Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menyulap Singkong Rp2 Ribu Jadi Mocaf Rp34 Ribu Ala Kaum Ibu KWT Embun Pagi Binaan Pertamina
Produksi turunan singkong yang dilakukan KWT Embun Pagi (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • KWT Embun Pagi di Desa Simpang Bayat, beranggotakan 13 perempuan, mengolah singkong menjadi tepung mocaf dan camilan untuk meningkatkan nilai jual hasil pertanian lokal.

  • Singkong seharga Rp2.000 per kilogram diolah menjadi mocaf seharga Rp34.000 per kilogram; produksi berbasis pesanan menghasilkan pendapatan sekitar Rp1-2 juta per minggu.

  • PHE Jambi Merang mendampingi usaha melalui tempat tanam, rumah produksi, peralatan, pelatihan, dan promosi agar produk memperluas pasar serta berkelanjutan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    KWT Embun Pagi mengolah singkong menjadi tepung mocaf dan camilan, menaikkan nilai jual bahan baku dari sekitar Rp2.000 per kilogram menjadi tepung mocaf seharga Rp34.000 per kilogram.
  • Who?
    13 perempuan anggota KWT Embun Pagi, dipimpin Rianti, menjalankan usaha dengan pendampingan PHE Jambi Merang. Pemerintah Desa Simpang Bayat dan Kecamatan Bayung Lencir turut mendukung pengembangan produk.
  • Where?
    Kegiatan budidaya dan pengolahan singkong berlangsung di Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Sumatra Selatan.
  • When?
    Produksi berlangsung sesuai pesanan yang masuk. Sejak tahun ini, KWT Embun Pagi mendapat pinjaman tempat dari PHE Jambi Merang untuk menanam singkong secara berkelanjutan.
  • Why?
    Pengolahan dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah singkong lokal, menambah pendapatan anggota kelompok, memperluas variasi produk, serta mendorong usaha agar berkelanjutan dan menjangkau pasar lebih luas.
  • How?
    Anggota membudidayakan singkong, mengolahnya menjadi mocaf dan camilan, lalu memproduksi berdasarkan pesanan. Sekitar 10 kilogram singkong menghasilkan tiga kilogram mocaf. PHE menyediakan pendampingan, rumah produksi, peralatan, dan pelatihan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Kaum ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi pandai bermain sulap. Namun, sulap ini bukan sihir. Singkong yang biasanya hanya memiliki harga jual Rp2.000 per kilogram, disulap hingga bisa memiliki nilai tambah ketika diolah menjadi produk turunan. Di Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Sumatra Selatan (Sumsel), KWT Embun Pagi mengolah singkong menjadi tepung mocaf dan berbagai jenis camilan.

Kelompok yang beranggotakan 13 perempuan tersebut berupaya mengembangkan potensi pertanian lokal menjadi usaha bersama. Dengan pendampingan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang, mereka mengembangkan produk olahan singkong yang sebelumnya belum dikelola secara berkelanjutan.

Ketua KWT Embun Pagi, Rianti, mengatakan kelompoknya awalnya bergerak dalam budidaya sayuran sebelum mengembangkan pengolahan singkong. Kini, para anggota terlibat dalam proses budidaya hingga mengolah hasil panen menjadi produk yang memiliki nilai jual berbeda.

"Alhamdulillah, selama ini mengelola produksi KWT Embun Pagi tidak ada kekurangan singkong. Ini juga mulai tahun ini dipinjami tempat sama PHE Jambi Merang untuk menanam singkong sehingga produksi dapat berkelanjutan," kata Rianti.

'Menyulap' Singkong Menjadi Tepung Mocaf

Salah satu produk utama KWT Embun Pagi adalah tepung mocaf. Menurut Rianti, proses pengolahan memberikan nilai tambah dibandingkan dengan menjual singkong dalam bentuk mentah. Dengan harga bahan baku sekitar Rp2.000 per kilogram, singkong dapat diolah menjadi tepung mocaf yang dijual Rp34 ribu per kilogram.

