Viral Pengobatan Totok Daun Sirih Palembang, Ini Kata Pemilik

- Video viral totok sirih di Palembang berasal dari unggahan pasien sendiri yang merasa puas, namun menuai kontroversi karena dianggap menyakiti pasien terutama bayi dan anak.
- Pemilik Rumah Sirih, Ferizka Utami, menegaskan praktik pengobatan tradisionalnya terbuka sejak 2012 tanpa tarif tetap dan hanya menerima biaya sukarela dari pasien.
- Kuasa hukum menyebut potongan video memicu salah paham, sementara hasil peninjauan IDAI dan KPAI Sumsel tidak menemukan pelanggaran dalam praktik pengobatan tersebut.
Palembang, IDN Times - Viral video di media sosial (medsos) yang menampilkan pengobatan alternatif totok sirih di Palembang. Sebelumnya, video itu menimbulkan memunculkan kontroversi akibat cara pengobatan atau terapi yang seolah seperti menyakiti pasien khususnya pada bayi dan anak.
Faktanya, video yang sempat ramai diperbincangkan disebut pihak pengelola pengobatan alternatif berasal dari unggahan pasien sendiri. Video sengaja ditayangkan publik, karena pasien merasakan perubahan positif usai menjalani pengobatan di Rumah Sirih.
1. Pengobatan totok daun sirih praktik sejak tahun 2012

Menurut keterangan Owner Rumah Sirih Palembang, Ferizka Utami didampingi tim kuasa hukum dari Sakahira Law Firm, dipimpin A. Rilo Budiman dalam konferensi pers 24 April lalu, dijelaskan, dirinya tak memiliki akun TikTok resmi dan hanya punya Instagram untuk media informasi.
“Pasien yang mengunggah sendiri karena merasa anaknya mengalami perubahan positif kesembuhan setelah menjalani pengobatan rutin. Namun, video itu kemudian disertai komentar negatif dari pihak yang tidak mengetahui kondisi sebenarnya,” ujar Ferizka, dalam keterangan tertulis yang diterima IDN Times, Minggu (26/4/2026).
Dia menegaskan, praktik pengobatan yang dilakukan di Rumah Sirih berlangsung terbuka dan telah berjalan dari tahun 2012. Ferizka menyebut, metode yang digunakan berupa totok sirih dan merupakan terapi tradisional. Pengobatan tersebut menggunakan media kayu untuk menekan titik saraf tertentu dan disesuaikan dengan usia pasien mulai dari bayi hingga usia lanjut (lansia).
2. Pengobatan totok daun sirih tidak mematok tarif khusus bagi masyarakat

Diketahui, ketika praktik berlangsung, Ferizka tidak menetapkan tarif khusus dalam pelayanan. Dia menegaskan bila pasien diperbolehkan memberikan biaya secara sukarela kepadanya.
“Kami tidak mematok tarif, semuanya seikhlasnya. Harapannya, masyarakat dari berbagai kalangan tetap bisa mendapatkan pertolongan,” kata dia.
Ferizka mengaku, viralnya video di medsos tak luput dari dampak negatif. Namun katanya, dari sisi lain ia masih merasakan efek positif. Kata Ferizka dari segi baiknya, Rumah Sirih makin dikenal masyarakat luas. Namun di sisi lain, muncul tudingan yang dinilai tidak berdasar.
“Saya tidak ingin viral karena konflik atau tuduhan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kalau viral, saya ingin karena membantu masyarakat menjadi sehat,” ujarnya.
Ferizka pun meminta masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya.
“Kami tetap buka seperti biasa dan melayani masyarakat. Tidak ada paksaan. Kalau cocok silakan lanjut, jika tidak, silakan mencari pengobatan lain,” jelas dia.
3. Pengobatan totok sirih sudah ditinjau langsung IDAI dan KPAI Sumsel

Sementara, kata tim kuasa hukum dari Sakahira Law Firm yang dipimpin A. Rilo Budiman menilai, informasi yang beredar di medsos tidak utuh dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
“Datang dan buktikan langsung, jangan hanya menilai dari potongan video,” ujar Rilo.
Lebih lanjut jelas dia, sejumlah pihak telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi pengobatan. Yakni dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatra Selatan serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sumsel.
“Hasil peninjauan tersebut disebut tidak menemukan adanya pelanggaran dalam praktik yang dilakukan,”jelas dia.
Salah satu orang tua pasien Intan, sekaligus pemilik akun yang mengunggah video viral tersebut, menambahkan, unggahan yang ramai di publik memang dibuat atas inisiatif pribadi tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun.
“Anak saya sehat, tidak ada luka atau memar. Saya justru senang karena ada perkembangan setelah berobat di Rumah Sirih. Saya sudah rutin sejak 2014," kata Intan.


















