Cuan Pedagang Aksesori Imlek di Palembang Lewat Tradisi Berbagi Angpao

- Antusiasme masyarakat Tionghoa dalam merayakan Imlek di Palembang, ditandai dengan peningkatan pembelian aksesori Imlek sebesar 10-20% dari akhir Januari.
- Pemilik toko aksesori Imlek di Palembang, Hengki, bisa mendapatkan pendapatan harian hingga jutaan rupiah dengan omzet minimum Rp500 ribu saat momen Cap Go Meh.
- Selain angpao, aksesori lain yang laku terjual saat Imlek tiba adalah garu, lilin, kertas dan lampion yang sering dipesan oleh instansi dan pengurus kelenteng atau vihara.
Palembang, IDN Times - Perayaan Imlek 2026 atau 2577 Kongzili yang jatuh pada 17 Februari mendatang menjadi keberuntungan bagi pedagang aksesori Imlek di Palembang. Kemujuran tersebut hadir lewat tradisi berbagi Angpao yang jadi kebiasaan saat Lunar New Year.
"Yang banyak dicari warga ya angpao. Setiap mau Imlek pasti bisa lebih dari 100 orang ke sini buat beli bermacam kebutuhan Imlek. Angpao dan dupa paling banyak," ujar Pemilik Toko Aksesori Imlek di Palembang, Hengki.
1. Kenaikan pendapatan sekitar 10-20 persen saat Imlek

Antusiasme masyarakat keturunan Tionghoa ini, kata dia, tak hanya merayakan Imlek dengan sukacita. Tetapi disambut dengan kemeriahan pernak-pernik warna merah sebagai lambang keberuntungan. Simbol merah jelas Hengki, adalah lambang mencolok yang diyakini sebagai keberkahan, kelimpahan dan kebahagiaan.
"Mulai ramai (yang beli) dari akhir Januari, ada peningkatan (pembeli) 10-20 persen," kata dia.
2. Bila bukan momen Imlek terkadang sepi konsumen

Dalam sehari, pendapatan Hengki bisa mencapai jutaan rupiah dengan omzet harian paling sedikit di angka Rp500 ribu. Penghasilan itu pun berpotensi naik bila mendekati momen Cap Go Meh.
"Biasanya kalau lagi gak momen Imlek, sehari belum tentu ada yang beli. Karena ini momennya jadi ramai," jelasnya.
3. Selain angpao, kebanyakan konsumen beli gaharu

Selain angpao, aksesori lain yang paling laku saat Imlek tiba adalah gaharu, lilin, kertas dan lampion. Pembelian lampion lebih sering dipesan oleh instansi dan pengurus kelenteng atau vihara.
"Lampion banyak dibeli untuk menghias tempat ibadah dan area publik sebagai penanda Imlek. Biasanya yang pesan buat hias-hias kemeriahan sudah dari sepekan (membeli) sebelum (imlek)," katanya.

