Namun, pengolahan tersebut membutuhkan bahan baku lebih banyak untuk menghasilkan tepung. Rianti menjelaskan bahwa sekitar 10 kilogram singkong menghasilkan tiga kilogram tepung mocaf. Jumlah hasil akhirnya dapat berbeda, bergantung pada kondisi singkong yang digunakan.

Selain memproduksi tepung, KWT Embun Pagi mengembangkan produk turunannya menjadi camilan. Upaya tersebut dilakukan untuk memperluas pemanfaatan singkong dan menawarkan produk yang lebih beragam kepada konsumen.

"Lebih utamanya, kita memproduksi tepung mocaf dan turunannya. Kita mencoba mengelola apa yang tersedia untuk menghasilkan nilai lebih dari pemanfaatan singkong," ungkap dia.

Rianti mengatakan, produksi dilakukan mengikuti pesanan yang masuk. Dari penjualan sekitar dua jenis produk, kelompok tersebut bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per minggu.

"Alhamdulillah, produksi KWT Embun Pagi bisa menambah pemasukan ibu-ibu di sini. Meski belum terlalu banyak, tapi lumayan menambah pendapatan," jelasnya.

Produksi turunan singkong yang dilakukan KWT Embun Pagi (IDN Times/Rangga Erfizal)

Pendampingan Pertamina untuk Mengembangkan Usaha

Field Manager PHE Jambi Merang, Satrio Mursabdo, mengatakan Desa Simpang Bayat merupakan salah satu desa yang berada di sekitar wilayah operasi perusahaan. Karena itu, pengembangan potensi masyarakat setempat menjadi bagian dari perhatian perusahaan.

Menurut Satrio, KWT Embun Pagi sebenarnya telah memiliki pengalaman mengolah singkong menjadi berbagai produk. Namun, usaha tersebut masih menghadapi tantangan untuk berkembang dan berjalan secara berkelanjutan. PHE Jambi Merang kemudian berupaya mendukung pengembangan usaha dengan memberikan bantuan, berbagi konsep, dan mendiskusikan potensi produk bersama masyarakat.

"Kami melihat bahwa Desa Simpang Bayat ini sudah punya produk lokal. Kami dari PHE Jambi Merang memicu semangat warga, dalam hal ini KWT Embun Pagi, supaya pengolahan produk yang tadinya hanya singkong bisa menjadi produk turunan," ujar Satrio.

Ia menjelaskan, dukungan perusahaan dilakukan melalui proses pendampingan yang disesuaikan dengan tahapan pengembangan produk. Setelah produk turunan dikembangkan, perusahaan juga mendorong pengenalannya kepada masyarakat agar produk lokal tersebut semakin dikenal.

Bagi PHE Jambi Merang, pengembangan KWT Embun Pagi bukan sekadar menghasilkan produk baru. Perusahaan juga ingin mendorong agar usaha yang sudah dirintis masyarakat dapat terus berjalan.

Satrio menilai, keberlanjutan menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan. Potensi yang telah dimiliki masyarakat perlu didukung agar kegiatan produksi tidak berhenti setelah program pendampingan selesai.

"Kita ada road map yang dalam hal ini untuk membantu pengembangan yang sudah ada. Kami melakukan pembinaan agar produk turunan ini bisa lebih dikenal masyarakat," jelasnya.

Mewujudkan Asta Cita Presiden

Bagi Satrio, pendampingan terhadap KWT Embun Pagi merupakan bagian dari komitmen PHE Jambi Merang dalam mendukung masyarakat dan pemangku kepentingan di desa ring satu wilayah operasional perusahaan. Dukungan tersebut tidak hanya berfokus pada pengembangan usaha, tetapi juga membantu memperluas pengenalan produk lokal agar dapat menjangkau pasar yang lebih besar.

Ia mengatakan, upaya pemberdayaan kelompok perempuan tersebut sejalan dengan dukungan terhadap Asta Cita pemerintah.

"Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mendukung Asta Cita, dalam hal ini kita mendukung KWT Embun Pagi ini," jelasnya.

