Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi tes HIV (pexels.com/Karola G)
  • Dinkes Palembang mencatat 463 kasus HIV/AIDS sepanjang Januari-Oktober 2026, terdiri dari 422 HIV dan 41 AIDS; penambahan tertinggi terjadi pada September dengan 53 kasus.

  • Kelompok lelaki seks dengan lelaki menjadi temuan paling menonjol. Dinkes menyebut kenaikan kasus juga dipengaruhi perluasan skrining pada calon pengantin, ibu hamil, dan kelompok berisiko.

  • Orang dengan HIV dapat beraktivitas normal melalui terapi ARV rutin, sedangkan deteksi dini dan skrining diperlukan agar pengobatan segera diberikan serta risiko penularan berkurang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Palembang mencatat 463 kasus HIV/AIDS dari Januari hingga Oktober 2026. Dari total tersebut, sebanyak 422 orang terdiagnosis HIV, sedangkan 41 lainnya sudah memasuki tahap AIDS. Data tersebut menunjukkan bahwa kasus HIV/AIDS masih menjadi perhatian di Palembang. Bahkan, penambahan tertinggi terjadi pada September 2026 dengan 53 kasus dalam satu bulan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Palembang, Putri Damayanti, mengatakan temuan kasus baru tidak terlepas dari pemeriksaan kesehatan yang terus diperluas. Petugas medis melakukan skrining terhadap sejumlah kelompok masyarakat, mulai dari calon pengantin, ibu hamil, hingga mereka yang memiliki faktor risiko penularan.

"Setiap bulan penderita HIV/AIDS di Palembang terus bertambah. Hingga Oktober 2026, tercatat ada 463 kasus di Palembang," ungkap Putri Damayanti, Jumat (6/11/2026).

1. Kelompok LSL menjadi penyumbang kasus paling menonjol

ilustrasi HIV (IDN Times/NRF)

Dari hasil pendataan Dinkes Palembang, kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL) menjadi kelompok dengan temuan kasus HIV/AIDS paling menonjol. Kondisi ini menjadi salah satu perhatian dalam upaya pengendalian penyebaran penyakit tersebut.

"Paling menonjol dari kelompok pelaku seks sesama jenis laki-laki," kata dia.

Putri menjelaskan, kenaikan jumlah penderita setiap bulan tidak selalu menggambarkan peningkatan penularan secara langsung. Sebab, semakin banyak pemeriksaan yang dilakukan juga membuka peluang ditemukannya kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi.

Bahkan, sebagian orang baru mengetahui status kesehatannya setelah menjalani pemeriksaan oleh tenaga medis. Sebelumnya, mereka tidak merasakan keluhan yang membuat mereka curiga telah terinfeksi HIV.

"Mereka baru tahu karena skrining oleh tenaga medis. Sebelumnya tidak tahu sama sekali," kata Putri.

2. Penderita HIV masih bisa menjalani aktivitas normal

ilustrasi penyintas HIV (pexels.com/Anna Shvets)

Putri menyebut, orang yang terdiagnosis HIV tetap memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan sehari-hari seperti masyarakat pada umumnya. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah menjalani terapi antiretroviral (ARV) dan mengonsumsi obat secara teratur.

Meski demikian, risiko penularan tetap perlu diperhatikan. Virus HIV dapat berpindah melalui pertukaran cairan tubuh tertentu, seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan rektum, serta air susu ibu. Risiko penularan seksual dapat ditekan hingga tidak terjadi ketika penderita menjalani terapi secara konsisten dan jumlah virus dalam darah berhasil ditekan sampai tidak terdeteksi.

"Kalau masih HIV, masih bisa beraktivitas seperti biasa atau hidup normal dengan syarat menjalani terapi ART dan minum obat rutin. Tapi, penularan masih ada," kata dia.

Sementara itu, penderita yang sudah memasuki tahap AIDS membutuhkan penanganan medis lebih lanjut. Perawatan di rumah sakit dapat diperlukan untuk mengatasi berbagai infeksi oportunistik maupun komplikasi, seperti tuberkulosis, pneumonia, dan infeksi berat lainnya.

3. Skrining menjadi langkah penting menekan penularan

ilustrasi orang yang melakukan tes untuk HIV (unsplash.com/Hush Naidoo Jade Photography)

Dinkes Palembang mengingatkan masyarakat agar lebih memperhatikan faktor risiko penularan HIV/AIDS. Menghindari perilaku seksual berisiko dan menerapkan pola hidup sehat menjadi bagian dari upaya pencegahan.

Masyarakat yang merasa memiliki faktor risiko juga diminta untuk tidak menunda pemeriksaan kesehatan. Skrining diperlukan untuk mengetahui status HIV sedini mungkin sehingga penanganan dapat segera diberikan. Putri menegaskan, pemeriksaan sejak awal tidak hanya membantu penderita mendapatkan pengobatan, tetapi juga menjadi salah satu cara mengurangi risiko penularan kepada orang lain.

"Deteksi dini sangat penting agar bisa diobati dan mencegah penularan," jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article