Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hujan di Beberapa Wilayah Sumsel Turunkan Kabut Asap
Kondisi Karhutla di wilayah Sumsel (Dok: istimewa)

Palembang, IDN Times - Dalam satu hari terakhir hujan kembali mengguyur sejumlah wilayah di Sumatra Selatan (Sumsel), termasuk kota Palembang. Hujan yang mengguyur dalam intensitas rendah dan sedang berdampak pada penurunan kepekatan kabut asap sejak dua pekan terakhir.

Berdasarkan data dari Stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), konsentrasi partikulat atau PM 2.5 di Palembang berada pada kualitas sedang, atau sekitar 57.00 mikrogram per meter kubik pada pukul 09.00 WIB.

"Adanya hujan dan usaha keras satgas di lapangan sangat membantu," ungkap Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, Selasa (19/9/2023).

1. TMC terus dilakukan sampai 21 September

Kabut Asap menutupi Kota Palembang pagi ini, Jumat (1/9/2023). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Kepala Bidang Kedaruratan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansori mengatakan, hujan yang terjadi di beberada daerah Sumsel berasal dari Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Proses TMC dilakukan sejak 16 hingga 21 September mendatang.

"Keberhasilan hujan dari TMC juga memang karena ada awan hujan. Sehingga dimaksimalkan lagi agar awannya tidak pecah. TMC terus dilakukan sampai 21 nanti sesuai dengan prediksi dari BMKG," jelas dia.

2. Hujan masih terbilang ringan

Kabut Asap menutupi Kota Palembang pagi ini, Jumat (1/9/2023). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Ansori menilai, curah hujan masih terbilang ringan. Namun kondisi itu sudah cukup membantu penanganan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

"Biasanya hujan pertama itu tambah parah, asap makin naik. Tapi hari ini lumayan bagus karena material asap berhasil terbawa hujan," jelas dia.

3. Kasus karhutla 2023 meningkat

Ilustrasi penanganan karhutla (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Ansori menambahkan, kasus karhutla terparah berada di wilayah OKI. Sejak Januari hingga Agustus 2024, pihaknya mencatat ada 2.625 hektare (Ha) lahan yang terbakar. Kasus ini melonjak jika dibandingkan tahun sebelumnya yang membakar sekitar 133 Ha.

"Tahun ini memang lebih kering daripada sebelumnya, sehingga luas lahan yang terbakar juga bertambah," tutup dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article