PHE Jambi Merang berharap pendampingan yang diberikan dapat meningkatkan kemampuan KWT Embun Pagi dalam mengembangkan usaha dan bersaing dengan produk sejenis. Dengan begitu, para anggota kelompok diharapkan memiliki dukungan untuk mengembangkan usaha tanpa merasa berjuang sendiri.

Satrio menambahkan, program pemberdayaan tersebut diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat, termasuk membuka peluang bagi perempuan untuk mengembangkan potensi dan memperoleh akses terhadap sumber daya.

"Kami ingin membawa produk ini agar semakin dikenal dan memiliki branding yang kuat. Mudah-mudahan, melalui kesetaraan gender, terbuka lebih banyak kesempatan dan akses terhadap sumber daya bagi masyarakat di Simpang Bayat," jelasnya.

Rumah Produksi singkong KWT Embun pagi (IDN Times/Rangga Erfizal)

Membuka Peluang Ekonomi bagi Perempuan Desa

Keterlibatan 13 anggota KWT Embun Pagi menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha tersebut. Mereka terlibat dalam rangkaian kegiatan, mulai dari budidaya singkong hingga pengolahan menjadi tepung mocaf dan produk turunannya.

Rianti mengatakan, kerja sama dengan PHE Jambi Merang membuat anggota kelompok semakin bersemangat menjalankan usaha. Ia menyebut, setelah adanya kerja sama tersebut, anggota mulai merasakan hasil dari kegiatan pengolahan yang selama ini mereka jalankan.

Menurut Rianti, hasil yang diterima anggota bisa menambah penghasilan sekaligus menjadi dorongan untuk terus menanam dan mengolah singkong. Di sisi lain, pengembangan usaha masih memiliki tantangan. KWT Embun Pagi ingin memperluas pemasaran agar produknya dapat menjangkau lebih banyak konsumen.

Rianti berharap, tepung mocaf yang mereka produksi nantinya bisa dipasarkan secara daring. Dengan pemasaran yang lebih luas, kelompok tersebut ingin meningkatkan produksi dan mengembangkan usaha yang telah dirintis.

Bagi KWT Embun Pagi, singkong bukan lagi sekadar hasil pertanian yang dijual dalam bentuk mentah. Melalui pengolahan menjadi tepung dan camilan, komoditas tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan usaha bersama.

Field Manager PHE Jambi Merang, Satrio Mursabdo (IDN Times/Rangga Erfizal)

Harapan pemerintah dari keterlibatan PHE Jambi Merang

Kepala Desa Simpang Bayat, Fathurohman, mengatakan bahan baku singkong yang diolah KWT Embun Pagi berasal dari masyarakat setempat. Ia mengapresiasi dukungan PHE Jambi Merang yang membantu pembangunan rumah produksi, menyediakan peralatan, serta memberikan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan kelompok dalam mengembangkan usaha.

Menurutnya, dukungan tersebut diharapkan dapat membantu produk olahan singkong dari Simpang Bayat menjangkau pasar yang lebih luas, tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar.

"Kami tentu berharap produk dari KWT Embun Pagi ini tidak hanya terkenal secara lokal, tetapi juga bisa terkenal secara luas," ujarnya.

Sementara itu, Camat Bayung Lencir, Zukar, menilai singkong telah lama menjadi salah satu potensi pertanian di Desa Simpang Bayat. Namun, hasil panen selama ini belum banyak diolah menjadi produk turunan yang memiliki nilai tambah.

"Jadi, singkong dijual sebagai singkong, tetapi kini bisa diolah menjadi berbagai produk makanan. Inilah bentuk inovasi," ujarnya.

Ia berharap produk yang dihasilkan KWT Embun Pagi dapat berkembang dan bersaing dengan produk sejenis dari daerah lain. Selain meningkatkan kapasitas produksi, penguatan identitas produk dan kualitas kemasan juga dinilai penting agar olahan singkong Simpang Bayat semakin dikenal masyarakat.

"Kita harus berani bersaing dengan produk lain. Potensi ini harus kita angkat menjadi brand Desa Simpang Bayat dan Kecamatan Bayung Lencir, tetapi tentunya harus didukung packaging yang baik dan menarik," ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article