Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fenomena El Nino Sumsel Picu Harga Minyak Goreng-Daging Ayam Ras Naik

Kota Palembang
2 min read
Fenomena El Nino Sumsel Picu Harga Minyak Goreng-Daging Ayam Ras Naik
Harga Minyak goreng MinyaKita dijual di atas HET. IDN Times/Riyanto.
  • El Nino memicu inflasi di Sumatra Selatan melalui kenaikan harga daging ayam ras akibat biaya pakan dan permintaan, serta potensi kenaikan minyak goreng karena harga CPO global.
  • Kemarau berkepanjangan dan curah hujan di bawah normal mengganggu pasokan hortikultura serta menekan produktivitas pertanian. Inflasi September 2026 tercatat 0,21 persen bulanan dan 2,55 persen tahunan.
  • TPID Sumsel mengantisipasi risiko pangan dengan strategi 4K, lebih dari 493 operasi pasar murah, GPM, dan SPHP, serta puluhan inspeksi pasar untuk memantau stok dan harga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Kepala Kantor Wilayah Bank Indonesia Sumatra Selatan sekaligus Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Bambang Pramono mengatakan, saat ini wilayah mengalami inflasi cukup tinggi karena dipengaruhi kondisi oleh fenomena El Nino.

"Tekanan (inflasi) berasal dari harga komoditas daging ayam ras, seiring perkembangan biaya pakan dan permintaan pangan. Kemudian harga minyak goreng juga berpotensi terdampak kenaikan harga karena harga crude palm oil (CPO) global naik," ujarnya, Jumat (9/10/2026).

  1. 1. Kemarau berkepanjangan tekan produktivitas komoditas

    Aneka minyak goreng non-subsidi dalam kemasan botol dan pouch tersusun rapi di rak penjualan sebuah toko.
    Aneka minyak goreng non subsidi. IDN Times/Riyanto.

    Tak hanya berdampak pada harga daging ayam ras dan minyak goreng, fenomena El Nino juga memengaruhi gangguan pasokan hortikultura. Apalagi, kondisi kemarau yang lebih panjang dan curah hujan yang diprakirakan berada di bawah normal dapat berimbas pada pasokan pertanian karena kekeringan.

    "Kenaikan harga komoditas hortikultura berkaitan dengan musim kemarau berkepanjangan yang menekan produktivitas," jelasnya.

  2. 2. TPID jaga risiko kenaikan pangan

    Kepala Bank Indonesia Sumatera Selatan Bambang Pramono dalam dokumentasi yang dikreditkan kepada IDN Times.
    Kepala BI Sumsel Bambang Pramono (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

    Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sumatra Selatan, pada September 2026, inflasi tercatat 0,21 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm), meningkat dibandingkan Agustus yang berada di level 0,06 persen.

    Namun, secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi Sumsel sebesar 2,55 persen, sedikit turun dari 2,60 persen pada Agustus. Sedangkan secara nasional, inflasi tahunan pada September 2026 tercatat 3,28 persen, meningkat dari 3,19 persen pada bulan sebelumnya.

    "Kami TPID perlu mengantisipasi sejumlah risiko yang berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas pangan pada periode berikutnya," kata dia.

  3. 3. TPID inspeksi pasar jaga pasokan

    Suasana aktivitas di Pasar Tradisional Palembang saat pedagang dan pengunjung melakukan transaksi kebutuhan harian.
    Situasi di Pasar Tradisional Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

    Bambang menyampaikan bahwa, menghadapi risiko tersebut, TPID Sumsel menjalankan strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif.

    Hingga akhir September 2026, lebih dari 493 kegiatan operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) telah dilaksanakan di berbagai wilayah Sumsel.

    "TPID juga sudah melakukan puluhan inspeksi mendadak pasar untuk memastikan stok tersedia sekaligus memantau kepatuhan terhadap harga eceran tertinggi," jelas dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More