Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ekspor Sumsel Melemah Imbas Inflasi hingga Ketidakpastian Global
Kepala BPS Sumsel Moh. Wahyu Yulianto (Dok. BPS Sumsel untuk IDN Times)

  • BPS Sumsel mencatat ekspor April 2026 melemah akibat inflasi tinggi, ketidakstabilan ekonomi, dan ketidakpastian global yang memengaruhi 190 dari 425 komoditas.
  • Neraca perdagangan Sumsel masih surplus 947,11 juta dolar AS, namun terkontraksi 47,28 persen yoy karena penurunan ekspor hingga 38,89 persen.
  • DJPb Sumsel menyebut ekonomi daerah tetap stabil berkat peningkatan konsumsi masyarakat dan investasi publik, didukung perbaikan sektor sawit serta karet.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kinerja ekspor Provinsi Sumatra Selatan pada April 2026 mengalami pelemahan signifikan akibat tekanan inflasi, ketidakstabilan ekonomi, dan ketidakpastian global meski neraca perdagangan masih mencatatkan surplus.
  • Who?
    Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Selatan melalui Kepala BPS Moh. Wahyu Yulianto serta Kepala Kanwil DJPb Sumsel Rahmadi Murwanto memberikan keterangan mengenai kondisi ekspor dan ekonomi daerah.
  • Where?
    Laporan disampaikan di Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, mencakup aktivitas ekspor dan kondisi ekonomi wilayah tersebut sepanjang awal tahun 2026.
  • When?
    Pelemahan ekspor terjadi pada April 2026, dengan data disampaikan kepada publik pada Rabu, 13 Mei 2026.
  • Why?
    Penyebab utama pelemahan ekspor adalah inflasi tinggi pada sektor industri non makanan, kenaikan harga BBM, serta dampak ketidakpastian ekonomi global terhadap aktivitas perdagangan luar negeri.
  • How?
    BPS mencatat penurunan nilai ekspor hingga 38,89 persen secara tahunan menjadi sekitar 1,25 miliar Dolar AS; sementara pemerintah daerah mengandalkan APBN untuk menjaga stabilitas ekonomi regional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ekspor di Sumsel sekarang turun karena harga barang naik dan dunia lagi tidak pasti. Pak Wahyu dari BPS bilang banyak barang jadi mahal, seperti rumah dan bensin. Tapi uang dari jualan ke luar negeri masih lebih banyak dari beli. Pak Rahmadi bilang ekonomi Sumsel masih kuat karena orang tetap belanja dan pajak masih bagus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Selatan melaporkan, kinerja ekspor wilayah tersebut pada April 2026 melemah akibat inflasi, kondisi ekonomi tak stabil hingga tidak adanya kepastian global.

"Dari 425 komoditas yang kami amati, 190 komoditas inflasi," ujar Kepala BPS Sumsel, M Wahyu Yulianto pada Rabu (13/5/2026).

1. Kenaikan BBM berdampak signifikan terhadap inflasi Sumsel

ilustrasi bensin, Pertamina, BBM (unsplash.com/Anshor Halim)

Ia mengatakan, kenaikan komoditas banyak terjadi pada sektor industri, terutama pada kelompok non-makanan. Beberapa sektor yang cukup dalam mengalami inflasi yakni dari sisi properti, perumahan hingga transportasi.

"Utamanya inflasi ini akibat kenaikan komoditas BBM (bahan bakar minyak) yang sangat signifikan dengan pengaruh besar terjadi pada industri non-makanan," jelasnya.

2. Pergerakan neraca perdagangan Sumsel terkontraksi 47,28 persen

ilustrasi ekonomi (unsplash.com/Markus Spiske)

Sementara dari sisi eksternal, neraca perdagangan Sumsel masih positif, dipengaruhi nilai surplus 947,11 juta dolar AS. Namun berdasarkan pergerakan, tetap mengalami kontraksi di angka 47,28 persen secara tahunan atau year on year (yoy), sejalan penurunan ekspor menjadi 1,25 miliar dolar AS atau turun sebesar 38,89 persen secara tahunan.

"Kondisi ini karena dari Januari, Februari dan Maret, Sumsel inflasi. Imbasnya (ekspor melemah) juga dipengaruhi dampak dari kenaikan minyak dunia," kata Wahyu.

3. Aktivitas ekonomi sektor sawit dan karet Sumsel disebut mulai membaik

ilustrasi kebun karet (Unsplash/Cecelia Chang)

Sedangkan menurut Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sumsel Rahmadi Murwanto, ekonomi daerah diklaim masih dalam kondisi stabil, sebab aktivitas ekonomi pada awal tahun dan konsumsi masyarakat dan investasi publik meningkat.

Ia pun menilai, APBN tetap menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global dan tekanan inflasi. "Pendapatan negara di Sumsel tercatat Rp3,19 triliun, dengan penerimaan pajak menjadi penyumbang terbesar seiring membaiknya sektor sawit dan karet," jelasnya.

Editorial Team