Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dari Ornamen ke Narasi: Tanjak Sebagai Komunikasi Budaya Kota Palembang (3)

Ornamen tanjak di gerbang masuk SMA Plus Negeri 17 Palembang
Ornamen tanjak di gerbang masuk SMA Plus Negeri 17 Palembang (Dok Pribadi. Ar. Akhmad Hamdi Asysyauki)

Kehadiran tanjak dalam elemen arsitektur kini tidak lagi sekadar dekorasi visual. Tanjak telah berkembang menjadi medium komunikasi budaya yang 'sunyi namun bersuara'. Tanpa kata, tanjak menyampaikan pesan tentang siapa kita, dari mana kita berasal dan nilai apa yang hendak kita wariskan ke generasi mendatang.

Di era informasi yang cepat dan visual yang mendominasi, pendekatan seperti ini relevan. Tanjak menjadi bahasa arsitektur yang menyampaikan narasi kebudayaan kepada siapa pun yang melintas, tanpa harus membaca buku sejarah atau memasuki museum.

Revitalisasi Identitas Lewat Estetika Lokal

Ornamen tanjak di gerbang masuk Rumah Dinas Gubernur Sumsel atau Griya Agung, Palembang
Ornamen tanjak di gerbang masuk Rumah Dinas Gubernur Sumsel atau Griya Agung, Palembang (Dok Pribadi. Ar. Akhmad Hamdi Asysyauki)

Jika dulu perwujudan identitas kultural hadir dalam bentuk kesenian tradisional atau busana, kini identitas itu dirajut ulang melalui desain kota. Dengan tanjak, estetika lokal mengambil ruangnya kembali di tengah dominasi gaya modern global yang cenderung homogen.

Bangunan berornamen tanjak bukan hanya menjadi estetika kota, tetapi juga sebagai "pengingat visual" akan akar budaya. Ini penting di tengah generasi muda yang tumbuh di era digital dan mudah terpapar budaya luar. Tanjak membantu mereka tetap terkoneksi dengan nilai lokal.

Palembang bisa menjadikan tanjak sebagai "ekosistem', bukan sekadar elemen hias. Misalnya, desain halte, signage kota, pedestrian, bahkan penerangan jalan dapat diberi sentuhan tanjak. Dengan begitu, tanjak menjadi benang merah visual yang menyatukan berbagai elemen kota ke dalam narasi tunggal: Palembang yang berkarakter dan membumi.

Tidak hanya itu, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga dapat bergerak dari konsep ini. Produk oleh-oleh, merchandise, atau bahkan branding kawasan wisata dapat mengangkat tanjak sebagai ikon visual yang dikenali secara nasional.

Kolaborasi Arsitektur dan Komunitas Budaya

Ornamen tanjak di gerbang masuk Bandara Internasional SMB II Palembang
Ornamen tanjak di gerbang masuk Bandara Internasional SMB II Palembang (Dok Pribadi. Ar. Akhmad Hamdi Asysyauki)

Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, komunitas arsitek dan pelaku budaya lokal sangat dibutuhkan untuk memperkaya interpretasi tanjak dalam desain bangunan. Inovasi bentuk, bahan, hingga integrasi teknologi digital (seperti augmented reality berbasis tanjak di ruang publik) bisa menjadi langkah progresif tanpa meninggalkan ruh tradisinya.

Dengan keterlibatan komunitas lokal, tanjak bukan hanya milik sejarah, tetapi juga milik warga hari ini dan masa depan.

Menuju Palembang sebagai Kota Warisan Budaya Hidup

Pengamat Perkotaan / Dosen Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang Ar. Akhmad Hamdi Asysyauki
Pengamat Perkotaan / Dosen Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang Ar. Akhmad Hamdi Asysyauki (Dok Pribadi)

Banyak kota besar di dunia, seperti Kyoto, Fez, atau Yogyakarta menjadi magnet wisata dan budaya karena berhasil mempertahankan warisan lokal dalam pembangunan kotanya. Palembang memiliki potensi serupa.

Dengan regulasi yang konsisten dan pendekatan yang holistik, tanjak bisa menjadi “penanda tempat” (place marker) yang tidak dimiliki kota lain. Inisiatif ini bukan hanya urusan estetika, tapi strategi jangka panjang untuk menjadikan Palembang sebagai kota yang berkembang tanpa kehilangan arah.

Di masa depan, kota-kota besar akan bersaing bukan hanya dalam kecepatan dan teknologi, tapi dalam keunikan dan karakter. Palembang telah memulai langkah penting dengan tanjak sebagai simpul visual budaya.

Kini saatnya memperkuat langkah ini: dari kebijakan ke partisipasi, dari desain ke kesadaran, dari ornamen ke narasi. Dan pada akhirnya, tanjak tak hanya berdiri di atas bangunan, tapi tumbuh dalam kesadaran kolektif warganya.

Opini oleh:

Ar. Akhmad Hamdi Asysyauki, S.T., M.P.W.K., IAI., HDII.

Pengamat Perkotaan/Dosen Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hafidz Trijatnika
EditorHafidz Trijatnika
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More

Dari Ornamen ke Narasi: Tanjak Sebagai Komunikasi Budaya Kota Palembang (3)

21 Jan 2026, 19:54 WIBNews