TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Muba Punya Pabrik Aspal Karet, Jalanan Sumsel Bakal Lebih Awet 

Karet yang diolah juga bisa jadi alat kontrasepsi

Bupati Muba meninjau pengaspalan jalan dengan aspal karet (IDN Times/Pemkab Muba)

Musi Banyuasin, IDN Times - Pabrik pengelolaan aspal karet berbasis lateks terpravulkanisasi, resmi beroperasi di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatra Selatan, Senin (26/10/2020).

Pabrik itu sendiri sudah dilakukan uji coba dan dianggap cocok dengan wilayah Sumsel yang memiliki permukaan tanah rawa, sehingga dianggap memiliki kelenturan agar bisa bertahan lebih lama dibanding aspal biasa.

"Aspal karet lebih fleksibel dibanding aspal biasa, sehingga akan lebih kuat di wilayah rawa seperti Sumsel," ungkap Bupati Muba, Dodi Reza Alex.

Baca Juga: Perbaikan Jalan di Ruas Selatan Jateng Menggunakan Aspal Karet

1. Pabrik aspal karet bisa produksi 30 ton sehari

Bupati Muba, Dodi Reza Alex saat meninjau pengaspalan dengan aspal karet (IDN Times/Pemkab Muba)

Menurut Dodi, pabrik yang dikelola pemerintah daerah baru pertama ada di Indonesia. Kapasitas pabrik bahkan dapat memproduksi aspal karet sebanyak 30 ton dalam sehari. Getah karet atau lateks yang diambil dari pohon, akan diolah dengan mesin sentrivugal yang menghasilkan karet pekat untuk campuran aspal.

Dari kandungan aspal karet tersebut kata Dodi, sedikitnya ada tujuh persen kandungan lateks yang sudah melalui proses hot mix.

"Karet yang sudah diolah itu menjadi campuran aspal. Kita akan gunakan karet rakyat untuk dikelola ke depannya," jelas dia.

Baca Juga: Muba Klaim Serius Bangun Pabrik Karet Berbasis Lateks Pravulkanisasi

2. Karet rakyat akan lebih mudah terserap

Proses pengecoran jalan (IDN Times/Pemkab Muba)

Dengan adanya pabrik ini, Dodi optimis karet rakyat di Sumsel akan terserap untuk pembuatan aspal. Pihaknya juga yakin cara ini akan meningkatkan pendapatan para petani. Dodi membeberkan ada sekitar 300.000 hektare (ha) tanaman karet rakyat, dengan jumlah petani mencapai 83.135 orang.

"Dari sini saja kita sudah punya pasar yang besar. Hasil karet akan diambil langsung dari kebun karet rakyat," jelas dia.

Dodi melihat harga getah karet yang biasa dijual Rp10.000 per kilogram, akan meningkat menjadi Rp20.000 jika telah diubah menjadi lateks. Kondisi ini sangat menguntungkan para petani. Dalam satu hari, pabrik pun bisa mengubah getah dengan mesin sentrivugal hingga lima ton.

"Lateks tidak hanya bisa menjadi aspal, jika dikelola lagi dapat menjadi sarung tangan, karet gelang maupun alat kontrasepsi," tutur dia.

3. Aspal karet berbiaya mahal tetapi tahan lama

Bupati Muba, menunjukkan proses pengolahan aspal karet (IDN Times/Pemkab Muba)

Peneliti Aspal Karet dari Pusat Penelitian Karet, Hendri Prastanto menjelaskan, aspal karet telah melalui uji coba yang panjang. Meski berbiaya lebih mahal dibanding aspal biasa, namun aspal campuran karet memiliki kualitas yang lebih baik.

Dalam satu kilometer jalan dibutuhkan sekitar 45 ton aspal karet, dengan kandungan yang bisa menyerap sekitar 3 ton lateks dari rakyat.

"Aspal karet sudah terbukti pada uji gelar di Lido, Bogor, sampai tiga tahun dengan hasil kondisi jalan yang tetap baik," jelas dia.

Pihaknya kini masih berupaya memberi pemahaman kepada para petani untuk menjadikan karetnya sebagai lateks. Sebab selama ini, petani karet sering mengubah getahnya ke karet bongkah (SIR 20).

"Butuh waktu setahun untuk membina kelompok tani agar bisa menghasilkan lateks," jelas dia.

Baca Juga: Harga Karet Sumsel Menguat, Pemilu Amerika Jadi Penentu

Berita Terkini Lainnya