Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) (Dok: TNBS)
  • Sumarni, guru honorer di Desa Gajahmati, cemas kebun sawitnya terbakar karena lahan tersebut menjadi investasi dan salah satu sumber penghidupan keluarganya.
  • Karhutla di wilayah Gajahmati juga mengganggu aktivitas warga melalui asap; Rustam mengingat pemadaman kebakaran beberapa kali dibantu helikopter.
  • Warga meminta bantuan PT BMH, yang mengerahkan helikopter, meminjamkan peralatan, mengadakan patroli serta sosialisasi, dan menyalurkan kebutuhan pokok kepada masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kebakaran hutan dan lahan sempat mengancam kebun sawit milik Sumarni di Desa Gajahmati serta menimbulkan asap yang mengganggu aktivitas warga.
  • Who?
    Sumarni, guru honorer berusia 39 tahun; Rustam, petani; warga Desa Gajahmati; PT Bumi Mekar Hijau; serta petugas perusahaan dan kepolisian terlibat dalam penanganan dan pencegahan.
  • Where?
    Di Desa Gajahmati, Kecamatan Sungai Menang, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan.
  • When?
    Kebakaran terjadi beberapa waktu lalu. Sumarni telah tinggal sekitar 15 tahun dan Rustam 17 tahun di desa tersebut, serta beberapa kali menyaksikan kebakaran di wilayahnya.
  • Why?
    Kebakaran mengancam kebun sawit yang menjadi salah satu sumber penghasilan dan investasi keluarga Sumarni, sementara asapnya mengganggu kegiatan masyarakat di permukiman.
  • How?
    Warga meminta bantuan PT Bumi Mekar Hijau, yang mengerahkan helikopter dan meminjamkan peralatan. Pemadaman didukung hujan, disertai sosialisasi, patroli, edukasi, serta imbauan tidak membuka lahan dengan membakar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Bagi Sumarni (39), warga Desa Gajahmati, Kecamatan Sungai Menang, Kabupaten Ogan Komering Ilir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan api dan asap. Peristiwa tersebut pernah membuatnya cemas karena kebun sawit yang menjadi salah satu sumber penghidupan keluarganya terancam terbakar.

Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai guru honorer itu khawatir kehilangan investasi yang selama ini dibangunnya. Sebab, kebun sawit tersebut bukan hanya aset, tetapi juga menjadi salah satu tumpuan ekonomi keluarganya.

“Bisa menghabiskan investasi untuk hidup,” tutur Sumarni, mengenang kekhawatirannya ketika api mengancam kebun miliknya.

Sudah sekitar 15 tahun Sumarni tinggal di desanya. Selama itu, ia beberapa kali menyaksikan kebakaran terjadi di wilayah tempat tinggalnya. Namun, ketika api mulai mengancam kebun sendiri, rasa cemas yang dirasakan jauh lebih besar.

1. Sumarni khawatir kehilangan sumber penghidupan keluarga

Bagi Sumarni, kebun sawit yang diusahakannya memiliki nilai penting bagi keberlangsungan ekonomi keluarga. Jika terbakar, bukan hanya tanaman yang rusak, tetapi juga investasi yang telah dibangun selama ini. Kekhawatiran tersebut semakin terasa ketika kebakaran terjadi di sekitar wilayah tempat tinggalnya. Ia tidak ingin lahan yang menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga itu ikut hangus dilalap api.

Pengalaman menghadapi karhutla membuat Sumarni memahami bahwa kebakaran dapat mengancam kehidupan masyarakat dalam waktu singkat. Terlebih, warga yang menggantungkan penghasilan pada lahan memiliki risiko kehilangan sumber ekonomi ketika kebakaran meluas. Kini, setelah api berhasil dikendalikan, Sumarni bisa sedikit bernapas lega. Asap yang sebelumnya mengganggu aktivitas masyarakat juga berangsur berkurang.

“Alhamdulillah, sekarang asap kami sudah berkurang,” katanya.

Sumarni (39), warga Desa Gajahmati, Kecamatan Sungai Menang, Kabupaten Ogan Komering Ilir, bercerita tentang kebun sawitnya yang terancam karhutla. (Dok.APP)

2. Asap karhutla turut mengganggu aktivitas masyarakat

Ancaman karhutla tidak hanya dirasakan Sumarni. Rustam, seorang petani yang telah 17 tahun tinggal di Desa Gajamati, Sumatra Selatan, juga mengingat beberapa kejadian kebakaran di wilayahnya. Ia mengaku beberapa kali menyaksikan bantuan pemadaman melalui udara ketika kebakaran terjadi.

“Sering dibantu oleh heli,” ujar Rustam.

Bagi masyarakat, kebakaran bukan hanya mengancam lahan dan sumber penghasilan. Asap yang menyelimuti permukiman juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, upaya pengendalian kebakaran menjadi penting agar api tidak semakin meluas dan dampaknya tidak semakin besar bagi masyarakat.

3. Sumarni ingat bantuan pemadaman hingga kebutuhan pokok

Ketika kebakaran terjadi beberapa waktu lalu, Sumarni bersama warga Desa Gajahmati lainnya meminta bantuan kepada PT Bumi Mekar Hijau (BMH). Permintaan tersebut direspons melalui pengerahan helikopter untuk membantu pemadaman dari udara serta peminjaman peralatan guna mengendalikan api agar tidak terus menjalar.

Selain pemadaman, upaya pencegahan juga dilakukan melalui sosialisasi, patroli bersama masyarakat, dan imbauan agar warga tidak membuka lahan dengan cara membakar. Petugas perusahaan bersama kepolisian turut memberikan edukasi mengenai bahaya karhutla.

Sumarni juga mengingat bantuan kebutuhan pokok yang disalurkan kepada masyarakat. Bantuan tersebut berupa beras, minyak goreng, dan gula yang dibagikan hingga ke rumah-rumah warga. Rustam turut mengenang bantuan yang diterima masyarakat. Setiap rumah mendapatkan 20 kilogram beras, satu kilogram gula, dan satu liter minyak goreng.

Bagi Sumarni, bantuan tersebut menjadi bentuk perhatian ketika masyarakat sedang menghadapi situasi sulit. Ia juga mengingat hujan yang turun dan membantu memadamkan sisa-sisa api hingga kebakaran akhirnya dapat diatasi.

Meski kondisi kini berangsur membaik, pengalaman ketika kebun sawitnya terancam terbakar masih membekas dalam ingatannya. Ia menyadari bahwa karhutla dapat mengancam sumber penghidupan masyarakat, tetapi kepedulian dan bantuan yang datang juga memberikan arti tersendiri bagi warga.

Curated For You

Editorial Team

Related Article