- Pemerintah Daerah: kekurangan SDM yang paham desain berornamen tanjak, keterbatasan anggaran, serta kurangnya koordinasi antar dinas.
- Arsitek: tantangan dalam memadukan estetika tanjak dengan desain modern serta biaya tambahan konstruksi.
- Masyarakat: minimnya pemahaman tentang makna tanjak, kurangnya ketertarikan visual dan kekhawatiran biaya pembangunan.
Merawat Identitas Lewat Pelestarian Arsitektur: Tanjak sebagai Ornamen Jati Diri Budaya Palembang

- Peraturan Gubernur Sumsel No. 7 Tahun 2022 mewajibkan ornamen tanjak pada bangunan pemerintah, BUMN, fasilitas umum, dan bangunan swasta di kawasan cagar budaya.
- Tantangan dalam implementasi pergub ini meliputi kekurangan SDM yang paham desain berornamen tanjak, keterbatasan anggaran, serta minimnya pemahaman masyarakat tentang makna tanjak.
- Implementasi Pergub memantik minat generasi muda terhadap sejarah kotanya sendiri dan bisa menjadi bentuk pendidikan karakter yang dilakukan tanpa kata-kata.
Sejak diberlakukannya Peraturan Gubernur Sumsel No. 7 Tahun 2022, tentang arsitektur bangunan gedung berornamen jati diri budaya, wajah arsitektur Kota Palembang perlahan berubah. Aturan ini mewajibkan penggunaan ornamen tanjak, mahkota tradisional khas Palembang pada bangunan pemerintah, BUMN, fasilitas umum, dan bangunan swasta di kawasan cagar budaya. Langkah ini menjadi tonggak pelestarian budaya lokal dalam arsitektur modern.
Tanjak bukan hanya hiasan kepala para raja dan bangsawan masa lampau, tetapi simbol kejayaan dan jati diri masyarakat Palembang. Bentuk segitiga yang dilipat dari kain songket emas atau batik khas, kini diadopsi dalam bentuk ornamen bangunan yang menghiasi atap, fasad, hingga gerbang gedung-gedung di seluruh kota.
Melalui penelitian, berdasarkan hasil observasi dan dokumentasi lapangan pada pertengahan tahun 2025, sedikitnya 10 bangunan pemerintah, tiga kantor BUMN, empat fasilitas umum, dan satu bangunan swasta telah menerapkan ornamen tanjak dalam desain mereka. Misalnya, kantor Gubernur Sumatera Selatan, SMA Negeri Plus 17 Palembang, hingga Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II menampilkan tanjak dalam bentuk proporsional, terbuat dari bahan logam tahan cuaca dan diletakkan secara estetis pada bangunan.
Tantangan dari tiga perspektif

Dalam wawancara terbuka dengan narasumber dari pemerintah, arsitek, dan masyarakat, ditemukan beberapa tantangan utama dalam implementasi pergub ini:
Perbandingan antara bangunan sebelum dan sesudah diberlakukannya pergub menunjukkan transformasi besar. Dulu, bangunan cenderung bergaya modern minimalis, kini tampil lebih berkarakter dengan sentuhan lokal. Di sisi regulasi, terjadi peningkatan kepatuhan terhadap aturan pembangunan karena adanya pengawasan aktif dari dinas terkait.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pergub Sumsel No. 7 Tahun 2022 sudah berhasil diterapkan secara bertahap. Meski masih ada kendala, sinergi antara pemerintah, arsitek dan masyarakat menjadi kunci agar identitas lokal tetap hidup dan hadir nyata dalam lanskap kota.
Tanjak tak hanya ornamen, tapi arah baru estetika Kota Palembang

Palembang, kota yang dahulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya, kini mencoba merekonstruksi identitasnya melalui pendekatan visual dan ruang. Penerapan ornamen tanjak bukan hanya strategi pelestarian budaya, tetapi juga langkah strategis untuk memperkuat narasi visual kota, bahwa ruang publik bisa menjadi cerminan nilai, sejarah, dan martabat lokal. Tanjak di era ini bukan lagi benda yang dikenakan di kepala para raja, tapi kini "bersemayam" di atap-atap gedung sebagai simbol kebesaran yang bersifat inklusif, bisa dinikmati oleh siapa saja, tanpa perlu mengenakannya.
Kota modern kerap kehilangan arah identitas karena dominasi arsitektur global yang seragam. Kehadiran ornamen tanjak dalam desain gedung menjadi penanda bahwa Palembang memilih jalannya sendiri: membangun kota tanpa melepaskan akar budaya.
Hal ini sekaligus menjadi bentuk diplomasi budaya, cara memperkenalkan nilai lokal tanpa harus mengatakannya. Ketika wisatawan melintasi jalan protokol dan menyaksikan gapura, halte, hingga rumah sakit berhiaskan tanjak, mereka disapa oleh narasi budaya yang hidup di tiap sudut kota.
Kesadaran estetik baru untuk generasi muda

