,” katanya.
Kisah jemaah haji Bukittinggi ini menjadi potret sederhana tentang keteguhan seorang guru mengaji yang mengabdikan hidupnya untuk Al-Qur'an.
Dari kampung kecil di lereng Bukittinggi hingga berdiri di depan Ka'bah, Busnela percaya bahwa setiap kemudahan yang ia rasakan adalah pertolongan Allah yang datang pada waktu terbaik.