Wali Kota Palembang Ratu Dewa Masih Merasa 'Enjoy' di Tengah Kabut Asap

Kualitas udara Palembang memburuk akibat asap karhutla, dengan ISPU dan konsentrasi PM2,5 melampaui 1000; kasus ISPA September 2026 mencapai 17.434, terutama pada anak-anak.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengaku tidak mengalami sesak napas dan tetap berolahraga, sementara pemkot mengkaji perwali untuk memberi sanksi kepada pembakar lahan.
Kabut asap diduga terkait kematian seorang pengemudi ojol berusia 41 tahun yang memiliki asma; warga lain juga melaporkan sesak napas, mata perih, dan batuk.
Palembang, IDN Times - Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, mengaku masih merasa 'enjoy' meski kualitas udara Palembang kian memburuk dan berbahaya. Berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup, Senin (5/10/2026), indikator PM10 berada pada angka 1.025 mikrogram per meter kubik, sedangkan indikator PM2.5 mencapai 554 mikrogram per meter kubik.
"Kalau saya sebenarnya sih ya, sampai sekarang tidak ya, karena mungkin saya enjoy-enjoy saja," ujar Ratu Dewa, saat diwawancarai IDN Times di Griya Agung Palembang, Senin (5/10/2026).
1. Ratu Dewa masih melakukan aktivitas olahraga

Kebakaran hutan dan lahan di Kawasan Talang Jambe perbatasan Banyuasin-Palembang (Dok. Dinas Kominfo Palembang) Ratu Dewa mengatakan, dirinya banyak menerima laporan bahwa sudah banyak warga yang terganggu dengan kondisi kabut asap yang semakin pekat setiap harinya. Namun, meski begitu, dirinya mengaku masih menjalani rutinitas seperti biasanya, bahkan tetap berolahraga secara rutin.
"Terus aktivitas olahraga masih rutin, saya kira begitu. Tapi banyak yang mengeluh ke saya demikian (sesak napas)," ujarnya.
2. Siapkan perwali bagi pembakar lahan di Kota Palembang

Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Palembang, Senin (5/10/2026) menunjukkan kategori berbahaya. (ispu.kemenlh.go.id) Berdasarkan data Dinas Kesehatan Palembang, masalah ISPA pada September 2026 bahkan menjadi angka terparah sepanjang tahun ini, yakni menembus 17.434 kasus. Sementara dari data per September 2026, mayoritas penderita ISPA di Palembang merupakan anak-anak usia di bawah satu tahun hingga tujuh tahun. Namun, untuk data rinci, Dinkes masih harus mengecek laporan lebih lanjut.
Penyebab utama ISPA kian tinggi di Bumi Sriwijaya seiring dengan situasi udara di wilayah yang sudah masuk kategori berbahaya. Diketahui, kondisi polutan asap dari karhutla sepanjang September 2026, asap tebal paling rentan terjadi pada sore menjelang malam hari. Situasi ini juga makin memperburuk kasus ISPA di Palembang.
Dewa menyampaikan bahwa salah satu upaya pemerintah dalam menangani kabut asap dan kasus ISPA adalah saat ini Pemkot sedang melakukan kajian keputusan Perwali untuk pemberian sanksi terhadap oknum pembakar lahan jika ketahuan dan terbukti melakukan kesalahan.
"Untuk sanksi, Perwali. Sudah saya bicarakan dengan Sekda. Ini bila ada kebakaran di wilayah Palembang. Ke depan, kita atur regulasi dengan surat keputusan. Jadi, bagi yang punya lahan perorangan dan perusahaan harus bertanggung jawab," jelasnya.
3. Ojol di Palembang meninggal akibat sesak asap di tengah kabut asap

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Sebelumnya, seorang warga Palembang meninggal dunia setelah mengalami sesak napas, diduga akibat ISPA. Korban merupakan warga yang berprofesi sebagai ojol atas nama Hardiyansah (41). Dia sebelum tutup usia memiliki riwayat asma dan sempat mengeluh kesakitan akibat sesak napas di dadanya.
Menurut istri korban, Rika, sang suami sempat mengeluh sesak napas pada 15 September 2026. Namun, seiring waktu, sesak napas itu menghilang dan almarhum kembali beraktivitas seperti biasa. Seiring memburuknya kualitas udara di Palembang, Hardiansyah kembali mengalami sesak napas saat kondisi udara Palembang kembali memburuk pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Hari itu, Hardiansyah kembali mengeluh mengalami sesak napas. Keluarga tak sempat memberikan pertolongan pertama, karena semua panik dan segera membawa korban ke Rumah Sakit BARI Palembang.
Rika mengatakan, keluarganya juga merasakan kondisi asap yang cukup tebal di sekitar rumah. Rumah yang ditempati almarhum disebut tidak memiliki plafon di sebagian besar bagian rumah, sehingga asap lebih mudah masuk.
4. Warga tanpa penyakit asma pun mengaku sesak karena kabut asap

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Tak hanya menyebabkan korban jiwa, kabut asap di Palembang pun dikeluhkan masyarakat sekitar. Menurut Tri, warga Ariodillah, tiap malam dirinya merasakan dada sesak meski tak memiliki penyakit penyerta seperti asma. Kata dia, wajar jika seorang penderita asma sangat sesak. Sebab, seseorang dengan paru-paru sehat pun merasa tidak nyaman dan tak bisa menghirup udara segar.
"Padahal gak ada bengek, rasanya sesak. Apalagi kalau yang memang punya gangguan pernapasan," jelasnya.
Sedangkan kata Puspita, warga Talang Kelapa, ia merasakan mata perih setiap sore jelang malam hari walaupun berada di rumah. Apalagi, tempat tinggalnya berdekatan dengan lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Pedih, mata jadi merah. Malem-malem tidur gak nyenyak karena batuk-batuk," ujar Puspita.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)

