Menariknya, implementasi Pergub ini juga memantik minat generasi muda terhadap sejarah kotanya sendiri. SMA Negeri Plus 17 Palembang, sebagai salah satu sekolah yang telah menerapkan ornamen tanjak di gerbang sekolahnya, menjadi contoh nyata bahwa pendidikan bisa dimulai dari lingkungan visual. Pelajar yang melewati gerbang dengan tanjak bukan hanya disambut oleh simbol, tetapi oleh identitas yang hidup dan berkembang. Ini adalah bentuk pendidikan karakter yang dilakukan tanpa kata-kata.
Ke depan, semestinya regulasi ini tidak berhenti hanya pada bangunan formal atau milik negara. Pemerintah bisa mendorong program insentif bagi pengembang swasta atau pemilik rumah yang ingin mengadopsi ornamen tanjak secara kreatif dalam desain hunian, kafe, hotel, hingga pusat perbelanjaan. Lebih dari itu, sekolah arsitektur di Sumatera Selatan pun bisa menjadikan arsitektur berornamen tanjak sebagai kurikulum lokal unggulan. Ini akan mencetak arsitek-arsitek masa depan yang punya sensitivitas budaya tinggi.
Tanjak di gedung bukan hanya ornamen estetika. Ia adalah wujud arsitektur yang berbicara: tentang asal-usul, tentang nilai-nilai yang ingin dirawat dan tentang masa depan kota yang dibangun dari warisan budaya yang berharga. Palembang sedang memberi contoh bahwa membangun tidak selalu harus meninggalkan akar. Justru dari akar itulah, kota bisa tumbuh menjulang dengan tanjak sebagai simbolnya.
Tanjak sebagai Medium Komunikasi Budaya

Kehadiran tanjak dalam elemen arsitektur kini tidak lagi sekadar dekorasi visual. Tanjak telah berkembang menjadi medium komunikasi budaya yang 'sunyi namun bersuara'. Tanpa kata, tanjak menyampaikan pesan tentang siapa kita, dari mana kita berasal dan nilai apa yang hendak kita wariskan ke generasi mendatang. Di era informasi yang cepat dan visual yang mendominasi, pendekatan seperti ini relevan. Tanjak menjadi bahasa arsitektur yang menyampaikan narasi kebudayaan kepada siapa pun yang melintas, tanpa harus membaca buku sejarah atau memasuki museum.
Jika dulu perwujudan identitas kultural hadir dalam bentuk kesenian tradisional atau busana, kini identitas itu dirajut ulang melalui desain kota. Dengan tanjak, estetika lokal mengambil ruangnya kembali di tengah dominasi gaya modern global yang cenderung homogen. Bangunan berornamen tanjak bukan hanya menjadi estetika kota, tetapi juga sebagai "pengingat visual" akan akar budaya.
Ini penting di tengah generasi muda yang tumbuh di era digital dan mudah terpapar budaya luar. Tanjak membantu mereka tetap terkoneksi dengan nilai lokal.
Palembang bisa menjadikan tanjak sebagai ekosistem, bukan sekadar elemen hias. Misalnya, desain halte, signage kota, pedestrian, bahkan penerangan jalan dapat diberi sentuhan tanjak. Dengan begitu, tanjak menjadi benang merah visual yang menyatukan berbagai elemen kota ke dalam narasi tunggal: Palembang yang berkarakter dan membumi.
Tidak hanya itu, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga dapat bergerak dari konsep ini. Produk oleh-oleh, merchandise, atau bahkan branding kawasan wisata dapat mengangkat tanjak sebagai ikon visual yang dikenali secara nasional.
Kolaborasi arsitektur dan komunitas budaya

Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, komunitas arsitek dan pelaku budaya lokal sangat dibutuhkan untuk memperkaya interpretasi tanjak dalam desain bangunan. Inovasi bentuk, bahan, hingga integrasi teknologi digital (seperti augmented reality berbasis tanjak di ruang publik) bisa menjadi langkah progresif tanpa meninggalkan ruh tradisinya. Dengan keterlibatan komunitas lokal, tanjak bukan hanya milik sejarah, tetapi juga milik warga hari ini dan masa depan.
Banyak kota besar di dunia, seperti Kyoto, Fez, atau Yogyakarta menjadi magnet wisata dan budaya karena berhasil mempertahankan warisan lokal dalam pembangunan kotanya. Palembang memiliki potensi serupa. Dengan regulasi yang konsisten dan pendekatan yang holistik, tanjak bisa menjadi “penanda tempat” (place marker) yang tidak dimiliki kota lain. Inisiatif ini bukan hanya urusan estetika, tapi strategi jangka panjang untuk menjadikan Palembang sebagai kota yang berkembang tanpa kehilangan arah.
Di masa depan, kota-kota besar akan bersaing bukan hanya dalam kecepatan dan teknologi, tapi dalam keunikan dan karakter. Palembang telah memulai langkah penting dengan tanjak sebagai simpul visual budaya. Kini saatnya memperkuat langkah ini: dari kebijakan ke partisipasi, dari desain ke kesadaran, dari ornamen ke narasi. Dan pada akhirnya, tanjak tak hanya berdiri di atas bangunan, tapi tumbuh dalam kesadaran kolektif warganya.
Opini oleh:
Ar. Akhmad Hamdi Asysyauki, S.T., M.P.W.K., IAI., HDII.
Pengamat Perkotaan/Dosen Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang


















