Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kepala BPS Sumsel Moh. Wahyu Yulianto (Dok. BPS Sumsel)
  • Inflasi Sumatra Selatan pada Oktober 2026 mencapai 0,44 persen, naik dari 0,21 persen pada September akibat kemarau yang menekan pasokan beras dan hortikultura.

  • Kekeringan mengurangi stok gabah dan beras, sementara permintaan dari daerah lain meningkat; gagal panen akibat cuaca ekstrem turut mendorong kenaikan signifikan harga cabai merah.

  • BPS mengingatkan kewaspadaan inflasi hingga akhir 2026, sedangkan harga cabai merah di Palembang mencapai Rp70 ribu-Rp80 ribu per kilogram akibat produksi dan distribusi terganggu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Musim kemarau membuat beras dan cabai di Sumatra Selatan jadi lebih mahal. Sawah dan kebun bisa kekeringan, jadi hasil panen berkurang. Pak Wahyu bilang harga naik karena banyak orang butuh makanan, tapi stoknya sedikit. Cabai merah sekarang sampai Rp80 ribu per kilogram. Pemerintah diminta menjaga stok sampai akhir tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Meski kemarau dan cuaca ekstrem mendorong kenaikan harga beras serta cabai, inflasi Sumatra Selatan pada Oktober masih berada dalam kondisi normal. Data dan penjelasan dari BPS maupun DKPP juga memperlihatkan faktor penyebabnya teridentifikasi dengan jelas, sehingga perhatian dapat difokuskan pada menjaga pasokan dan mendukung operasi pasar murah menjelang akhir tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Kepala Badan Pusat Statistik Sumatra Selatan Moh. Wahyu Yulianto melaporkan bahwa angka inflasi wilayah pada Oktober 2026 mengalami kenaikan tipis. Peningkatan itu terjadi karena kondisi musim kemarau yang menyebabkan komoditas hortikultura mengalami kenaikan dan harga gabah juga ikut meningkat.

"Sumsel ini potensial terhadap lumbung padi nasional. Ketika mengalami kekeringan, stok akan berkurang. Sementara permintaan datang juga dari daerah lain, sehingga berebut pasokan dan beras jadi berkurang, kemudian harga naik," ujarnya, Senin (2/11/2026).

1. Gagal panen berdampak pada nilai inflasi

Aktivitas petani cabai rawit di Desa Sidorejo, Kecamatan Kebonsari, Madiun. IDN Times/Riyanto.

Berdasarkan data BPS Sumsel, nilai inflasi menyeluruh pada Oktober 2026 berada pada angka 0,44 persen dan naik bila dibandingkan dengan September sebesar 0,21 persen.

"Ketika pasokan berkurang, harga otomatis naik sehingga terjadi inflasi. Kenaikan juga terjadi pada komoditas hortikultura karena gagal panen akibat cuaca. Kenaikan signifikan terjadi pada cabai merah," kata dia.

2. Ingatkan inflasi akhir tahun alami kenaikan

Potret inflasi Indonesia pada Oktober 2026. (dok. BPS)

Masih terbilang inflasi Sumsel berada pada kondisi normal, Wahyu mengingatkan masyarakat serta pemerintah daerah untuk tetap mewaspadai kenaikan inflasi hingga 2 bulan terakhir tahun 2026.

"Inflasi 2 bulan ke depan harus ekstra diperhatikan terutama saat akhir tahun. Upayakan jaga pasokan komoditas dalam negeri untuk memenuhi stok operasi pasar murah," jelasnya.

3. Proses tanam saat cuaca ekstrem hambat jumlah produksi cabai

Ilustrasi pedagang cabai merah melayani pembeli di pasar tradisional. (ANTARA FOTO/Ardiansyah)

Sementara kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumatera Selatan, Ruzuan Efendi, cuaca ekstrem hingga kendala distribusi menjadi faktor yang memengaruhi fluktuasi harga cabai. Ruzuan mengatakan harga cabai merah di Pasar Sekip Ujung mencapai Rp80 ribu per kilogram. Sementara , harga di Pasar KM 5 berkisar Rp70 ribu hingga Rp75 ribu per kilogram.

"Jadi gini, memang sekarang kondisinya fluktuatif ya. Ini terjadi hampir satu bulan terakhir. Salah satu penyebabnya adalah cuaca ekstrem yang menghambat penanaman dan berdampak pada penurunan produksi," kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article