Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mendag Dorong Pabrik Minyak Goreng Palembang Perbanyak Second Brand

Kementerian Perdagangan tinjau pabrik minyak goreng di Palembang
Kementerian Perdagangan tinjau pabrik minyak goreng di Palembang (Dok. Aji untuk IDN Times)
Intinya sih...
  • Menteri Perdagangan mendorong produsen minyak goreng untuk memperbanyak second brand demi pilihan produk yang lebih banyak dan harga yang lebih murah.
  • Produsen diminta menjaga kualitas produk meskipun memproduksi second brand, karena masyarakat butuh variasi jenis, ukuran, dan harga minyak goreng di pasaran.
  • Second brand akan diproduksi dalam berbagai ukuran tanpa HET yang ditetapkan pemerintah, sehingga harganya akan menyesuaikan pasar untuk mengimbangi kenaikan harga CPO.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong seluruh produsen minyak goreng di Indonesia, termasuk Kota Palembang, untuk meningkatkan produksi second brand atau merek lapis kedua untuk memperbanyak pilihan produk.

"Nanti perusahaan akan membuat second brand dengan ukuran lebih kecil. Di pasar sudah banyak. Ada yang ukuran 250 mililiter. Jadi banyak pilihan, sehingga masyarakat bisa memilih harga yang lebih murah," ujarnya saat kunjungan kerja di Palembang, Kamis (12/2/2026).

1. Minta brand second minyak goreng berkualitas seperti Minyak Kita

Gambar Minyak Kita.
Gambar Minyak Kita. (IDN Times/Muhaimin)

Dia memastikan, meski ada berbagai pilihan second brand, produsen minyak diminta untuk tetap mempertahankan dan menjaga kualitas produk. Sebab yang dibutuhkan masyarakat adalah beragamnya variasi jenis, ukuran, dan harga minyak goreng di pasaran.

“Kualitasnya tetap harus sama dengan Minyak Kita,” kata dia sembari meninjau pabrik pengolahan minyak goreng.

Budi menjelaskan, produksi Minyak Kita di Palembang saat ini mencapai 72 ribu liter per hari atau sekitar 6 ribu dus. Namun, lanjutnya, Minyak Kita masih menjadi produk hasil skema Domestic Market Obligation (DMO), yakni program pemerintah pusat yang diluncurkan sekitar tiga tahun lalu untuk menekan harga minyak goreng yang sempat melambung tinggi.

2. Merek minyak goreng Minyak Kita masih berbasis DMO

Kementerian Perdagangan tinjau pabrik minyak goreng di Palembang
Kementerian Perdagangan tinjau pabrik minyak goreng di Palembang (Dok. Aji untuk IDN Times)

Ia menyebut, jika pasokan impor sawit mengalami penurunan, maka volume DMO Minyak Kita juga otomatis menurun. Maka itu kata dia, keberadaan second brand dipersiapkan sebagai alternatif agar masyarakat tetap memiliki pilihan di pasaran.

“Minyak Kita ini berbasis DMO. Kalau impor turun, otomatis stok DMO juga turun," ujarnya.

Lebih lanjut kata Budi, margin keuntungan penjualan Minyak Kita juga dikeluhkan para pedagang karena dinilai terlalu kecil.

“Tadi ngobrol dengan pedagang, marginnya kecil. Ketika dijual tidak sesuai HET, narasinya jadi minyak mahal. Karena itu, kita ingin produsen memproduksi minyak goreng second brand, sebagai ‘teman’ Minyak Kita,” jelas dia.

3. Produksi second brand untuk memperbanyak pilihan masyarakat

Ilustrasi Minyakita
Ilustrasi Minyakita (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Ke depan, kata Budi, second brand akan diproduksi dalam berbagai ukuran dan tidak akan memiliki harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Nanti, harga akan menyesuaikan diri dengan pasar.

"Jadi dengan ukuran bervariasi harga berbeda. Sekarang HET Minyak Kita sudah tiga tahun tidak berubah, masih Rp15.700 per liter, sementara harga CPO naik. Untuk mengimbangi itu, kita dorong produksi second brand,” kata dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hafidz Trijatnika
EditorHafidz Trijatnika
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More

Mendag Dorong Pabrik Minyak Goreng Palembang Perbanyak Second Brand

12 Feb 2026, 17:19 WIBNews