Napiter di Sumbar Bebas, Densus Serahkan ke Keluarga dan Masyarakat

- Ayu dibebaskan dan diserahkan ke keluarga serta masyarakat untuk berkontribusi positif bagi NKRI.
- Harapkan sinergitas seluruh pihak dalam menjaga ketahanan masyarakat terhadap paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.
- Yulita terjebak terorisme setelah mencari dakwah tentang Islam di media sosial dan akhirnya dipercaya sebagai admin di berbagai media sosial.
Padang, IDN Times - Setelah pengakuan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada Agustus 2025 lalu, Riska Ayulita resmi dibebaskan dari hukuman yang telah ia jalani. Perempuan asal Kabupaten Tanah Datar tersebut dikembalikan ke masyarakat dan keluarga pada Selasa (10/2/2026) kemarin oleh Datasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.
"Penyerahan kepada keluarga dan lingkungan sosial itu kami lakukan dalam hal integrasi sosial terhadap mantan narapidana teroris," kata Kasatgaswil Sumbar Densus 88 AT Polri, Kombes Pol Jim Briliant Birnes, Rabu (11/2/2026).
1. Diserahkan ke keluarga

Ia menyampaikan, Ayu diharapkan dapat berkontribusi positif bagi NKRI setelah kebebasannya dan tidak kembali ke lembah terorisme seperti sebelumnya.
"Yang bersangkutan juga diharapkan dapat berbagi pengalaman sebagai narasumber dalam kegiatan sosialisasi pencegahan tindak pidana terorisme nantinya," katanya.
Dengan begitu, menurutnya hal tersebut bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat agar tidak masuk ke jurang yang sama dalam gerakan terorisme apapun.
2. Harapkan sinergitas seluruh pihak

Selain itu, ia berharap integritas sosial berjalan efektif untuk menjaga ketahanan masyarakat terhadap paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme dan terorisme.
"Untuk itu, diharapkan sinergitas antara aparat keamanan, keluarga, pemerintah daerah dan masyarakat untuk menjaga keamanan dan kenyamanan di NKRI ini," katanya.
Ia mengatakan, masyarakat bisa memberitahukan kepada pihak keamanan jika ada yang dicurigai di lingkungan masyarakat terkait adanya paham-paham tersebut.
3. Kenapa Ayu bisa terseret terorisme?

Sementara itu, Riska Ayulita mengaku dirinya terjebak terorisme jaringan Jemaah Ansharut Daulah (JAD) ketika mencari dakwah tentang Islam di media sosial beberapa tahun silam.
"Saat itu saya menemukan sebuah dakwah yang tidak biasa saya dengar tentang perjuangan dan juga jihad yang membuat saya yakin kalau itu adalah jalan yang benar," kata perempuan yang akrab disapa Yulita itu.
Setelah mengikuti berbagai kegiatan di media sosial tersebut, Yulita diminta untuk membuat poster dan banner tentang perjuangan yang salah itu.
"Karena saya memang suka desain grafis, makanya permintaan itu saya penuhi dan seiring berjalannya waktu saya dipercaya sebagai admin di berbagai media sosial seperti Telegram, Twitter dan lainnya," katanya.
Yulita mengaku, tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang tergabung dalam gerakan JAD yang dinyatakan bertentangan dengan NKRI tersebut.
"Saya hanya berhubungan melalui media sosial saja dan tidak pernah juga mengikuti pertemuan-pertemuannya. Mungkin yang lain ada, tapi saya tidak pernah," katanya.


















