Palembang, IDN Times - Kaum ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi pandai bermain sulap. Namun, sulap ini bukan sihir. Singkong yang biasanya hanya memiliki harga jual Rp2.000 per kilogram, disulap hingga bisa memiliki nilai tambah ketika diolah menjadi produk turunan. Di Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Sumatra Selatan (Sumsel), KWT Embun Pagi mengolah singkong menjadi tepung mocaf dan berbagai jenis camilan.
Kelompok yang beranggotakan 13 perempuan tersebut berupaya mengembangkan potensi pertanian lokal menjadi usaha bersama. Dengan pendampingan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang, mereka mengembangkan produk olahan singkong yang sebelumnya belum dikelola secara berkelanjutan.
Ketua KWT Embun Pagi, Rianti, mengatakan kelompoknya awalnya bergerak dalam budidaya sayuran sebelum mengembangkan pengolahan singkong. Kini, para anggota terlibat dalam proses budidaya hingga mengolah hasil panen menjadi produk yang memiliki nilai jual berbeda.
"Alhamdulillah, selama ini mengelola produksi KWT Embun Pagi tidak ada kekurangan singkong. Ini juga mulai tahun ini dipinjami tempat sama PHE Jambi Merang untuk menanam singkong sehingga produksi dapat berkelanjutan," kata Rianti.
