Palembang, IDN Times - Bagi Sumarni (39), warga Desa Gajahmati, Kecamatan Sungai Menang, Kabupaten Ogan Komering Ilir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan api dan asap. Peristiwa tersebut pernah membuatnya cemas karena kebun sawit yang menjadi salah satu sumber penghidupan keluarganya terancam terbakar.
Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai guru honorer itu khawatir kehilangan investasi yang selama ini dibangunnya. Sebab, kebun sawit tersebut bukan hanya aset, tetapi juga menjadi salah satu tumpuan ekonomi keluarganya.
“Bisa menghabiskan investasi untuk hidup,” tutur Sumarni, mengenang kekhawatirannya ketika api mengancam kebun miliknya.
Sudah sekitar 15 tahun Sumarni tinggal di desanya. Selama itu, ia beberapa kali menyaksikan kebakaran terjadi di wilayah tempat tinggalnya. Namun, ketika api mulai mengancam kebun sendiri, rasa cemas yang dirasakan jauh lebih besar.