Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[OPINI] Menjalani Tugas dengan 'Enjoy', Bukan Nirempati tapi Menjaga Waras dalam Kerja Penuh Tekanan

Kota Palembang
3 min read
[OPINI] Menjalani Tugas dengan 'Enjoy', Bukan Nirempati tapi Menjaga Waras dalam Kerja Penuh Tekanan
Kabut asap menyelimuti Palembang, Minggu 23 Agustus 2026. Jembatan Ampera tampak samar dari kejauhan. (IDN Times/Rangga Erfizal)

Oleh : Chandra Baturajo (Warga Kota Palembang)

Akhir-akhir ini jagat media sosial agaknya gaduh dengan frasa 'enjoy' yang terucap dari Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, seseorang yang sejatinya juga korban dari bencana yang terjadi. Ungkapan tersebut banyak diasosiasikan oleh publik sebagai tingkah nirempati di tengah kondisi masyarakat yang tengah dikepung oleh udara yang memburuk.

Tabuh genderang bersahut, kemarahan publik atas kabut asap nampaknya menemui sasaran. Sialnya, sasaran itu ditumpahkan kepada sosok yang sebenarnya telah bekerja siang malam dalam mencegah dampak buruk dari kebakaran lahan.

Saat awal kabut melanda kota, sang wali kota yang sedang menjadi perbincangan ini langsung mengeluarkan edaran berkaitan dengan proses pendidikan. Keinginannya untuk menjaga kesehatan anak-anak ditunjukkan dalam kesigapan memastikan anak-anak tidak terpapar kabut asap. Perintah sekolah daring ia tetapkan. Langkah ini menunjukkan kemampuan sang pemimpin untuk meminimalkan dampak kerusakan yang terjadi.

Tak hanya sekadar perintah berlindung, pemimpin kota itu menggerakkan semua sumber daya kotanya untuk meminimalkan dampak kerusakan akibat kabut asap. Seluruh petugas di lapangan diterjunkan silih berganti: satu kali dua puluh empat jam, tujuh hari seminggu, semua kerja berganti-ganti.

Pos pemadam tak pernah kosong, nyaris tak ada jeda perjuangan, hanya waktu istirahat yang dibuat berganti untuk menjaga kesehatan fisik para petugas lapangan.

Ratu Dewa tahu persis kondisi ini. Tak hanya sekadar menerima laporan, ia membersamai petugas di lapangan. Ia tahu para petugasnya sangat rentan. Baik fisiknya maupun kesehatan mentalnya.

Frasa 'enjoy' yang ia ucapkan bukan nirempati, melainkan memastikan bahwa petugasnya harus bekerja dengan hati yang riang gembira dalam kondisi tekanan dan risiko kesehatan yang sangat mungkin terjadi. Ia harus memastikan kewarasan mental para petugasnya.

Sebagai panglima dalam perjuangan menjaga kota, kondisi mentalnya sangat memengaruhi mentalitas perjuangan para petugasnya. Maka ia mengirimkan pesan bahwa ia dalam kondisi baik secara fisik dan 'enjoy' secara psikis. Pesan ini ia kirimkan kepada seluruh petugas bahwa pemimpinnya dalam kondisi terbaik untuk membersamai dan memberi komando kepada mereka.

Maka, jika mau adil sejak dalam pikiran serta mendengar ungkapan sang wali kota dengan hati tenang, mestinya kita memahami maksud baik dari kata yang terucap oleh sang wali kota. Sebab, hati yang enjoy (baca: riang gembira) adalah keharusan dalam kerja fisik yang menguras energi, waktu dan mental, agar perjuangan tak berhenti di tengah jalan.

Namun, sering kali di ruang komunikasi yang berbatas, maksud baik belum tentu baik dalam penerimaannya. Di sinilah tapi nampak kedewasaan kepemimpinan. Ia pun mengucapkan maaf atas ucapannya, serta bencana sedang terjadi.

Di tengah perundungan daring yang sedang ia terima, ia masih bekerja dengan saksama. Memastikan seluruh instrumen sumber dayanya bekerja optimal memastikan dampak kerusakan atas peristiwa ini dapat diminimalkan. Petugas pemadam dan penanggulangan bencana terus bekerja siang malam. Puskesmas dan layanan kesehatan yang buka 24 jam di setiap kecamatan guna memberi pertolongan kesehatan sesegera mungkin bagi yang terdampak.

Petugas kesehatan bidang kejiwaan yang ia perintahkan turun ke lapangan untuk memastikan mental para petugasnya dalam keadaan baik. Ia memimpin orkestrasi perlawanan terhadap kabut asap ini dengan sigap.

Walau ia tahu niat baik terkadang salah arti di ruang publik. Sebagai bagian dari warga Kota Palembang, marilah marah pada pelaku sesungguhnya: si pembakar lahan ! bukan kepada sesama korban.

  1. Tentang Penulis

    Potret Chandra Baturajo dari dokumentasi pribadi yang disertakan sebagai ilustrasi dalam publikasi berita terkait.
    Chandra Baturajo (Dok.Pribadi)

    Chandra Baturajo merupakan warga Palembang yang pernah berkiprah di media sebagai jurnalis. Ia menjalani masa pendidikannya di IAIN Raden Fatah Palembang serta aktif di berbagai organisasi mahasiswa. Saat ini, Chandra berstatus sebagai ASN yang ditugaskan di Bawaslu Kota Palembang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More